Eksklusif, Nasaruddin Umar: Masjid Istiqlal 20 Persen untuk Ibadah, 80 Persen Pemberdayaan Umat   
Nasaruddin Umar menjelaskan fungsi Masjid Istiqlal hanya 20 untuk ibadah, sisanya untuk pemberdayaan ummat. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Bagikan:

Masjid tak hanya sebagai tempat ibadah yang berifat ilahiyah. Masjid bisa dioptimalkan untuk beragam kegiatan dan pemberdayaan umat. Menurut Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, yang terjadi pada masjid yang ia pimpin kini, 20 persen fungsi  masjid sebagai tempat ibadah dan 80 persen masjid sebagai tempat pemberdayaan umat. Seperti inilah fungsi masjid di zaman Rasululah Muhammad SAW.

***

Masjid Istiqlal memiliki beragam kegiatan di samping rankaian ibadah rutin yang biasa dilakukan setiap hari. Ada kegiatan pendidikan yang meliputi madrasah dari tingkat dasar hingga menengah atas, pendidikan kader ulama yang bekerjasama dengan Harvard University, Cairo University dan IIQ (Institut Ilmu Alqur’an) Jakarta. Ada juga pelatihan membaca Alquran dan Bahasa Arab yang tidak dipungut biaya. Pemberdayaan ekonomi ummat melalui kegiatan ekonomi. Dan penggalangan dana lewat Istiqlal Global Fund. Tak sebatas menghimpun, dana yang terkumpul disalurkan untuk mereka yang terdampak secara ekonomi.

“Fungsi masjid Istiqlal itu hanya 20 persen untuk sebagai rumah ibadah. Sisanya 80 persen sebagai tempat pemberdayaan ummat dan warga bangsa lainnya. Ada dialog antarrumah-ibadah, Pendidikan TK sampai Aliyah, Istiqlal Bussines Center, Istiqlal Global Fund dan Pendidikan Kader Ulama,” kata Nasaruddin Umar.

Bahkan program Pendidikan Kader Ulama yang bekerjasama dengan PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Alquran) Jakarta, Harvard University, dan Cairo University benar-benar membuat para duta besar negara sahabat terutama dari negara Barat tertarik. “Saya tanya kepada para Duta Besar negara sahabat terutama dari negara Barat mengapa mereka tertarik untuk meminta alumni PKU Istiqlal ini ditugaskan ke negara mereka. Mereka melihat Islam yang ada di Indonesia itu Islam yang moderat. Bukan seperti Islam di negara lain. Dan ulama yang moderat itu lebih cocok untuk negara mereka. Jadi belum selesai pendidikan sudah diorder,” ungkapnya.

Apa yang dilaksanakan di Masjid Istiqlal menurut Nasaruddin Umar amat terbuka untuk ditiru atau diaplikasikan di masjid-masjid lain seantero Indonesia. “Tidak ada rahasia di sini, siapa saja, dari masjid mana saja yang ingin mengadopsi manajemen dan kegiatan di Masjid Istiqlal kami persilahkan. Bahkan kami senang bisa membuat banyak masjid lebih hidup dengan aneka kegiatan, serta memberdayakan ummat dan lingkungan sekitar,” ujarnya.

Sehubungan dengan berlalunya bulan Ramadan dan perayaan Idulfitri, ia mengucapkan selamat kepada semua ummat Islam yang meraih kemenangan dan kembali ke fitrah. Di luar adanya berbedaan dalam menentapkan awal Ramadan dan awal Syawal, pihaknya tetap berpegang pada keputusan pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama. “Alhamdulillah kita bersyukur diizinkan untuk membuka Istiqlal untuk salat Idulfitri. Kami juga bersukur COVID-19 juga semakin landai dan bersahabat,” katanya kepada Iqbal Irsyad, Edy Suherli, Safic Rabos dan Rifai yang menyambanginya di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, belum lama berselang. Inilah petikan selengkapnya.

Perbedaan dalam penentuan 1 Ramadan dan 1 Syawal menurut Nasaruddin Umar tak perlu menjadi pertentangan. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Perbedaan dalam penentuan 1 Ramadan dan 1 Syawal menurut Nasaruddin Umar tak perlu menjadi pertentangan. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Tanggal 2 Mei umat Islam merayakan Idulfitri, apa makna Idulfitri setelah sebulan umaat menjalankan ibadah di bulan Ramadan? Kembali ke fitri itu seperti apa?

