Dikutip dari laman WHO, hal tersebut dilakukan karena terlepas dari kemunduran pendanaan, respons HIV global telah memperoleh momentum luar biasa di tahun 2025. Ini berkat penggunaan lenacapavir, suntik dua kali setahun untuk pencegahan HIV.
Lenacapavir (LEN) merupakan alternatif yang sangat efektif dan bekerja lama untuk pil oral dan pilihan lainnya. Ini intervensi transformatif bagi orang-orang yang menghadapi tantangan dengan kepatuhan reguler dan stigma dalam mengakses perawatan terkait HIV/AIDS.
“Kami menghadapi tantangan yang signifikan dengan pemotongan pendanaan internasional, dan penghentian pencegahan,” kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.
“Pada saat yang sama, kami memiliki peluang yang signifikan dengan alat-alat baru yang menarik dengan potensi untuk mengubah lintasan epidemi HIV,” tambahnya.
BACA JUGA:
Tedros mengatakan bahwa misi saat ini adalah untuk semakin memperluas akses LEN kepada orang-orang yang berisiko HIV. Dalam melakukannya, dibutuhkan dukungan dari pemerintah tiap negara dan berbagai mitra.
“Memperluas akses ke alat-alat tersebut untuk orang-orang berisiko HIV di mana-mana harus menjadi prioritas nomor satu untuk semua pemerintah dan mitra,” tegasnya.
Sementara itu, WHO prakualifikasi LEN untuk pencegahan HIV pada 6 Oktober 2025 lalu, diikuti oleh persetujuan peraturan nasional yang meningkatkan akses ke Afrika Selatan, Zimbabwe, dan Zambia.
WHO juga bekerja sama dengan mitra seperti CIFF, Gates Foundation, Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria, dan Unitaid, untuk memungkinkan akses LEN yang terjangkau ke berbagai negara.
Kerja sama tersebut juga untuk memastikan obat-obatan HIV jangka panjang untuk pencegahan dan pengobatan mencapai populasi risiko tinggi harus menjadi prioritas global.