Bagikan:

JAKARTA - Palestina Festival (Palfest) 2025 sukses digelar pada Minggu, 12 Januari 2025, di Convention Hall SMESCO Indonesia, Jakarta.

Ratusan pengunjung tampak antusias menghadiri acara ini, menyaksikan pameran seni, pertunjukan musik, dan teater, serta lelang yang mengusung tajuk "All Eyes On Palestine".

Adara Relief International, sebuah lembaga kemanusiaan, menciptakan kolaborasi dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dalam penyelenggaraan acara ini. Sebagai daya tarik utama, Palfest memadukan tema kemanusiaan dengan unsur seni dan budaya, serta mengemas pertunjukan dalam konsep yang lebih modern untuk mengedukasi masyarakat mengenai sejarah penjajahan Palestina.

“Terjadi genosida, agresi sejak 2023, ini membuat kita harus fokus memperkenalkan Palestina itu secara khusus, dengan babaknya kita bagi 4,” kata Direktur Utama Adara Relief International, sekaligus aktivis kemanusiaan untuk Palestina, Maryam Rachmayani, saat konferensi pers pada Minggu, 12 Januari 2025.

“Yang pertama tentang tanah Palestina itu sangat indah, laut mediteranianya dan lainnya. Di babak kedua ada tentang pengambilan tanah, peristiwa nakbah, penduduk Palestina keluar dari tanah mereka sendiri. Babak berikutnya erase, mereka menghapus orang-orang palestina, dan babak terakhir itu ada hope dengan adanya puing-puing reruntuhan, ada harapan untuk kita tetap bisa membantu Palestina. Dan nantinya ada lelang yang merupakan kontribisi untuk membantu Palestina,” tambahnya.

Pada festival ini, di area pertunjukkan, pengunjung dapat menikmati berbagai galeri seni yang menghadirkan nuansa Palestina secara otentik dan mendalam. Salah satu daya tarik utama dalam pameran seni ini adalah penampilan warisan dan kebudayaan Palestina, seperti pakaian khas Palestina, Thobe, yang menjadi simbol kebudayaan dan identitas yang kuat.

Bukan hanya itu, pengunjung dapat menikmati suguhan hasil bumi dan hidangan autentik Palestina. Area ini mengajak pengunjung untuk menjelajahi sejarah Palestina melalui pameran yang menampilkan dokumentasi berupa foto dan instalasi interaktif. Sementara itu, ada pula area yang seolah menceritakan bagaimana realita Gaza saat ini, memberikan unsur dekat bagi para pengunjung yang hadir.

Maryam juga menyampaikan bahwa Palestine Festival diselenggarakan sebagai wujud kepedulian bangsa Indonesia terhadap perjuangan hak asasi manusia masyarakat Palestina dalam menghadapi genosida yang terjadi saat ini. Termasuk acara lelang yang digelar untuk donasi pada masyarakat Palestina.

“Acara ini digagas untuk memastikan kepada rakyat Gaza dan Palestina juga dunia bahwa mata kita semua bangsa Indonesia masih tertuju kepada Palestina, All Eyes on Palestine,” tuturnya.

Berbagai pertunjukan seni mewarnai puncak acara yang menceritakan transformasi kondisi Palestina sebelum dan setelah hadirnya penjajahan. Dialog penuh makna antara pendongeng ternama, Kak Ojan, bersama anaknya, Ata, mengawali rangkaian cerita.

Selain itu, ada pembacaan puisi karya penyair legendaris Palestina, Mahmoud Darwish, oleh Bella Fauzi, yang membawa pesan betapa indahnya Palestina. Kolaborasi pertunjukan teater dengan tim DKJ dan berbagai tayangan video semakin menghidupkan suasana, serta memberikan kesan mendalam kepada para penonton.

Suara tiga tokoh penting, yaitu Ikang Fawzi, Chiki Fawzi, dan juga Nurjanah Hulwani membangkitkan semangat para pengunjung di atas panggung festival. Ketiganya menyampaikan orasi kemanusiaan mengenai blokade, genosida di Gaza, serta kondisi masyarakat Palestina saat ini. Jose Rizal, Seorang sastrawan ternama dan aktor Indonesia juga ikut mewarnai panggung dengan puisi karyanya.

Tak ketinggalan, lantunan irama dari kelompok musik “Suara Untuk Palestina” semakin menciptakan suasana syahdu. Selain itu, Fadli “Padi” pelantun tembang “Kasih Tak Sampai”, musisi muda ternama, Adzando Davema, serta grup musik nasyid “Edcoustic” turut menghidupkan alur cerita dalam festival ini dengan penampilan mereka.