Ada dua pengertian fitri. Fitri itu kembali berbuka setelah berpuasa maka kita sarapan pagi. Tanggal 1 syawal itu haram berpuasa. Kita kembali sarapan setelah sebelumnya terlarang. Tapi kalau Idul fitrah atau Idul Fitri artinya kembali kepada jatidiri kita yang suci. Karena Ramadan itu artinya menghanguskan atau membakar dosa-dosa. Dengan demikian diharapkan setelah bersih dan suci dari dosa oleh amalia Ramadan yang kita lakukan dengan ikhlas, maka kita berharap kita terlahir kembali sebagai manusia baru. Bagaikan bayi yang baru lahir dari rahim ibu.

Penetapan awal ramadan dan awal syawal sering berbeda, karena ada yang berdasarkan hisab dan ada yang dengan ru’yah. Bagaimana kita mensikapi perbedaan ini?

Istiqlal punya cara sendiri untuk mensikapi hal ini, namun akhirnya kita akan tunduk pada pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama selalu menggelar sidang isbath untuk penentuan awal Syawal dan awal Ramadan. Tetapi kami juga melakukan studi mendalam soal penetapan awal Ramadan dan awal Syawal ini. Kami mengevaluasi ilmu Falaq yang digunakan untuk hisab dan ru’yah. Kami juga melakukan kajian-kajian internal, agar ada nilai kontribusinya secara akademik ke masyarakat. Jangan hanya nrimo (menerima saja) apa yang dari pemerintah, tanpa berperan aktif memberikan penjelasan.

Kami melakukan pendekatan induktif (dari bawah ke atas) bukan deduktif (dari atas ke bawah). Kita membaca sesuatu yang hidup dalam masyarakat kita. Dan sesuatu yang menjadi fenomena internasional. Juga hal yang dilakukan pemerintah dan MUI.

Jadi perbedaan itu memang ada?

Karena itu kami tetap mengapresiasi jemaah, soalnya jemaah masjid  Istiqlal itu ada yang berpuasa duluan dan ada yang kemudian. Kami harus adil pada semua. Istiqlal ini milik semua, kami tidak boleh mendiskriminasi satu sama lain. Karena mereka semua adalah tamu-tamu kami. Kami harus berhati-hati, bagi kami pengelola akan mewadahi semuanya. Tapi tentu saja yang diterima untuk melakukan salat Idulfitri berpatokan pada ketetapan pemerintah dan majelis ulama.

Tapi kalau ada teman-teman kita jemaah masjid Istiqlal ini tidak sama atau berlebaran duluan dengan yang ditetapkan pemerintah, silahkan. Namun untuk pelaksanaan salat Idulfitri-nya tidak di sini. Karena kami berpendapat bahwa mayoritas jemaah masjid Istiqlal dan juga masyarakat Indonesia mengikuti kajian pemerintah dan MUI. Kami tidak boleh mengorbankan mereka yang lebih besar. Dengan amat menyesal kami tidak memperbolehkan lebaran ganda di Istiqlal. Pokoknya tidak ada yang boleh kecewa di Istiqlal, poinnya di situ.

Apa pesan Anda untuk ummat Islam yang merayakan Idulfitri?  

Idulfitri alhamdulillah kita bersyukur diizinkan untuk membuka Istiqlal untuk salat Id. Kita juga bersukur COVID-19 juga semakin landai dan bersahabat. Insya Allah semua sudah siap, kami juga sudah rapat dengan pihak Paspampres untuk mengantisipasi jika presiden akan salat di sini.

Sistem keamanan kita standar kok, karena setiap tahun salat Id diadakan di sini. Jadi protokolnya standar, apalagi sekarang ini kami sudah tahu. Kami punya 140 kamera CCTV di seluruh penjuru masjid. Jadi jangan  coba-coba mencuri handphone atau barang lainnya di masjid ini. Semua bisa dilacak karena ada sistem biometric. Seseorang yang ambil handphone komputer bisa menemukan pencuri di sudut mana pun di masjid ini. 

