Bagikan:

JAKARTA - Paparan mikroplastik kini bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan telah menjadi perhatian serius dalam dunia kesehatan, terutama bagi kelompok paling rentan seperti bayi. Sebuah laporan ilmiah terbaru mengungkap bahwa mikroplastik dapat masuk ke tubuh bayi melalui berbagai cara yang sebelumnya tidak banyak disadari, bahkan sejak hari-hari pertama kehidupan mereka.

Laporan berjudul Exploring Everyday Microplastic Exposures yang ditulis oleh Dr. Heather Leslie menunjukkan bahwa sumber paparan mikroplastik tidak hanya berasal dari polusi lingkungan, tetapi juga dari benda-benda yang digunakan dalam perawatan bayi sehari-hari, termasuk di fasilitas medis.

“Paparan terjadi sepanjang waktu, tidak hanya dari produk yang kita kenali, tetapi juga dari sistem dan proses yang sebagian besar orang tidak pernah bayangkan,” ujar Dr. Heather Leslie dalam laporannya, dikutip dari laman Euro News.

Salah satu temuan paling mengejutkan dalam studi ini adalah adanya mikroplastik dalam prosedur medis yang digunakan untuk merawat bayi prematur. Bayi yang dirawat di unit neonatal dan menerima nutrisi melalui infus ternyata berisiko terpapar mikroplastik dari selang dan sistem infus itu sendiri.

Menurut laporan tersebut, bayi prematur dapat menerima hingga 115 partikel mikroplastik dalam waktu 72 jam hanya dari rangkaian alat infus.

Selain itu, berbagai perangkat medis seperti kateter, implan silikon, hingga cairan infus juga disebut sebagai potensi sumber paparan mikroplastik yang tidak disengaja.

Paparan mikroplastik juga terjadi di lingkungan rumah. Studi tersebut menemukan bahwa susu formula bayi dapat mengandung mikroplastik yang berasal dari kemasan, dengan kisaran paparan dari kurang dari 1 hingga 17 partikel per gram.

Tidak hanya itu, produk-produk bayi seperti botol, alas bermain, dan mainan juga dapat melepaskan partikel plastik mikroskopis ke udara dan permukaan sekitar.

“Ini bukan hanya soal limbah atau pencemaran lingkungan, tetapi tentang bahan yang digunakan produsen dalam kehidupan kita, dan partikel yang terus mereka lepaskan ke ruang tempat kita hidup,” jelas Leslie.

Bayi dan anak-anak memiliki risiko paparan yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor biologis dan perilaku, seperti:

- Menghirup lebih banyak udara per kilogram berat badan

- Sering memasukkan tangan atau benda ke dalam mulut

- Lebih banyak terpapar debu saat bermain di lantai

Kondisi ini membuat mikroplastik lebih mudah masuk ke dalam tubuh mereka, baik melalui pernapasan maupun pencernaan.

Mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh dapat menumpuk di organ dan berpotensi menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Studi tersebut mengaitkan paparan mikroplastik dengan peradangan, kerusakan sel, gangguan kardiovaskular, dan peningkatan risiko kanker.

Meskipun dampak jangka panjangnya masih terus diteliti, para ilmuwan sepakat bahwa paparan sejak usia dini merupakan hal yang perlu diwaspadai.

Laporan ini menyerukan perlunya pendekatan kehati-hatian dari pembuat kebijakan dan industri. Penggunaan plastik yang terlalu luas dalam berbagai aspek kehidupan dinilai perlu dikaji ulang.

“Ketika plastik berhenti menjadi jawaban untuk hampir setiap pertanyaan desain, mulai dari kantong teh hingga mainan, manusia dapat mulai meredam badai mikroplastik." pungkas Leslie.

Selain itu, masyarakat juga didorong untuk mengambil langkah sederhana dalam mengurangi paparan, seperti memilih produk non-plastik, menghindari pemanasan makanan dalam wadah plastik, serta menjaga kebersihan lingkungan rumah.