5 Alasan Kenapa <i>Emotional Eating</i> Kerap Dialami ketika Stres
Ilustrasi emotional eating saat stres (Pexels/Pavel Danilyuk)

Bagikan:

JAKARTA – Ketika suasana hati sedang buruk, setoples keripik sedikit membantu mengalihkan. Ini disebut sebagai emotional eating. Makan emosional didefinisikan sebagai makan makanan tinggi lemak, baik rasa asin pun manis untuk menenangkan emosi negatif.

Cara ini tergolong tidak sehat untuk mengatasi stres, dilansir Psychology Today, Jumat, 4 Maret. Pasalnya, makan emosional berkontribusi pada obesitas, kelebihan gula, dan menciptakan risiko penyakit jantung, diabetes, serta depresi. Menurut Melanie Greenberg, Ph.D., psikolog klinis berlisensi dan penulis The Stress-Proof Brain, berikut 5 alasan kenapa emotional eating kerap dialami saat stres.

1. Kurangnya waktu atau uang

Ketika stres melanda, umumnya seseorang memiliki banyak agenda dengan waktu yang terbatas. Bahkan mereka memiliki sedikit waktu untuk self-care. Karena waktu terbatas, tidak punya banyak waktu untuk makan di siang hari sehingga tak punya kesempatan memilih makanan sehat apalagi menyiapkannya sendiri. Alhasil, makanan cepat saji dan sekantong kue jadi alternatif yang menggiurkan.

Menurut survei yang dilakukan APA pada 2014, menemukan kelangkaan uang menyebabkan seseorang bisa memilih makanan olahan yang lebih mudah, tinggi lemak, garam, dan gula dibanding sayuran serta buah yang harganya lebih mahal.

emotional eating saat stres
Ilustrasi emotional eating saat stres (Pexels/Pavel Danilyuk)

 

2. Tak perhatikan kebutuhan yang menyehatkan

Banyak tugas dan harus segera menyelesaikannya membuat kita terburu-buru dan stres. Respons otak fight-or-flights mendesak untuk terus menjalankan tugas tanpa istirahat. Ini membuat seseorang jadi tak memperhatikan apa uang dilakukannya termasuk tak menyadari sudah makan empat potong pizza. Pada kondisi ini, otak cenderung tidak menangkap bahwa Anda sudah kenyang sehingga makan berlebihan.

3. Karena tidur kurang

Stres, menurut survei, sering membuat seseorang susah tidur atau terbangun malam hari. Kurang tidur dapat mengganggu fungsi leptin dan ghrelin, senyawa kimia tubuh yang mengontrol nafsu makan. Ini yang pula yang membuat seseorang jadi pemarah. Tertekan juga membuat kita cenderung suka lari ke lemari pendingin dan mencari makanan untuk menenangkan perasaan.

4. Kortisol membuat Anda merasa lebih lapar

Meningkatnya hormon adrenalin dan kortisol merupakan efek dari stres. Bahan kimia ini mempersiapkan untuk melawan penyerang atau melarikan diri. Dalam jangka waktu pendek, adrenalin membantu Anda merasa kurang lapar. Begitu efek adrenalin hilang, kortisol memberi sinyal pada tubuh untuk disuplai makanan. Akibatnya, Anda merasa lebih lapar dan berpotensi makan tanpa pertimbangan.

5. Metabolisme menurun

Metabolisme tubuh menurun ketika stres. Sehingga lebih banyak glukosa yang siap untuk diolah menjadi energi. Maka saat banyak tugas yang perlu diselesaikan dengan sedikit waktu untuk makan. Akhirnya sekalian makan banyak tetapi penyesalan hadir ketika lingkar perut melebar.

Kelebihan lemak perut juga melepaskan bahan kimia yang menyebabkan peradangan. Ini berdampak pada kesehatan secara keseluruhan.

Greenberg memberikan saran, pertama, makanlah secara teratur sesuai jadwal. Kemudian rencanakan menu makanan Anda, dan makan dengan penuh perhatian. Disamping itu, ia menyarankan untuk mengelola stres secara sehat alih-alih mengonsumsi makanan maupun minuman yang membahayakan kesehatan.