Sistem keamanan Masjid Istiqlal kata Nasaruddin Umar dibuat mumpuni. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Sistem keamanan Masjid Istiqlal kata Nasaruddin Umar dibuat mumpuni. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Tadi Anda menyebutkan, Istiqlal melakukan kajian lanjutan soal keputusan sidang isbath yang dilakukan Kementerian Agama, seperti apa itu?

Kajian pertama kita ada tiga hal pertama kita melakukan kajian-kajian hasil hisab dan rukyah. Kami mengkritisi benar tidak metodologi rukyah dan hisab yang dilakukan. Dalam hisab sangat manusiawi kalau terjadi kesalahan. Pelaksanaan rukyah juga sering terjadi error. Bulannya di mana teropongnya di mana, itu yang namanya error. Jangan sampai yang diindera itu mars atau saturnus. Ada metodologinya  untuk menentukan ini bulan atau itu bulan. Yang kedua kajian ilmu Falaq, ada sekitar 14 sampai 17 mazhab ulama-ulama Falaq yang sering dijadikan rujukan. Kami akan konfirmasikan dengan hasil penelitian teman-teman di laboratorium Boscha, NU dan Kementerian Agama yang melakukan survei.

Dari hasil kajian itu nanti rekomendasinya biasanya seperti apa?

Yang pertama rekomendasi untuk internal kami. Banyak pihak yang kerap mengajukan pertanyaan kepada Masjid Istiqlal, alhamdulillah kami termasuk yang cepat memberikan respon pertanyaan masyarakat. Ada survei yang mengungkapkan soal respon instansi pemerintah terhadap pertanyaan masyarakat, Istiqlal itu termasuk salah satu yang terbaik. Pertanyaan yang masuk tidak pernah bermalam sudah dijawab.

Kami memang memfasilitasi pertanyaan publik. Ada ruang yang kami buka untuk masyarakat yang ingin konsultasi segala macam urusan keagamaan. Masyarakat percaya karena validitasnya, karena kapasitas orang yang memberkan jawaban itu aman kapabel. Kami ada majelis muzakarah yang diketuai Prof Qurays Shihab, Prof Aqil Munawar, dan pengurus teras NU dan Muhammadiyah, lain-lain. Jadi amat komprehensif narasumber yang tampil di sini.

Sekarang ini pandemi belum benar-benar berakhir, bagaimana pelaksanaan ibadah di Istiqlal?

Untuk hal ini kami mengikuti keputusan pemerintah dan arahan MUI, pemerintah dalam hal ini pemerintah pusat dan DKI Jakarta. Sebagai masjid negara kami harus hati-hati  mengambil keputusan. Istiqlal itu bukan hanya representasi negara,  tapi juga contoh untuk sekitar 8.000 masjid yang ada di seluruh Indonesia.

Selain ibadah yang berifat hablun minallah apa saja kegiatan yang dilakukan di Istiqlal?

Banyak kegiatan yang dilakukan di Masjid Istiqlal ini. Selain peribadatan, ibadah ada madrasah, pendikan dan pelatihan, pemberdayaan ekonomi umat, pengelolaan zakat, mualaf center, perpustakaan, konsultasi soal keagamaan, dan lain-lain. Ada Pendidikan Kader Ulama untuk jenjang S1, S2 dan S3 ini kerjasama dengan PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Alquran). Nanti program ini satu semester di Harvard University, satu sementer di Cairo University, dan semua ini beasiswa yang dibiayai oleh LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Mereka diasramakan dengan penekanan penguasaan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.

Alhamdulillah ada sejumlah Dubes negara-negara sahabat yang kami undang ke Istiqlal mengetahui program ini mereka tertarik. Mererka minta alumni program Pendidikan Kader Ulama ini ditempatkan di negara mereka, terutama negara Barat. Jadi belum selesai pendidikan  sudah diorder. Saya tanya kepada para Dubes itu kenapa mereka tidak memesan ulama dari negara Timur Tengah. Jawab mereka Islam moderat Indonesia itu lebih compatible dengan negara kami.

Jadi program anda sebagai Imam tidak hanya menjadikan masjid sebagai tempat ibadah, tapi juga kegiatan lain?

Hanya 20 persen Istiqlal sebagai rumah ibadah, 80 persen tempat pemberdayaan ummat dan warga bangsa lainnya. Ada dialog antarrumah-ibadah, Pendidikan TK sampai Aliyah, Istiqlal Bussines Center, Istiqlal Global Fund. Tak hanya menghimpun dana, kami juga mendistribusikannya kepada yang berhak menerima. Masjid ini tak boleh diberdayakan terus, tapi juga harus dibalik masjid memberdayakan ummat.

