Bagikan:

Wisatawan mancanegara jauh-jauh datang ke Indonesia untuk menikmati wisata alam dan budaya negeri ini. Karena itu kata Ketua Umum ASITA  Dr. Nunung Rusmiati, S.Si, M.Si., semua pihak yang berhubungan dengan pariwisata harus membuat wisatawan betah. Fasilitas pendukung di lokasi dan menuju obyek wisata memang harus ada, tak perlu mewah yang penting bersih dan nyaman.

***

Sektor pariwisata Indonesia selama pandemi COVID-19 ikut terdampak. Hal ini juga dialami oleh Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia / Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA). Mereka yang selama ini menjadi ujung tombak pemasaran obyek wisata di segala penjuru negeri dan juga mengantar wisatawan nusantara yang ingin bertamasya ke dalam dan manca negara. Selama pandemi nyaris tak ada aktivitas yang mereka lakukan, ini benar-benar memprihatinkan.

Kini keadaan sudah berangsur-angsur pulih. Infrastruktur kepariwisataan, kata Nunung Rusmiati, memang harus ada, terutama penerbangan langsung. “Direct flight itu penting sekali. Dari daerah tujuan wisata utama seperti Bali ke NTT misalnya atau daerah lain itu harus ada. Kalau tidak akan sulit mengajak wisatawan untuk datang,” ujarnya.

Untuk fasilitas lainnya juga memang perlu ada tapi tidak harus mewah. “Jadi untuk sektor wisata itu fasilitas infrastruktur itu memang perlu, tapi bukan yang utama dan tidak harus yang mewah juga. Karena yang mereka cari itu yang natural. Minimal ada toilet bersih, rest room (penginapan/hotel) yang nyaman, jalan yang rusak cukup diperbaiki kalau dananya belum ada. Itu kan tidak mengeluarkan banyak biaya,” katanya.

Beragam persoalan dunia kepariwisataan lanjut Rusmiati bisa diatasi kalau seluruh pemangku kepentingan di industri pariwisata dan instansi terkait bisa berkolaborasi. Apalagi pemerintah sudah menetapkan 5 daerah tujuan wisata super prioritas (Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, Likupang), yang disarikan dari 10 daerah tujuan wisata prioritas (Danau Toba, Tanjung Kelayang, Kepulauan Seribu, Tanjung Lesung, Borobudur, Bromo, Mandalika, Labuan Bajo, Mortai, Wakatobi). Dari daerah tujuan wisata ini bisa menjadi pintu masuk untuk daerah lainnya yang  juga memiliki obyek wisata potensial.

Kepada Iqbal Irsyad, Edy Suherli, Savic Rabos dan Rifai, ia berbagi cerita soal problem yang dihadapi anggota ASITA selama pandemi dan sumbang sarannya untuk memajukan kembali industri pariwisata yang sempat menjadi andalan negara untuk meraih devisa. Inilah petikan selengkapnya dalam sesi wawancara khusus di kantor Patihindo Tour and Travel di jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan belum lama berselang.

Menurut Ketum ASITA Nunung Rusmiati kunci untuk memajukan sektor pariwisata adalah kolaborasi semua pihak. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)
Menurut Ketum ASITA Nunung Rusmiati kunci untuk memajukan sektor pariwisata adalah kolaborasi semua pihak. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)

Seperti apa nasib para pengusaha biro perjalanan wisata yang tergabung dalam ASITA di masa pandemi COVID-19 saat sedang tinggi-tingginya tempo hari?

Selama pandemi COVID-19 melanda Indonesia dan juga belahan dunia lainnya, sektor pariwisata termasuk yang paling terdampak. Untuk rekan-rekan saya yang bernaung di ASITA, ada 90 persen lebih yang usahanya terhenti.  Jadi bisa dibayangkan bagaimana dampaknya, hampir semua anggota saya yang jumlahnya 7.000 lebih di seluruh Indonesia usahanya nyaris tak berjalan. Tidak ada aktivitas dan tidak ada cuan (keuntungan) di sektor ini.

Kami tidak memprediksi pandemi ini akan begitu lama, setelah dua tahun baru keadaan melandai. Soalnya ASITA juga punya even di bulan Maret 2020, perkiraan kita bulan Juni 2020 sudah selesai, ternyata meleset. Ini yang membuat saya sebagai Ketua Umum amat prihatin, kondisinya amat berat.

