JAKARTA - Gaya hidup berkelanjutan kini bukan lagi sekadar pilihan, tetapi sudah menjadi bagian dari keseharian. Mulai dari kesadaran mengurangi plastik sekali pakai, memilih transportasi ramah lingkungan, hingga beralih ke sumber energi yang lebih bersih, semua adalah bagian dari perjalanan panjang menuju masa depan yang sehat.
Energi yang digunakan setiap hari, dari menyalakan lampu di rumah hingga mendukung aktivitas digital, sebenarnya sangat menentukan kualitas hidup generasi mendatang. Dalam konteks itu, peran gas muncul sebagai topik yang menarik.
"Gas akan tetap menjadi pilar penting yang berjalan berdampingan dengan energi terbarukan,” ujar Daniel S. Purba, Advisor IGS dari keterangan resmi Indonesian Gas Society (IGS).
Pandangannya sederhana namun kuat. Gas bukan sekadar sumber daya, tetapi fondasi yang akan membantu kita menjaga keseimbangan saat dunia bergerak menuju era energi hijau. Daniel menekankan pentingnya tindakan nyata.
"Melalui forum dan White Paper 2025, IGS menekankan eksekusi, efisiensi hulu–hilir, penguatan jaringan pipa & LNG, kepastian regulasi dan harga domestik, serta akselerasi teknologi rendah karbon,” jelasnya.
Menurutnya, perjalanan menuju energi bersih tidak bisa lagi ditunda. Energi bersih harus dimulai sekarang dengan langkah yang konkret. Ia mengingatkan Indonesia menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.
"Potensi gas dari Andaman dan Masela sangat besar dan strategis. Koordinasi institusional perlu diperkuat agar potensi tersebut tidak hanya menjadi angka, tetapi nyata di lapangan,” katanya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa sumber daya yang melimpah akan sia-sia tanpa kerja sama dan arah yang jelas.
"Jika koordinasi tidak dipercepat, cadangan gas hanya terkunci tanpa memberi manfaat optimal bagi pertumbuhan industri," ujarnya
Kutipan ini menjadi pengingat bahwa waktu adalah faktor penting dalam transisi energi. Apa yang tidak digerakkan sekarang, bisa jadi hilang nilainya di masa depan. Meski banyak tantangan, Daniel percaya bahwa jalannya sudah jelas.
"Gas harus berjalan bersamaan dengan energi terbarukan,” ujarnya.
Ia menyebut bukan hanya soal menjaga keberlanjutan, tetapi juga menciptakan harmoni antara teknologi, regulasi, dan gaya hidup masyarakat yang semakin sadar lingkungan.
Ia kemudian menegaskan kembali bahwa infrastruktur dan regulasi adalah bagian penting dari proses ini.
"Eksekusi efisiensi hulu-hilir, penguatan infrastruktur LNG dan jaringan pipa, kepastian regulasi, harga domestik, serta adopsi teknologi karbon rendah sangat krusial,” tambah Daniel.
Baginya semua hal tersebut bermuara pada visi yang lebih besar, yakni masyarakat yang hidup dalam keseimbangan dengan alam, tanpa harus kehilangan kenyamanan modern.
"Gas akan tetap menjadi pilar penting transisi energi rendah karbon menuju masa depan berkelanjutan,” tutupnya.
Lebih dari sekadar wacana, kutipan-kutipan Daniel menggarisbawahi bahwa energi kini bukan hanya urusan teknis atau industri, tetapi bagian dari gaya hidup yang kita jalani setiap hari.
Dari lampu yang menyala di ruang tamu, gadget yang menemani aktivitas, hingga kendaraan yang kita pilih untuk bepergian, semuanya berkaitan erat dengan bagaimana energi dihasilkan dan digunakan.
Transisi energi tidak lagi hanya tentang mengganti sumber daya, tetapi tentang membentuk pola pikir baru bahwa hidup selaras dengan lingkungan berarti memilih solusi yang efisien, inovatif, dan ramah bumi.
BACA JUGA:
Dengan perspektif itu, gas tidak hanya menjadi topik diskusi, melainkan salah satu elemen yang akan terus mendampingi kita dalam perjalanan panjang menuju gaya hidup berkelanjutan.