Bagikan:

JAKARTA - Lingkungan keluarga yang aman dan harmonis menjadi faktor penting dalam tumbuh kembang anak, terutama untuk menjaga kesehatan mental mereka. Di saat anak hidup dalam suasana rumah tangga yang penuh konflik, risiko munculnya gangguan psikologis dapat meningkat.

Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana Provinsi Banten mencatat sebanyak 226 anak mengalami kekerasan psikis sepanjang 2025. Sebagian besar kasus tersebut dipicu oleh konflik yang terjadi di dalam keluarga.

Kepala DP3AKB Banten, Iwan Aridiansyah Sentono, menjelaskan gangguan psikologis pada anak kerap muncul akibat kondisi rumah tangga yang tidak harmonis, terutama ketika anak menyaksikan pertengkaran orang tua secara langsung.

Berdasarkan data dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni-PPA), kasus tertinggi tercatat di Kota Tangerang Selatan dengan 112 kasus, disusul oleh Kota Cilegon yang mencatat 54 kasus.

“Terkadang anak itu melihat pertengkaran orang tua yang terus-menerus, bahkan melihat langsung ibunya dipukul oleh ayahnya. Kondisi tersebut secara otomatis mengganggu kondisi psikis anak,” ujar Iwan.

Selain kekerasan fisik dalam rumah tangga, kekerasan verbal juga menjadi faktor yang sering terjadi. Ucapan kasar atau makian yang merendahkan dapat membuat anak mengalami penurunan rasa percaya diri atau loss of confidence.

Iwan menjelaskan dampak dari trauma psikis pada anak sering kali tidak terlihat secara langsung. Dalam banyak kasus, orang tua baru menyadari adanya masalah setelah anak menunjukkan perubahan perilaku yang cukup signifikan, misalnya menjadi lebih pendiam atau menjauh dari lingkungan sosial.

Untuk membantu para korban, DP3AKB Banten menyediakan berbagai layanan pendampingan. Bentuk bantuan tersebut antara lain konseling dengan psikolog profesional serta penyediaan rumah aman bagi anak yang mengalami trauma berat.

“Pendampingan kami berikan sesuai kebutuhan pelapor. Fokus utamanya adalah memulihkan kesehatan mental anak agar mereka bisa kembali memiliki rasa percaya diri dan tumbuh dengan normal,” kata Iwan.