Bagikan:

JAKARTA – Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) merayakan hari jadinya yang ke-37 dengan mengusung misi besar mempercepat terciptanya ekosistem kesehatan yang suportif bagi penyintas stroke. Melalui temaDengan Semangat di Tahun Baru 2026, Yastroki Membangun Kolaborasi Menuju Indonesia Ramah Stroke”, Yastroki menekankan pentingnya peran keluarga sebagai garda terdepan dalam deteksi dini dan penanganan cepat serangan stroke.

Data kesehatan menunjukkan bahwa stroke masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat Indonesia. Merujuk pada Profil Kesehatan Indonesia, stroke menempati peringkat kedua penyebab kematian tertinggi setelah penyakit jantung. Dengan estimasi 500.000 kasus baru setiap tahunnya, 70% hingga 80% penyintas stroke harus menghadapi disabilitas permanen yang berdampak pada kualitas hidup dan produktivitas nasional.

Ketua Umum Yastroki, Mayjen TNI (Purn) Dr. dr. Tugas Ratmono, Sp.N, MARS, MH, dalam sambutannya menekankan bahwa kunci menekan angka kematian dan kecacatan akibat stroke adalah kecepatan waktu penanganan (time is brain).

"Memasuki usia ke-37, Yastroki tidak hanya ingin menjadi wadah edukasi, tetapi juga penggerak kolaborasi. Kita ingin mewujudkan 'Indonesia Ramah Stroke'. Hal ini dimulai dari keluarga. Jika setiap anggota keluarga mampu melakukan deteksi dini dan segera membawa pasien ke fasilitas kesehatan yang tepat, kita bisa menyelamatkan banyak nyawa dan mencegah kecacatan permanen," ujar Dr. dr. Tugas Ratmono.

Beliau menambahkan bahwa Yastroki terus mendorong lahirnya peran Stroke Helper di tingkat Rukun Warga (RW). Relawan ini diharapkan menjadi penyambung lidah untuk mengarahkan pasien dengan tanda-tanda stroke ke "Rumah Sakit Ramah Stroke" yang memiliki fasilitas penanganan komprehensif.

Fokus pada Deteksi Dini dan Edukasi

Sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-37, Yastroki menyelenggarakan Talk Show hibrida bertajukDeteksi Dini Stroke di Dalam Keluarga dan Penanganannyabertempat di Prodia Tower, Jakarta Pusat. Kegiatan ini bertujuan membekali masyarakat dengan pemahaman mengenai faktor risiko stroke seperti hipertensi (yang diderita 25-30% orang dewasa), diabetes, serta pola makan yang tidak sehat.

Mengingat prevalensi stroke di Indonesia mencapai 10 per 1.000 penduduk, Yastroki berkomitmen untuk terus bermitra dengan Kementerian Kesehatan RI dan berbagai pemangku kepentingan. Fokus utama di tahun 2026 adalah memperluas jangkauan edukasi ke seluruh cabang Yastroki di Indonesia guna mengendalikan angka morbiditas (kesakitan) dan mortalitas (kematian) akibat stroke.

“Harapan kami, perayaan ke-37 tahun ini menjadi momentum bagi semua pihakpemerintah, tenaga kesehatan, hingga komunitasuntuk bersinergi. Stroke bisa dicegah dan dampak buruknya bisa diminimalisir jika kita berkolaborasi secara nyata,” tutup Dr. dr. Tugas Ratmono.