JAKARTA - Sebuah studi mengungkapkan fenomena perceraian yang terjadi pada orang dewasa yang lebih tua. Studi yang diterbitkan dalam Journal of Marriage and Family itu mengungkap bahwa pria cenderung menggugat cerai jika istrinya sakit.
Hasil studi tersebut diperoleh menggunakan data selama 18 tahun, mulai dari tahun 2004 sampai 2022. Terdapat 25.542 pasangan heteroseksual Eropa berusia 50 hingga 64 tahun yang dianalisis.
Pada hasil studi ditunjukkan bahwa ketika istri jatuh sakit atau mengalami keterbatasan fisik, tingkat perceraian pasangan suami istri mulai meningkat. Namun, risiko perceraian ini tidak meningkat jika sang suami yang menderita sakit.
“Sebaliknya, risiko perceraian tidak berubah secara signifikan ketika pria mengalami kesehatan yang dinilai buruk atau keterbatasan aktivitas dibandingkan dengan pasangan yang kesehatannya baik,” kata penulis studi, dikutip dari SCMP, pada Kamis, 10 Juli 2025.
Psikolog Amerika, Mark Travers, berpendapata bahwa hasil studi ini sebagian besar disebabkan oleh peran gender yang telah terbentuk selama beberapa dekade. Sejak dini, perempuan telah memikul beban tanggung jawab yang tidak adil di rumah dan diharapkan memiliki keterampilan domestik sepenuhnya.
“Harapan mendalam bahwa seorang istri akan selalu memastikan rumah tangga berjalan lancar begitu mengakar, sehingga setiap penyimpangan dari peran ini dapat terasa seperti atau dianggap sah, sebagai keretakan dalam ikatan pernikahan,” tuturnya.
Sementara itu, ini bukan studi pertama yang menunjukkan bahwa pernikahan lebih mungkin berakhir ketika seorang istri sakit parah dibandingkan ketika sang suami yang sakit.
BACA JUGA:
Dalam studi terhadap orang-orang yang telah menikah dan didiagnosis menderita tumor otak atau multiple sclerosis, pasangannya lebih mungkin untuk ditinggalkan jika yang menderita sakit adalah sang istri.