Masih ada 10 persen yang beraktivitas di tengah pandemi, apa saja yang dilakukan?

Memang masih yang melakukan aktivitas meski pandemi sedang tinggi-tingginya, jumlah engga banyak ya sekitar 10 persen dari seluruh anggota ASITA. Yang masih ada aktivitas itu contohnya instansi pemerintah. Saya sendiri kebetulan ada klien yang minta carter pesawat untuk mahasiswa Malaysia yang kuliah di Indonesia pulang ke negaranya. Soalnya mau naik maskapai biasa tak ada penerbangan. Jadi yang dilayani itu benar-benar urgent. Ada juga yang harus berobat ke luar negeri, karena darurat harus diantar dengan pesawat carter.  

Selalu ada hikmah di balik kejadian, untuk pandemi yang sekarang sudah melandai, hikmah apa yang bisa dipetik?

Memang pandemi ini amat berat bagi kami. Tetap saya setuju selalu ada hikmah dibalik ini semua. Sektor teknologi benar-benar dioptimalkan untuk mengatasi keterbatasan, soalnya kita harus jaga jarak selama pandemi. Kami menggelar secara daring Bincang Bisnis ASITA (BBA) setiap pekan sekali.

Selanjutnya kita tersadarkan betapa tekonologi, IT dan sejenisnya amat penting. Dulu kita mau meeting via Zoom itu berat. Sekarang meski keadaan sudah melandai, dan kita doakan pandemi segera menjadi endemi, kita sudah enjoy dengan meeting online, konferensi online, seminar dan simposium dengan cara daring.

Biasanya untuk mempromosikan potensi wisata di seluruh Indonesia, sulit sekali. Sekarang dengan cara online semua bisa dipromosikan dengan mudah. Alhamdulillah sektor wisata domestik kita jalan sekarang. Saya apresiasi pada kaum milenial yang semangat menjelajah provinsi-provinsi yang selama ini tidak menjadi tujuan wisata favorit. Malah mereka lebih pintar menjelajahi pelosok negeri. Setelah sekian lama terkurung di rumah, kini saatnya kita butuh yang fresh, wisata yang bersifat adventure itu banyak sekali peminatnya.

Dengan adanya pandemi ini kita jadi sadar untuk menyimpan uang sebagai dana cadangan. Setiap daerah sekarang jadi kreatif, misalnya Kuta Bali, dulu daerah yang paling kreatif, sekarang setiap daerah di Bali bisa menyuguhkan sisi-sisi lebih mereka. Itu antara lain hikmah yang ada dibalik pandemi ini.

Ketum ASITA Nunung Rusmiati optimis pariwisata akan bangkit setelah pandemi melandai. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)
Ketum ASITA Nunung Rusmiati optimis pariwisata akan bangkit setelah pandemi melandai. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)

Pariwisata amat terdampak selama pandemi, apa strategi menghadapi keadaan ini ke depan, banyak bidang yang dikerjakan orang tergantikan oleh teknologi?

Memang saya sendiri tidak menyangka pandemi ini akan melewati masa dua tahun. Sektor travel dan wisata ini sebelum pandemi melanda itu paling enak. Karena selalu ada kegiatan, kita juga berkolaborasi dengan berbagai instansi baik pemerintah maupun swasta menggelar beragam kegiatan wisata. Jadi untuk mencari cuan puluhan juta bahkan hingga ratusan juta itu bisa. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sudah paham dengan kinerja ASITA dan anggotanya dalam mendatangkan wisatawan ke Indonesia.

Sebelum COVID-19 melanda, saya sudah menyiapkan sistem online untuk sektor travel ini. Itu amat sulit sekali direalisasikan. Karena teman-teman sudah terlanjur enak dan cocok dengan sistem konvensional. Sekarang dengan adanya pandemi mau tidak mau semua harus hijrah ke sistem online. Indonesia termasuk yang paling banyak menggunakan teknologi seperti penggunaan aplikasi pesan singkat, email, dan sebagainya. Kenapa bisa begitu karena jumlah penduduk kita memang besar, lebih dari 280 juta. Ini pangsa pasar yang amat besar.

Indonesia kaya dengan potensi wisata, mana yang paling diminati? Dan jika dibandingkan dengan wisata manca negara seperti apa obyek wisata kita bisa bersaing?

