Bagikan:

JAKARTA - Angka Kesuburan Total (Total Fertility Rate/TFR) Malaysia mengalami penurunan tajam menjadi 1,7 anak per perempuan pada 2023, turun dari 4,0 anak per perempuan pada 1980.

Menurut Lembaga Penduduk dan Pembangunan Keluarga Negara (LPPKN), penurunan ini menandakan adanya perubahan demografi menuju populasi yang menua, sedangkan pada generasi muda terjadi krisis demografi lantaran tak sedikit yang menunda memiliki anak. 

Direktur Jenderal LPPKN, Datuk Abdul Shukur Abdullah, menjelaskan penurunan ini dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup, meningkatnya biaya hidup, penundaan pernikahan, serta kecenderungan masyarakat untuk memiliki keluarga yang lebih kecil.

"Peningkatan partisipasi perempuan dalam pendidikan tinggi dan dunia kerja juga memengaruhi keputusan dalam perencanaan keluarga," ujar Abdul Shukur, dikutip dari laman The Star.

"Di saat yang sama, tekanan finansial, prioritas karier, masalah kesehatan reproduksi, dan infertilitas menjadi faktor penting yang harus ditangani secara menyeluruh," lanjutnya.

Pernyataan ini disampaikan melalui Direktur Divisi Penelitian, Kependudukan, dan Keluarga LPPKN, Adzmel Mahmod, pada Seminar Kependudukan Perlis 2025 yang diadakan bertepatan dengan Hari Penduduk Sedunia di Arau, Senin, 11 Agustus 2025.

Untuk mengatasi penurunan tingkat kelahiran, Abdul Shukur mengatakan pemerintah telah melaksanakan inisiatif Bantuan Rawatan Kesuburan dan Advokasi Infertilitas (Buai), yang mencakup bantuan seperti intra-uterine insemination (IUI) guna meningkatkan angka kelahiran sekaligus memperluas kesadaran masyarakat terkait masalah kesuburan.

Ia menambahkan bahwa TFR Perlis pada 2023 berada di angka 1,7, dan jumlah kelahiran hidup juga menurun dari 4.392 pada 2016 menjadi 3.878 pada 2024.

"Seminar ini tepat waktunya untuk membahas kebijakan dan strategi memperlambat penurunan tingkat kesuburan, serta mempersiapkan Perlis menghadapi perubahan demografi yang cepat melalui program yang berfokus pada tiga pilar, yaitu kependudukan, pembangunan keluarga, dan reproduksi manusia." pungkasnya.