Bagikan:

YOGYAKARTA - Setelah kehidupan manusia di dunia berakhir, perjalanan manusia menuju akhirat akan dimulai. Untuk menuju akhirat, manusia harus melewati sejumlah tahapan terlebih dahulu. Simak tahapan perjalanan manusia menuju akhirat di bawah ini.

Dalam buku Wawasan Al-Qur'an, M. Quraish Shihab menyebutkan bahwa kehidupan setelah kematian sudah pasti ada. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surah Thaha ayat 15:

Innas-sā'ata ātiyatun akādu ukhfīhā litujzā kullu nafsim bimā tas'ā

Artinya: Sesungguhnya hari Kiamat itu (pasti) akan datang. Aku hampir (benar-benar) menyembunyikannya. (Kedatangannya itu dimaksudkan) agar setiap jiwa dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan.

Di bawah ini adalah tahapan-tahapan perjalanan manusia menuju Akhirat.

Perjalanan manusia menuju akhirat. (Unsplash)

Perjalanan Manusia Menuju Akhirat

Alam Barzah: Tahap Akhirat Pertama

Kehidupan baka yang dijanjikan oleh Allah berawal setelah manusia mengalami kematian. Setelah mengalami kematian, manusia akan memasuki tahap pertama menuju akhirat, yaitu alam barzah atau alam kubur.

Dikutip dari buku Wawasan Al-Qur'an, definisi 'barzah' menurut bahasa, berarti pemisah. Adapun para ulama memberi pengertian tentang alam barzah sebagai periode antara kehidupan dunia dan akhirat.

Quraish Shihab mengungkapkan bahwa saat di alam kubur, seorang yang sudah meninggal memungkinkannya untuk melihat kehidupan dunia dan akhirat, bagaikan keberadaan dalam suatu ruang terpisah yang tercipta dari kaca.

Mengenai alam barzah ini diungkapkan dalam suatu Riwayat, dikutip dari buku Makna Kematian Meuju Kehidupan Abadi oleh KH Muhammad Sholikhin:

“Ketika Utsman bin Affan berhenti di kuburan, beliau menangis sampai basah janggutnya. Lalu beliau ditanya oleh budak wanita miliknya yang bernama Hani, 'Engkau mengingat surga dan neraka tidak menangis. Namun saat mengingat kubur, engkau menangis. Mengapa?'

Utsman menjawab, 'Aku mendengar Rasulullah saw., bersabda bahwa kubur adalah rumah akhirat pertama. Bila selamat di kubur, maka setelahnya menjadi mudah; bila tidak selamat di kubur, maka setelahnya menjadi lebih sulit. Aku juga mendengar Rasulullah bersabda, "Aku tidak melihat satu pemandangan pun yang lebih menakutkan dari kuburan." (HR Tirmidzi & Ibnu Majah)

  1. Hari Kiamat: Peniupan Sangkakala Pertama

Dalam Surah Az-Zumar ayat 68 dijelaskan:

Wa nufikha fiṣ-ṣụri fa ṣa'iqa man fis-samāwāti wa man fil-arḍi illā man syā`allāh,

Artinya: Sangkakala pun ditiup sehingga matilah semua (makhluk) yang (ada) di langit dan di bumi, kecuali mereka yang dikehendaki Allah.

Ketika peniupan sangkakala ini, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa akan terjadi kehancuran alam semesta beserta isinya. Para makhluk akan mati, dan yang dikecualikan di antaranya adalah Malaikat Israfil. Sebab ia masih harus meniupkan sangkakala yang kedua kalinya.

  1. Hari Kebangkitan: Sangkakala Kedua Ditiupkan

Lanjutan ayat dari Surah Az-Zumar ayat 68:

ṡumma nufikha fīhi ukhrā fa iżā hum qiyāmuy yanẓurụn

Artinya: Kemudian, ia ditiup sekali lagi. Seketika itu, mereka bangun (dari kuburnya dan) menunggu (keputusan Allah).

Quraish Shihab mengungkapkan, pada fase ini, manusia dari zaman Nabi Adam AS hingga manusia yang terakhir mati, seluruhnya akan dibangkitkan kembali dari kuburnya. Mereka akan digiring oleh para malaikat dan penyaksi ke padang mahsyar, yang menjadi tempat berkumpul untuk pengadilan Allah SWT. Dalam surat Qur’an yang lain dijelaskan:

Wa jā`at kullu nafsim ma'ahā sā`iquw wa syahīd

Artinya: Lalu, setiap orang akan datang bersama (malaikat) penggiring dan saksi. (QS. Qaf: 21)

Yauma tasy-hadu 'alaihim alsinatuhum wa aidīhim wa arjuluhum bimā kānụ ya'malụn

Artinya: pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. An-Nur: 24)

  1. Hari Penimbangan Amal

Selanjutnya terjadilah hari pengadilan Allah seperti yang dikutip buku Wawasan Al-Qur'an, di mana segala perbuatan manusia ditentukan dengan 'timbangan' yang benar tanpa ada kesalahan sedikit pun. Dari amalan terkecil hingga yang besar semuanya ditimbang, agar tidak ada yang merasa tertindas. Hal ini dijelaskan dalam Surah Al-A'raf ayat 8-9:

Wal-waznu yauma`iżinil-ḥaqq, fa man ṡaqulat mawāzīnuhụ fa ulā`ika humul-mufliḥụn Wa man khaffat mawāzīnuhụ fa ulā`ikallażīna khasirū anfusahum bimā kānụ bi`āyātinā yaẓlimụn.

Artinya: Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang beruntung. Siapa yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.

  1. Menuju Surga atau Neraka

Quraish Shihab selanjutnya menjelaskan, setelah dari padang mahsyar, manusia meneruskan perjalanan antara ke surga atau neraka, sesuai timbangan amal mereka. Dalam sejumlah ayat Al-Qur'an termaktub bahwa perjalanan menuju keduanya terlebih dahulu melalui shirath, di antaranya pada Surah Maryam ayat 71-72:

Wa im mingkum illā wāriduhā, kāna 'alā rabbika ḥatmam maqḍiyyā ṡumma nunajjillażīnattaqaw wa nażaruẓ-ẓālimīna fīhā jiṡiyyā.

Artinya: Tidak ada seorang pun di antaramu yang tidak melewatinya (sirat di atas neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalah ketentuan yang sudah ditetapkan. Selanjutnya, Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalamnya (neraka) dalam keadaan tersungkur.

Jumhur ulama berfatwa bahwa shirath berupa jalan atau jembatan yang harus dilalui setiap orang untuk menuju surga. Adapun di bawah jalan ini, ada semua tingkatan neraka dengan apinya yang bergejolak.

Orang-orang mukmin akan melewati shirath tersebut dan sampai di surga dengan berbagai kecepatan sesuai kualitas ketakwaannya kepada Allah. Adapun orang musyrik, akan terjatuh ke dalam neraka sesuai dengan kedurhakaannya.

Demikian ulasan tentang perjalanan manusia menuju akhirat. Semoga kita menjadi orang-orang yang diberi anugrah oleh Allah Swt. Semoga bermanfaat. Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.