Saya sudah menyambangi banyak negara di seluruh benua. Tidak ada yang lebih cantik dari Indonesia. Kalau mau dibandingkan dengan potensi wisata kita, wisata kita itu bagus sekali. Pertanyaannya mengapa kunjungan wisata ke Indonesia, terutama daerah yang belum maju wisatawanya masih rendah. 

Setelah wisatawan mancanegara datang ke Bali misalnya kita harus bisa menawarkan daerah lain sebagai alternatif. NTT misalnya itu kan hanya 45 menit dari Bali.  Kami dari ASITA juga punya pekerjaan untuk mempromosikan objek wisata di luar yang sudah maju, dan daerah 10 tujuan wisata prioritas (Mandalika-NTB, Danau Toba-Sumut, Tanjung Kelayang-Babel, Kepulauan Seribu-Jakarta, Tanjung Lesung-Banten, Bromo-Jatim, Borobudur-Jateng,  Wakatobi-Sultra, Morotai-Malut dan Labuan Bajo-NTT) serta 5 daerah wisata super prioritas (Danau Toba-Sumut, Borobudur-Jateng, Mandalika-NTB, Labuan Bajo-NTT dan Likupang (Sulut).

Terima kasih pada Presiden Jokowi dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Pak Sandiaga Uno yang sudah mendukung ASITA. Semoga 34 provinsi dan 514 kabupaten bisa terpromosikan semua. Saya yakin wisata kita bisa bersaing dengan wisata mancanegara.

Untuk wisatawan manca negara, apa sebenarnya yang mereka cari di Indonesia?

Berdasarkan riset saya, wisatawan manca negara itu sudah bosan dengan kemewahan. Kalau kita bawa orang Saudi Arabia dan negara Timur Tengah lainnya, juga orang Eropa, Amerika dan negara lainnya amat suka dengan wisata alam. Apalagi orang Saudi bilang Indonesia itu surga dunia. Mereka yang bilang begitu bukan kita. Orang Eropa dan Amerika bilang Indonesia is fantastic.

Bagaimana fasilitas pariwisata dan sarana pendukung yang ada selama ini menurut pengamatan Anda?

Yang pertama infrastruktur penunjang itu memang harus ada, tidak musti mewah ya. Ingat wisatawan asing itu yang mereka cari yang natural. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah direct flight dari Bali misalnya ke NTT atau daerah lainnya. Bupati dan Gubernur harus kerja keras mempromosikan wisatanya. Mereka harus concern pada sektor wisata, karena ini akan menjadi andalan untuk devisa. Sekarang sektor wisata penyumbang devisa nomor dua, next bisa jadi nomor satu. Soalnya sektor wisata alam yang masih natural itu bisa kita jual dan cukup laku.

Yang tak kalah pentingnya adalah inovasi dan kreativitas dari insan pariwisata dan pemda setempat. Untuk sektor wisata fasilitas infrastruktur itu memang perlu, tapi bukan yang utama dan tidak perlu yang mewah juga. Karena yang mereka cari itu yang natural. Minimal ada toilet bersih, rest room yang nyaman, jalan yang rusak cukup ditambal kalau dananya belum ada. Itu kan tidak mengeluarkan banyak biaya.

Sekarang pandemi sudah melandai, apakah bisnis perjalanan wisata sudah mulai bangkit menurut Anda? Berapa angka pertumbuhannya minimal dua bulan terakhir di lingkungan anggota ASITA?

Alhamdulillah saya amat bersyukur keadaan sudah membaik, pandemi sudah melandai. Dari tahun lalu pertumbuhannya sudah 70 persen. Jumlah penumpang pesawat ke Bali dari Jakarta sudah 7.000 sampai 10.000. Belum lama ini ada acara Bali Beyond Travel Fair animonya tinggi sekali. Penerbangan dari dan ke Bali sampai penuh semua. Penerbangan ke Bali, Jogja,  Solo, Balikpapan, Makassar peningkatannya amat mengembirakan.

Di antara 5 destinasi super prioritas, seperti apa pertumbuhan wisatanya?

Untuk 5 destinasi super prioritas, Labuhan Bajo bagus. Mandalika keren banget dengan adanya even MotoGP kemarin, lalu Borobudur dan Danau Toba juga bagus pertumbuhannya. Yang masih harus di-support itu Likupang, karena ini memang daerah baru.

