JAKARTA - Penyanyi-penulis lagu Eileen Pandjaitan yang punya nama panggung Ei, melanjutkan perjalanan musiknya lewat single terbaru berjudul “Shooting Star”.
Nomor pop-ballad yang ditulis Ei ini jadi karya kedua yang diperkenalkan tahun ini, setelah “Nothing Left For You” yang dirilis Oktober lalu.
“Shooting Star” membawa cerita tentang kehilangan yang belum benar-benar selesai—tentang seseorang yang terus kembali ke tempat yang sama, dengan harapan kecil bahwa keajaiban masih mungkin terjadi.
Ei menuturkan, single barunya kali ini lahir dari ruang yang sangat personal, yang mana menjadi wadah bagi kata-kata yang tak pernah menemukan keberanian untuk diucapkan.
“’Shooting Star’ itu semacam percakapan batin yang enggak pernah sempat tersampaikan. Ada banyak hal yang pengen aku bilang, tapi akhirnya cuma bisa aku tulis,” kata Ei melalui keterangan tertulis, Rabu, 17 Desember.
Kisah Seorang Introvert
Ei yang menempuh pendidikan di Berklee College of Music sejak mendapat beasiswa pada tahun 2022, mengakui dirinya sebagai seorang introvert. Baginya, musiknya menjadi ruang untuk mengekspresikan diri secara personal, yang bukan sekedar estetis, namun juga reflektif.
“Bisa dibilang aku tuh introvert. Musik itu jadi tempat paling aman buat cerita. Kalau aku duduk sama piano, biasanya semua rasa mengalir keluar dengan sendirinya,” ujar dara 22 tahun itu.
Meski tidak secara eksplisit menyebut “Shooting Star” berasal dari pengalaman pribadi, Ei mengatakan, lagu ini ditulis dalam suasana diri yang sedang berdamai dengan rasa sakit.
“Aku selalu berusaha menulis dari tempat yang paling dekat sama hati aku. Kejujuran itu penting. Dan ‘Shooting Star’ jadi salah satu lagu yang aku bikin sambil berdamai dengan rasa sakit,” ujar Ei.
また読む:
Kepribadian introvert tertuang jelas pada narasi lagu, yang dibuka dengan adegan sinematik—seorang perempuan berdiri sendiri di sebuah kafe, tempat ia biasa merangkai memori dengan seseorang yang kini dirindukan.
Perlahan, rasa rindu itu dihadapkan dengan keyakinan akan kehadiran orang yang begitu dinantikan, hingga muncul pertanyaan: apakah ia sedang berhalusinasi?
Ei merangkai cerita dalam lagunya begitu mengalir layaknya sebuah monolog sederhana. Detail kecil ditambahkan tanpa rasa canggung.
Namun pada puncaknya, sisi puitis seorang introvert dimunculkan, di mana bulan dan bintang menjadi penghubung antara tokoh utama dengan orang yang dirindukan.
*Musik yang Halusinatif (SUBJUDUL)*
Dalam hal keproduksian lagu, Ei dibantu sejumlah nama yang sudah tidak asing di industri musik Tanah Air. Ankadiov dan Andreas Arianto bertindak sebagai produser bersama, sementara Bowo Soulmate dipercaya sebagai pengarah vokal.
Dari segi komposisi dan aransemen musiknya, Ei bersama kedua produser tampaknya ingin menggabungkan unsur kesendirian yang tergambar pada bagian verse, halusinasi pada pre-chorus, dan ruang angkasa (space) pada chorus.
Pergerakan (progresi) akor yang dimulai dari Empat Mayor (IV) memberikan kesan sinematik dan menggantung—sesuai dengan narasi awal lagu yang diselimuti kesendirian.
Kemudian peralihan ke progresi minor pada pre-chorus memberikan dinamika yang cukup jelas, di mana nuansa halusinasi semakin menyelimuti perasaan tokoh utama dalam lagu—yang sebenarnya sudah dimulai sejak intro lagu.
Selanjutnya, komposisi terasa seperti space music dari pilihan sound dan instrumen yang dipakai. Kondisi ini dipertebal dengan warna suara dan pembawaan Ei yang melantunkan tiap bait dengan “emosi yang melayang”.
Tidak banyak lapisan (layer) yang digunakan di “Shooting Star”—menunjukkan kepiawaian dan kedewasaan dari Ei dan orang-orang yang ikut menggarap lagu ini.
Lagipula Ei menjelaskan, mereka sepakat untuk menjaga lagu ini tetap terasa intim. “Enggak usah terlalu banyak layer, biar emosinya kedengeran apa adanya. Itu tantangan sekaligus keindahannya,” ujarnya.
Catatan kritis untuk “Shooting Star” ada pada kemunculan vokal latar mulai verse kedua—yang semakin sering muncul hingga akhir lagu—terasa tidak memberikan dampak yang cukup signifikan.
Namun nilai lebih bisa diberikan untuk kejelian menampilkan suara idiofon yang kerap muncul di sepanjang lagu. Selain itu, perubahan akor setelah chorus kedua memberikan “efek kejut” yang membuat pengulangan lirik tidak menjadi membosankan.
Keberanian untuk menghadirkan lagu berdurasi lebih dari empat menit juga layak diapresiasi. Di era streaming musik seperti saat ini, di mana pendengar bisa beralih dari satu lagu ke lagu lain dengan lebih cepat, Ei hadir dengan lagunya, “Shooting Star”, yang sama sekali tidak membosankan dari segi lirik, komposisi, dan aransemen.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)