YOGYAKARTA - Urin berwarna pekat saat puasa sering membuat orang khawatir, terutama ketika menjalani puasa Ramadan yang polanya mirip intermittent fasting. Apakah ini normal, atau tanda tubuh kekurangan cairan?
Intermittent fasting biasanya bertujuan kesehatan atau penurunan berat badan. Sementara puasa Ramadan adalah ibadah wajib bagi umat Islam yang dilakukan dari fajar hingga magrib.
Meski berbeda tujuan, pola keduanya sama yaitu tubuh tidak menerima asupan kalori selama beberapa jam. Di sinilah berbagai manfaat dan efek samping bisa muncul.
Dilansir VOI dari laman Healthline, berikut beberapa fakta menarik terkait puasa dan pengaruhnya pada tubuh yang perlu Anda ketahui:
Manfaat Kesehatan Puasa
Sejumlah penelitian mengaitkan intermittent fasting dengan beberapa manfaat kesehatan. Menariknya, sebagian manfaat ini juga bisa dirasakan saat puasa Ramadan jika pola makan tetap terjaga. Beberapa manfaat tersebut antara lain:
- Potensi penurunan berat badan
- Peningkatan sensitivitas insulin
- Kontrol gula darah lebih baik
- Penurunan tekanan darah
- Penurunan faktor risiko penyakit jantung
- Berkurangnya stres oksidatif
Secara sederhana, ketika tubuh tidak mendapat asupan makanan, ia mulai menggunakan cadangan energi. Lemak dibakar dan metabolisme beradaptasi. Namun, manfaat ini tidak otomatis terjadi. Pola makan saat berbuka dan sahur tetap menjadi kunci.
BACA JUGA:
Mengapa Urin Berwarna Pekat Saat Puasa?
Urin berwarna pekat saat puasa terjadi karena tubuh mengalami penurunan asupan cairan selama beberapa jam, yaitu mulai dari fajar hingga magrib.
Perlu Anda ketahui, saat berpuasa tubuh tidak minum sama sekali, sehingga tubuh mulai menggunakan cadangan cairan yang tersisa untuk menjaga fungsi organ vital.
Ketika cairan dalam tubuh berkurang, ginjal akan bekerja lebih keras untuk menghemat air, dengan cara mengeluarkan urine dalam jumlah lebih sedikit tetapi lebih pekat.
Nah, warna pekat ini disebabkan oleh konsentrasi zat sisa metabolisme, seperti urea dan garam mineral yang meningkat karena air sebagai pelarutnya berkurang. Selain itu, ada beberapa faktor tambahan yang memperparah kondisi ini di antaranya:
- Cuaca panas dan aktivitas fisik tinggi, yang membuat tubuh banyak kehilangan cairan melalui keringat.
- Kurang minum air saat sahur dan berbuka, sehingga kebutuhan cairan harian tidak tercukupi.
- Konsumsi kafein berlebihan (kopi atau teh) saat sahur, yang bersifat diuretik dan membuat tubuh lebih cepat kehilangan cairan.
- Kurangnya asupan buah dan sayur yang mengandung air alami.
Baca juga artikel yang membahas Nutrisi Penting saat Puasa yang Harus Diperhatikan
Secara umum, urin berwarna kuning muda hingga sedang masih tergolong normal selama puasa. Namun, jika warna berubah menjadi kuning tua hingga cokelat pekat, maka waspada karena bisa menjadi tanda dehidrasi sedang hingga berat.
Kondisi ini bisa dihindari dengan memastikan pola minum yang cukup di waktu sahur dan berbuka, misalnya dengan aturan 2-4-2: dua gelas saat berbuka, empat gelas di malam hari, dan dua gelas saat sahur.
Puasa Ramadan dan intermittent fasting memiliki kemiripan dalam pola waktu makan. Keduanya dapat memberi manfaat kesehatan, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek samping.
Termasuk urin berwarna pekat saat puasa yang sering menjadi tanda tubuh kekurangan cairan. Perhatikan asupan minum saat sahur dan berbuka agar kondisi ini tidak berlanjut.