Jadi apa kuncinya untuk mengembangkan dan memajukan wisata kita?

Kuncinya kolaborasi antarsemua pihak yang ada di sektor pariwisata ini. Mulai dari instansi dan juga ASITA. Kita sebagai asosiasi tahu apa yang harus dilakukan. Karena itu harus bekerjasama satu dengan yang lain agar wisata kita bisa berkembang dan maju. Kami ada 7.000 lebih anggota ASITA yang bisa menjadi partner.

Saat wisatawan mau dikembangkan tapi tarif maskapai melambung, seperti apa mensikapi ini?

Sekarang ini permintaan untuk terbang banyak, namun penerbangan belum pulih maksimal. Meski harga tinggi tapi penerbangan terisi penuh. Untuk harga yang terus melambung memang akan dibicarakan dengan maskapai agar bisa memberikan harga yang wajar. Saya berharap harga tinggi ini bisa selesai, sehingga bisa mendukung pariwisata.

Dari Aceh ke Jakarta lebih murah lewat Kuala Lumpur daripada penerbangan langsung, bagaimana mengatasi hal ini?

Keadaan ini bisa terjadi karena dari Kuala Lumpur dan Singapura banyak penerbangan langsung ke berbagai negara. Ini yang membuat harga tiket bisa murah dibandingkan dengan di dalam negeri. Orang kita mau ke Saudi dan Eropa banyak sekali yang lewat Kuala Lumpur. Ini adalah pekerjaan rumah kita.

Bagaimana potensi wisata medis di Indonesia?

Fasilitas kesehatan di Indonesia tak kalah dengan di negeri jiran. Tinggal bagaimana kita mempromosikannya saja. Pemerintah sudah mendukung wisata medis ini. Semoga sektor ini bisa digarap, minimal untuk warga Indonesia sendiri bisa memanfaatkan fasilitas medis yang ada di Bali yang sekarang sedang dibuat. Jadi sambil berobat sekalian jalan-jalan,  tak perlu ke luar negeri untuk berobat.

Apa harapan ada sebagai Ketum ASITA pemerintah dan pelaku wisata?

Sekarang pandemi sudah melandai ayo semua pihak berkolaborasi untuk memasukan pariwisata, ASITA siap untuk berkolaborasi. Karena situasinya sedang berkembang kami harap ada keringanan dan insentif untuk anggota kami agar mereka bisa kembali seperti dulu saat sebelum pandemi.

Ini Tips Hidup Sehat Ala Ketum ASITA Nunung Rusmiati 

Olahraga dan  asupan makanan seimbang adalah tips hidup sehat yang dilakukan Ketum ASITA Nunung Rusmiati. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)
Olahraga dan asupan makanan seimbang adalah tips hidup sehat yang dilakukan Ketum ASITA Nunung Rusmiati. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)

Mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Ini benar-benar jadi pegangan bagi Ketua Umum ASITA Dr. Nunung Rusmiati, S.Si, M.Si., dalam menjalani hidup dan aktivitasnya sehari-hari. Ada tips sehat yang ia lakoni dalam menjaga kesehatan. Yaitu berolahraga yang cukup, asupan makanan yang seimbang dan enam bulan sekali dia melakukan general check-up untuk mengetahui kondisi kesehatan tubuhnya.

Pandemi COVID-19 yang melanda dunia memaksa orang melakukan perubahan dalam melakoni hidup. Hal itu juga terjadi pada Bu Rus –begitu dia biasa disapa— apa yang sudah dilakoni sebelum pandemi ia pertahankan dan ditingkatkan. Nasihat dokter untuk melakoni hidup sehat menjadi motivasi bagi dia, namun ada beberapa penyesuaian yang ia lakukan karena situasi dan kondisi pandemi semua serba terbatas. 

Dalam menjalani hidup ia tidak mau terlalu terbebani. “Yang pertama yang  saya lakukan olahraga. Kemudian make it easy, kalau kita ada problem jangan dibikin rumit. Ada masalah hadapi, anggaplah itu adalah cobaan. Semua orang kan ada cobaannya, tergantung  kadar dan kemampuan masing-masing. Saat kita bisa lulus dari cobaan itu artinya kita bisa naik kelas,” paparnya.

