JAKARTA - Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan yang terus berkembang pesat. Dengan populasi yang besar dan pasar yang dinamis, peluang untuk membangun masa depan yang lebih baik semakin terbuka lebar.
Dua faktor utama yang berperan dalam mencapai kehidupan yang berkualitas adalah investasi dan gaya hidup.
Indonesia sedang bergerak menuju masa depan yang lebih cerah dengan strategi investasi yang berfokus pada kesejahteraan masyarakat. Pemerintah terus menarik investasi swasta yang dapat menciptakan peluang ekonomi dan lapangan kerja.
Sementara sektor publik tetap menjadi prioritas untuk meningkatkan layanan kesehatan, air bersih, dan sanitasi. Langkah ini tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.
Tingkat kemiskinan di Indonesia mencapai titik terendah dalam sejarah, yakni 8,57% pada September 2024. Definisi garis kemiskinan di Indonesia mengacu pada kebutuhan gizi dasar sebesar 2.100 kalori per orang per hari, dengan pengeluaran minimal Rp595.242 per kapita per bulan.
Dengan target ambisius untuk menghilangkan kemiskinan ekstrem pada tahun 2024, pemerintah telah berhasil menurunkan angka kemiskinan ekstrem menjadi 0,83% pada Maret 2024 dari 1,12% di tahun sebelumnya.
Menurut Ricardo Hausmann, pendiri dan direktur Harvard's Growth Lab, kemiskinan merupakan konsekuensi dari produktivitas yang rendah. Oleh karena itu, solusi yang paling efektif adalah dengan menciptakan ekonomi yang lebih inklusif dan menyediakan lapangan kerja berkualitas tinggi.
Hausmann menekankan pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Peningkatan PDB per kapita mencerminkan lebih banyak peluang kerja dan tingkat produktivitas yang lebih tinggi.
"Saya pikir pertumbuhan dan pengentasan kemiskinan adalah dua sisi mata uang yang sama. Dalam arti bahwa PDB per kapita yang lebih tinggi menyiratkan lebih banyak pekerjaan per kapita," kata Hausmann, saat ditemui di Hotel Shangrila, Jl. Karet Tengsin, Jakarta Pusat pada Selasa, 18 Februari.
"Jika Anda ingin berkembang, Anda membutuhkan lebih banyak pekerjaan dan memiliki pekerjaan untuk menjadi lebih produktif," lanjutnya.
BACA JUGA:
Paul Polman, seorang pemimpin bisnis dan juru kampanye, menyoroti pentingnya keberanian dalam mengambil keputusan dengan pandangan jangka panjang. Salah satu inisiatif yang mencerminkan hal ini adalah program Free Nutritious Meal (MBG) yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto.
Program ini bertujuan untuk mengatasi tantangan kekurangan gizi di kalangan masyarakat miskin dan memiliki dampak yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Di sisi lain, sektor swasta juga memiliki peran penting dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Arsjad Rasjid, Ketua Dewan Pembina Indonesian Business Council, menegaskan bahwa dunia usaha dapat turut serta dalam memastikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Dengan kerja sama antara sektor publik dan swasta, Indonesia dapat mencapai pertumbuhan yang tidak hanya tinggi tetapi juga inklusif.
Pembahasan lebih lanjut dibahas melalui acara Indonesia Economic Summit (IES) 2025, forum ekonomi berskala internasional untuk mendorong percepatan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. IES 2025 diselenggarakan pada 18-19 Februari 2025 di Hotel Shangri-La, Jakarta.
Terdapat 100 pembicara nasional dan internasional telah mengonfirmasi kehadirannya di IES 2025. Pembicara tersebut berasal dari Indonesia, Cina, US, Belanda, Singapura, Arab Saudi, Australia, Korea Selatan, Prancis, India, Jepang,Malaysia, Vietnam, dan Inggris.
Selain itu, lebih dari 1.000 pemimpin bisnis akan berpartisipasi di IES 2025. Partisipan IES 2025 berasal dari berbagai negara dengan 48 kebangsaan yang berbeda. IES 2025 juga dihadiri oleh tokoh-tokoh VIP seperti para CEO dan pimpinan perusahaan-perusahaan terkemuka Indonesia dan asing, serta perwakilan negara-negara asing dan organisasi internasional.