Dengan berbagai program itu kita berusaha menjadi masjid mandiri. Jadi tidak bergantung pada pemerintah dan infaq jemaah. Jumlah yang terkumpul amat fantastis, di luar dugaan pemerintah. Kami juga kaget kok bisa mengumpulkan data yang sedemikian besar. Tingkat kepercayaan masyarakat pada Istiqlal itu amat tinggi. Dana yang terkumpul itu digunakan untuk pemberdayaan umat, terutama mereka yang di-PHK akibat pandemi.

Apakah manajemen masjid yang dilakukan di Istiqlal ini boleh disebar ke masjid yang lain, kalau mereka bisa mandiri itu luar biasa?

Kami tidak ada rahasia, masjid mana pun yang mau meniru manajemen dan pola pemberdayaan ummat yang kami lakukan silahkan. Semakin banyak masjid yang mencontoh manajemen Istiqlal, kami semakin bersyukur. Kita pertemuakan pemilik modal dengan pengangguran, jadilah pemerdayaan ekonomi. Kita pertemukan antara yang pintar/guru/dosen dengan yang mau belajar.

Istiqlal juga terbuka untuk kaum musafir dari luar kota, untuk sekadar menginap dan mandi di kamar mandi masjid. Ini bisa membantu orang yang ingin ke Jakarta tapi tidak punya cukup uang untuk menginap di hotel.

Yang juga amat membantu masyarakat adalah kursus keterampilan di Istiqlal. Seperti kursus keterampilan untuk industri soal mengurus perizinan jaminan produk halal. Bagaimana memahami unsur-unsur kehalalan itu kita training di sini.

Istiqlal juga melatih instansi yang ada aliran garis keras dan aliran liberal. Kami ada paketnya selama 12 hari. Ada pre-test dan post-test setelah pelatihan. Dan alhamdulillah jasa ini juga digunakan oleh beberapa negara besar di luar negeri Eropa dan Amerika. Besok saya akan berangkat lagi ke luar negeri untuk kesekian kalinya memberikan pelatihan. Memberikan pelatihan soal Islam yang moderat.

Soal tudingan masjid yang dikomersialisasikan, bagaimana Anda menjelaskannya?

Saya hanya mencontoh masjid zaman Nabi Muhammad, wilayah masjid tempat ibadah tetap bersih. Yang digunakan untuk berbagai kegiatan adalah sekitar masjid, ada kursus calon pengantin, di situ juga didata siapa saja yang akan berangkat ke luar negeri membawa apa saja. Jadi kegiatan jual-belinya tidak di masjid yang menjadi tempat ibadah. Nah biar tidak salah faham kita terbuka sekali untuk diaudit. Kami tidak ingin ada kasus korupsi di masjid. Kalau ada orang di masjid ini memungut dana ilegal bisa laporkan. Parkiran kita kelolah dengan professional. Kotak amal juga banyak yang mengisi karena yang kita tampilkan penceramah yang bagus. Semakin bagus servis kita pada jemaah semakin besar infak yang jemaah berikan. Ada juga koperasi di masjid ini.

Kalau dulu masjid ini diurus oleh para pesiuman, kadang mereka yang diurus. Sekarang yang mengurus masjid ini kaum milenial. Doktor-doktor alumni Timur Tengah dan Eropa berkumpul di sini untuk bikin berbagai program. Jadi banyak sekali kegiatan di sini di luar ibadah.

Bagaimana peran Anda dan masjid Istiqlal dalam membina kerukunan umat beragama?

Kerukunan antarumat beragama tak hanya ada dalam dialog yang kami lakukaan. Tapi juga dalam bentuk yang nyata. Ada terowongan silaturahim antara Istiqlal dan Katedral yang lokasinya berhadapan. Untuk pengelolaan parkir kendaraan juga dilakukan bersama. Jemaat Katedral bisa parkir di area parkir Istiqlal.

