JAKARTA - Peneliti asal Jepang tengah mengembangkan penelitian yang terdengar tak lazim, yaitu kemungkinan manusia bisa bernapas lewat anus. Meski terdengar seperti lelucon, riset ini justru berangkat dari kebutuhan medis serius, menyelamatkan pasien yang mengalami kekurangan oksigen ketika paru-paru tidak lagi bekerja optimal.
Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Takanori Takebe, dokter dan ahli biologi sel punca yang bekerja di Cincinnati Children’s Hospital Medical Center, Amerika Serikat, serta Universitas Osaka, Jepang. Ketertarikannya pada metode pernapasan alternatif muncul dari pengalaman pribadi saat ayahnya menderita pneumonia berat dan harus dipasang ventilator.
“Saya benar-benar terkejut melihat betapa invasifnya prosedur ventilator,” ujar Takebe, dikutip dari laman Science News.
"Saat itu saya berpikir, apakah tidak ada cara lain untuk memasukkan oksigen ke tubuh tanpa melibatkan paru-paru?” lanjutnya.
Ide ini bermula ketika Takebe menemukan referensi tentang beberapa hewan yang mampu menyerap oksigen melalui bagian tubuh selain paru-paru. Misalnya ikan air tawar jenis loach bisa menelan udara dan menyerap oksigen lewat saluran pencernaannya saat hidup di perairan minim oksigen.
“Di alam, banyak organisme yang bernapas dengan cara yang tidak biasa. Itu membuat kami bertanya, mengapa konsep serupa tidak mungkin diterapkan pada manusia?” jelas Takebe.
Sebagai dokter dengan latar belakang gastroenterologi, Takebe mengetahui usus manusia kaya akan pembuluh darah. Fakta ini selama ini dimanfaatkan dalam pemberian obat lewat enema. Dari situlah muncul hipotesis oksigen mungkin diserap melalui saluran pencernaan.
Tim peneliti kemudian mengembangkan metode berupa enema menggunakan cairan bernama perfluorodecalin. Cairan ini mampu mengikat oksigen dalam jumlah besar dan secara bertahap melepaskannya ke aliran darah, sekaligus menyerap karbon dioksida.
Dalam percobaan pada tikus dan babi, metode ini terbukti mampu meningkatkan kadar oksigen darah dan membantu hewan bertahan dalam kondisi hipoksia atau kekurangan oksigen.
“Saya masih ingat saat melihat warna darah babi berubah dari merah gelap menjadi merah cerah. Itu momen ketika saya sadar, ide gila ini mungkin benar-benar berhasil," beber Takebe.
Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Med dan bahkan mengantarkan timnya meraih Ig Nobel Prize 2024, penghargaan sains untuk penelitian yang tampak aneh tetapi memicu pemikiran serius.
Langkah berikutnya adalah menguji keamanan metode ini pada manusia. Sebanyak 27 pria sehat di Jepang menerima perfluorodecalin tanpa oksigen melalui anus dengan dosis bervariasi.
Sebagian peserta yang menerima dosis besar mengalami nyeri perut, namun mayoritas hanya merasakan kembung ringan.
SEE ALSO:
“Secara umum, metode ini dapat ditoleransi dengan cukup baik. Ini menjadi langkah awal sebelum menguji versi cairan yang mengandung oksigen," tulis tim peneliti dalam laporannya.
Meski menarik perhatian dunia, penelitian ini tidak luput dari kritik. John Laffey, pakar gangguan pernapasan dari Universitas Galway, Irlandia, menilai pendekatan ini sulit diterapkan secara praktis.
“Paru-paru, bahkan yang rusak sekalipun, tetap jauh lebih efisien dalam pertukaran gas dibanding organ lain. Kebutuhan oksigen manusia terlalu besar untuk dipenuhi lewat metode ini," ujarnya.
Namun, Dr. Kevin Gibbs, dokter paru dari Wake Forest University melihat potensi penggunaan terbatas dalam situasi darurat.
“Jika metode ini bisa memberi tambahan oksigen sementara, misalnya saat dokter sedang memasang ventilator, dampaknya bisa sangat besar,” kata Gibbs.
Takebe menegaskan penelitiannya tidak dimaksudkan untuk menggantikan fungsi paru-paru, melainkan sebagai solusi tambahan dalam kondisi tertentu.
“Mungkin ini bisa digunakan dalam situasi darurat, saat pemindahan pasien atau ketika alat bantu napas belum tersedia,” jelasnya.
"Masih butuh waktu bertahun-tahun dan uji klinis lanjutan sebelum bisa diterapkan secara luas," lanjutnya.
Saat ditanya pendapat ayahnya tentang penelitian ini, Takebe tersenyum.
“Ayah saya senang dan selalu bercanda ingin ikut jadi relawan. Dukungan itu sangat berarti, meskipun tentu saja tidak mungkin dilakukan." imbuhnya.