Selanjutnya, yang ia lakukan adalah menjaga pola makan. “Kita harus tahu makanan yang masuk ke dalam tubuh kita, tidak semua boleh masuk. Hanya makanan yang baik untuk tubuh saja yang kita konsumsi, apalagi kalau usia kita sudah tak muda lagi. Yang tak sehat dan membahayakan tubuh harus dihindari semaksimal mungkin,” lanjut perempuan kelahiran Jakarta, 25 Janauri 1965 ini.

Yang tak kalah pentingnya adalah istirahat yang cukup. “Tidur cukup itu memang amat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan setelah beraktivitas. Idealnya delapan jam waktu tidur dalam satu hari. Namun untuk saya yang memimpin usaha travel, Ketua Umum ASITA yang kegiatan lainnya yang relatif banyak, kadang tak bisa memenuhi waktu tidur ideal itu. Ya paling tidak enam jam sehari saya harus punya waktu untuk tidur,” katanya.

Kalau sudah ada kesibukan tinggi, seperti pameran, pertemuan di luar kota bahkan mancanegara, yang banyak menyita waktu, kiat yang dilakukan Rusmiati adalah mengganti waktu yang terpakai itu di akhir pekan yang tak ada kesibukan. “Kalau ada waktu di akhir pekan saya usahakan untuk menebus waktu tidur yang sebelumnya dipakai untuk kegiatan. Jadi dibayar di waktu lain,” ungkap President Director Patihindo Tour and Travel Jakarta ini.

Herbal dan Tradisional

Ramuan tradisional yang berkhasiat menjadi minuman rutin Nunung Rusmiati. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)
Ramuan tradisional yang berkhasiat menjadi minuman rutin Nunung Rusmiati. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)

Sejak belia Rusmiati memang sudah terbiasa mengonsumsi ramuan herbal tradisional yang banyak dikonsumsi masyarakat. Ramuan tradisional yang biasa disebut jamu itu sudah terbukti ampuh dan bisa menambah imunitas dan meningkatkan kesehatan bagi dia. “Saya biasa minum ramuan yang terbuat dari kunyit, temu ireng, jahe dan banyak lagi tumbuhan berkhasiat lainnya. Ramuan itu biasanya dicampur menjadi satu. Itu adalah ramuan warisan leluhur kita, sampai sekarang saya masih rutin meminumnya,” lanjutnya.

Karena terbiasa mengonsumsi ramuan tradisional itu, kadang saat masuk ke resto atau kafe ia langsung menanyakan minuman tradisional. “Ada wedang jahe engga atau kunir asem engga, itu secara alamiah langsung pesan. Tapi kalau engga ada saya tinggal pilih minuman yang tersedia di tempat itu,” katanya.

Selain minuman tradisional, Rusmiati berusaha pesan makanan yang sehat. “Healty food itu sudah menjadi pilihan utama untuk asupan makanan saya. Sekarang saya lebih banyak mengomsumsi buah untuk camilan. Kalau dulu makanan kecil seperti kue kering atau kacang, sekarang saya ganti dengan buah. Tetap bisa mengemil tapi dengan buah-buahan,” lanjutnya.

Sebelum COVID-19, Rusmiati rutin memeriksa kesehatannya ke rumah sakit langganannya. “Saya secara rutin melakukan general check up setiap enam bulan sekali, paling lambat setahun sekali. Dari hasil pemeriksaan itu kita bisa mengetahui apakah ada penyakit atau hal-hal yang berpotensi mengganggu kesehatan. Itu bisa diantisipasi kalau lebih dulu tahu,” katanya.

Aktivitas lain yang ia lakukan untuk menjaga kesehatan adalah berolahraga. Rusmiati memilih olahraga renang dan berjalan santai. “Sebelum COVID-19 saya hampir setiap hari berenang sebelum beraktivitas. Engga perlu lama-lama, cukup 30 menit. Saat pandemi saya mengganti olahraga rutin dengan jalan di sekitar rumah. Itulah olahraga yang paling mungkin dilakukan,” tambahnya.

Karena sudah biasa dilakukan, kalau tidak berolahraga ada rasa pegal. “Soalnya badan kita ini sudah terbiasa dengan aktivitas olahraga, kalau tidak dilakukan jadi ada yang kurang. Yang saya rasakan ada pegal-pegal kalau tidak berolahraga,” katanya.