Untuk menyempurnakan terowongan,  sekarang ini kita melibatkan seniman yang akan memberikan ornamen dan hiasan. Ini akan menjadi salah satu ikon Indonesia. Jadi bukan sekadar terowongan, ada ilmu di dalamnya. Kita akan melakukan pertemuan antarumat beragama. Seperti  yang dilakukan di zaman Nabi Muhammad. Dulu sudah ada lembaganya yang diikuti oleh 60 tokoh agama yang berbeda. Saat itu lembaga itu diketuai oleh Abdullah bin Masih. Yang ikut ada Kristen Ortodoks, Yahudi, dan sebagainya. Pertemuannya dari waktu Ashar hingga Magrib. Setelah itu Nabi menghidangkan makanan kepada  tamunya. Itulah yang kami contoh sekarang di Istiqlal.

Bagaimana mencegah tumbuhnya gerakan radikalisme dan terorisme yang kini menjadi ancaman semua orang?

Tidak boleh ada organisasi pergerakan yang bertentangan dengan visi misi Istiqlal yang merupakan visi misi negara kita sendiri.  Bukan berarti kita menolak mereka, siapa pun yang mau datang dan masuk ke Istiqlal silahkan. Namun untuk kegiatan partai politik kami dengan tegas menolaknya. Soalnya nanti kalau satu di kasih partai lain juga akan meminta. Masjid ini steril, tidak ada tempat bagi yang akan melakukan kegiatan politik dan pergerakan yang bertentangan dengan negara.

  

Nasaruddin Umar Tak Menyangka Jadi Imam Besar Masjid Istiqlal

Setelah terpilih jadi Imam Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar melakukan membut beragam program yang mendapat sororan banyak pihak. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Setelah terpilih jadi Imam Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar melakukan membut beragam program yang mendapat sororan banyak pihak. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Sejak belia sudah menjadi pelayan ummat, ia menjadi pengurus masjid dari daerah asalnya hingga ia hijrah ke Makassar saat kuliah, namun untuk menjadi Imam Besar Masjdi Istiqlal, tak terbayangkan dalam diri Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Baginya ini adalah tugas mulia menjadi pelayan rumah Allah.

Saat diberitahu akan dilantik menjadi imam besar Masjid Istiqlal, ia seperti tak percaya. “Saya tidak pernah mimpi untuk menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal. Ini benar-benar di luar prediksi saya,” katanya.

Suatu hari beberapa waktu hendak berangkat menuju Institut Pertanian Bogor untuk menjadi khatib Jumat, ia dikabari akan dilantik menjadi imam besar. Namun ia tak percaya. “Saat itu saya ditelpon salah seorang menteri, dia mengabarkan kalau saya akan dilantik. Saya tanya dilantik sebagai apa? Kalau sebagai pengurus biasa silahkan teman-teman saja. Saya enggak usah ikutan dilantik,” begitu dia menjawab pertanyaan soal dirinya yang akan dilantik.

Ternyata sang menteri yang mengabarkan itu mengatakan kalau Nasaruddin justru akan dilantik sebagai imam besar masjid Istiqlal. “Dia bilang Pak Nasaruddin akan dilantik menjadi imam besar Masjid Istiqlal. Saya katakan kalau saya tak kapabel untuk menjadi Imam besar di Istiqlal,” katanya merendah.

Sang menteri terus menyakinkan Nasaruddin untuk jabatan ini. “Saya kemudian berpikir sepanjang perjalanan menuju masjid IPB. Masak saya menolak menjadi pelayan rumah Allah. Terus terang saya takut kualat. Kalau menolak jabatan ini. Insya Allah saya sudah beberapa kali menolak jabatan yang bagus,” katanya tampa menyebutkan jabatan yang dimaksud.

Dia memang sudah tak hirau dengan posisi dan jabatan yang bersifat duniawi. Kini dia ada target untuk menulis sebuah buku tafsir. “Apa sih yang mau diharapkan lagi, saya sudah pernah jadi Dirjen di Kemenang, pernah jadi Wamenag. Kali ini diajak menjadi pelayan rumah Allah, saya berpikir sombong sekali kalau menolak tawaran ini,” lanjut pria kelahiran Ujung, Bone, 23 Juni 1959.

Meski mengiyakan untuk jabatan sebagai Imam Besar Istiqlal ini, ia mengajukan syarat agar didampingi oleh para ulama senior dan guru besar. Sejak awal dia meminta ada Majelis Muzakarah,yaitu majelis yang bertugas mengingatkan satu sama lain.

Nasaruddin Umar tak menyangka akan didaulat menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Nasaruddin Umar tak menyangka akan didaulat menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Sebelum dia menjabat, ada dua struktur di lingkungan Masjid Istiqlal, Imam Besar yang mengepalai urusan ibadah. Dan ada lagi Badan Pengelola di Bawah Kementerian Agama, yang mengurusi pengelolaan masjid secara umum. “Kondisi ini menurut saya tidak efektif. Soalnya saat itu Ketika Imam akan melakukan sesuatu tidak dapat anggaran dari Badan Pengelola. Ternyata saya diangkat menjadi Imam Besar dan juga Ketua Badan Pengelola Masjid Istiqlal,” kata Nasaruddin Umar.

Tak hanya terpilih menjadi Imam Masjid Istiqlal, Nasaruddin juga dipercaya menjadi ketua Asossiasi Imam Masjid Ibukota Dunia. “Ini belum lama, masa baktinya berapa lama pun baru akan dibicarakan dalam konferensi Asosiasi Imam Masjid Dunia di sini,” katanya.

Setelah dilantik Nasaruddin menyusun program renovasi besar-besaran, membangun terowongan silaturahim yang menghubungkan Istiqlal dan Katedral. “Ada 42 program kerja kami yang dilaunching oleh Wapres. Selain renovasi kami juga meraih beberapa prestasi awards berskala internasonal,” katanya. Belum lama ini Masjid Isiqlal berhasil meraih sertifikat sebagai Masjid yang ramah lingkungan pertama di dunia dari Bank Dunia.

Saat pandemi sedang tinggi beberapa waktu lalu Istiqlal juga mendapat penghargaan sebagai masjid yang zero corona.  “Ruang utama Istiqlal itu tidak ditemukan virus corona, karena konstruksi masjid yang terbuka. Sirkulasi udara lancar, udara dari Selatan ke Utara dan sebaliknya mengalir dengan baik. Kubahnya sangat tinggi. Lali banyak pohon hijau yang ada sekitar juga mendukung,” ujar Nasaruddin yang bertekad mempertahankan status zero corona ini.

 

Soal Jender   

dalam urusan jender Nasaruddin Umar  banyak menjadi rujukan dan tempat bertanya. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Dalam urusan jender Nasaruddin Umar banyak menjadi rujukan dan tempat bertanya. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Dalam dunia akademik, Nasaruddin Umar juga menjadi perhatian banyak pihak. Beragam karya ilmiah sudah dihasilkan baik untuk tugas akhir saat menyelesaikan satu level pendididikan maupun tugas dalam kaitannya sebagai dosen. Salah satu yang amat menonjol adalah hasil penelitiannya tentang “Perspektif Jender dalam Al-Quran.” Hasil penelian ini menjadi rujukan banyak pihak baik untuk keperluan akademis atau kegiatan praktis dalam upaya perdayaan perempuan dan kesetaraan jender.

Guru Besar  dalam bidang Tafsir pada Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini banyak menduduki jabatan struktural dan kelembagaan dan organisasi yang concern pada persoalan jender. Banyak orang jadi tercerahkan setelah mengetahui hasil penelitian yang dilakukan Nasaruddin.

Tak heran kalau dia menduduki jabatan sebagai Anggota KOMNAS Perempuan, (1999-sekarang), Ketua Program studi Agama dan Perempuan, bidang kajian wanita program pasca Sarjana UI Jakarta, (2001-Sekarang), Staf ahli PSW (Pusat Studi Wanita) IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, (2001-Sekarang), Ketua Departemen Pemberdayaan Sosial dan Perempuan ICMI Pusat, Jakarta (2000- sekarang). Dan masih banyak lagi lembaga yang meminta Nasaruddin Umar untuk terlibat secara langsung atau parsial dalam urusan jender.

 

“Hanya 20 persen Istiqlal sebagai rumah ibadah, 80 persen tempat pemberdayaan ummat dan warga bangsa lainnya. Ada dialog antarrumah-ibadah, Pendidikan TK sampai Aliyah, Istiqlal Bussines Center, Istiqlal Global Fund. Tak hanya menghimpun dana, kami juga mendistribusikannya kepada yang berhak menerima. Masjid ini tak boleh diberdayakan terus, tapi juga harus dibalik masjid memberdayakan ummat.”

Nasaruddin Umar