Rusmiati bersyukur meski usianya sudah tak muda lagi, dia masih bisa mengonsumsi makanan apa pun. “Alhamdulillah sampai saat ini dokter belum melarang saya makan ini atau itu, tapi saya sendiri yang menahan diri. Jadi saya sendiri yang membatasi, mumpung belum dilarang oleh dokter. Intinya sesuatu itu, termasuk makanan jangan berlebihan, makan secukupnya saja,” lanjutnya.

Tak perlu mahal, buah-buahan lokal pun sudah cukup bagi dia untuk menjadi santapan hariannya. “Pisang, pepaya, jeruk dan lain-lain. Itu kan buah-buahan lokal yang bisa kita dapatkan di pasar atau tokoh buah di dekat rumah. Yang penting khasiatnya, enggak harus buah-buahan impor yang harganya mahal,” lanjutnya.

Soal fast food dan junk food juga menjadi perhatian Rusmiati, meski dia tidak anti sama sekali. “Fast food dan junk food sudah saya kurangi semaksimal mungkin. Apa pun yang dikonsumsi berulang-ulang dan berlebihan itu tidak baik. Itu yang perlu menjadi perhatian kita semua. Sayangi tubuh kita ini, jangan samakan tubuh dengan tempat pembuangan. Makanan yang tak sehat dan tak berfaedah dikurangi, lebih bagus lagi kalau tidak dikonsumsi,” jelasnya.

Keluarga

Meski sibuk dengan beragam aktivitas, Nunung Rusmiati menyempatkan untuk berkomunikasi dengan keluarga. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)
Meski sibuk dengan beragam aktivitas, Nunung Rusmiati menyempatkan untuk berkomunikasi dengan keluarga. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga /VOI)

Sibuk dengan urusan kantor, organisasi dan sebagainya tak membuat Rusmiati alpa pada keluarga. Dia bersyukur punya keluarga yang pengertian. “Keluarga saya alhamdulillah mengerti dengan kesibukan saya. Di tengah kesibukan itu komunikasi  menjadi penentunya. Saya harus menyisihkan waktu untuk menelpon atau sekarang eranya video call dengan keluarga. Sepertinya simple tapi itu amat bermakna untuk merekatkan kita dengan keluarga,” kata kata perempuan yang menyelesaikan Pendidikan S1  studi Komunikasi di London School of Public Relations Jakarta 2006 dan jenjang S2 juga di jurusan dan kampus yang sama tahun 2008.

Cuma kualitas pertemuan langsung memang tak tergantikan. Saat akhir pekan ia akan mendedikasikan dirinya untuk keluarga ketika memang tidak ada even atau kegiatan organisasi. “Saat weekend kalau tak ada even prioritas saya untuk keluarga. Soalnya keluarga buat saya juga penting,” tukasnya.

Sebagai seorang professional, menurut Rusmiati masa aktifnya sebagai pengusaha travel ada batasnya. “Tidak selamanya kita bekerja. Ada masa produktif dan ada masanya harus pensiun atau istirahat dari kesibukan yang kita lakoni. Untuk saya saat ini masih aktif, tapi sekitar empat atau lima tahun lagi saya harus siap-siap menyerahkan kepemimpinan yang saya geluti sejak muda ini. Mungkin tidak langsung berhenti sama sekali, namun saya masih bisa mengawasi dari jauh,”  terang alumni S3 Komunikasi Universitas Sahid Jakarta tahun 2009.

Ketika belum pensiun, Nunung Rusmiati masih berusaha sekuat tenaga bersama tim di ASITA dan berbagai kalangan untuk memajukan sektor pariwisata yang sempat terpuruk karena pandemi. “Jadi saat ini saya masih mengabdikan diri saya untuk dunia pariwisata khususnya dalam agen perjalanan wisata. Ada 7.000 lebih  anggota saya yang berharap agar sektor pariwisata ini bisa bangkit lagi seperti sebelum pandemi,” tandasnya.

“Berdasarkan riset saya, wisatawan manca negara itu sudah bosan dengan kemewahan. Kalau kita bawa orang Saudi Arabia dan negara Timur Tengah lainnya, orang Eropa, Amerika dan negara lainnya amat suka dengan wisata alam. Apalagi orang Saudi bilang Indonesia itu surga dunia. Mereka yang bilang begitu bukan kita. Orang Eropa dan Amerika bilang Indonesia is fantastic.