JAKARTA - Virus Varicella zoster penyebab cacar air ternyata tidak benar-benar hilang dari tubuh meski seseorang sudah sembuh. Virus ini dapat “tidur” di dalam saraf, tepatnya di sekitar tulang belakang, dan bisa aktif kembali sewaktu-waktu saat sistem imun melemah.
Di saat aktif kembali, virus tersebut akan muncul sebagai cacar api atau herpes zoster yang kerap menimbulkan rasa nyeri hebat.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan bahwa siapa pun yang pernah terkena cacar air berpotensi mengalami cacar api di kemudian hari. Kondisi ini dipicu oleh berbagai faktor seperti penyakit penyerta, stres, hingga penurunan daya tahan tubuh seiring bertambahnya usia.
"Masyarakat mungkin menganggap cacar api itu biasa-biasa saja, atau nanti diobati sembuh. Tapi pada kondisi-kondisi tertentu tadi bisa kena jantungnya, apalagi kalau dia punya hipertensi, diabetes melitus, dan biasanya orang tua juga gampang stres ya,"
Demikian kata Siti Nadia Tarmizi, di konferensi pers Shingles Action Week 2026 “Cegah Cacar Api Tanpa Tapi” bersama GSK, Kemenkes, PERKI dan Yayasan Jantung Indonesia, di Jakarta, baru-baru ini.
Hal serupa disampaikan oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito A. Damay, yang menegaskan virus tersebut memang menetap di dalam tubuh, tepatnya di bagian ujung saraf manusia, yang ketika sistem imun melemah, dia bisa aktif dan menginfeksi tubuh kembali.
"Cacar air ini ketika dia pulih, virusnya tidak hilang, virusnya tidur. Dia tidur di ujung saraf kita, letaknya persis di dekat tulang belakang kita. Waktu imunitasnya turun, barulah dia keluar. Maung tidak ada orang, keluar dia langsung, nah itulah yang bikin cacar api,” katanya.
Faktor risiko lain yang turut memicu munculnya cacar api antara lain usia lanjut, obesitas, penyakit jantung, serta diabetes. Selain itu, stres juga berperan besar karena dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh.
Cacar api tidak hanya dialami oleh lansia, tetapi juga bisa menyerang orang dewasa yang mengalami penurunan imunitas. Gejalanya meliputi demam, nyeri di area tertentu, hingga rasa sakit yang sering disalahartikan sebagai gangguan lain seperti nyeri dada atau perut.
"Ketika muncul mulai ada lepuhan-lepuhan isinya air. Baru ini beda, oh iya kok begini sakit sekali,” ujar Vito.
Lepuhan berisi cairan yang muncul di kulit menjadi tanda khas penyakit ini. Banyak pasien mengeluhkan rasa nyeri hebat yang bahkan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Penyakit ini juga dikenal di masyarakat sebagai dompo atau herpes.
BACA JUGA:
Dari sisi pencegahan, dr. Nadia menyarankan vaksinasi terutama bagi individu berusia 50 tahun ke atas. Ia juga menyoroti tingginya angka penderita hipertensi dan diabetes di Indonesia yang dapat meningkatkan risiko terkena cacar api.
Sementara itu, Ketua PP PERKI, Ade Meidian Ambari, menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh melalui pola hidup sehat.
"Sistem imun kita itu naik turun, kadang dia bagus, kadang dia jelek gitu. Jadi perlu diingat bahwa sistem imun itu tergantung dari lifestyle yang sehat,” katanya.
Ia menyarankan olahraga rutin minimal 150 menit per minggu dengan intensitas sedang, mengelola stres, serta menjaga pola makan bergizi. Tidur yang cukup, sekitar 6–8 jam per hari, juga penting untuk menjaga kesehatan jantung dan imunitas tubuh.
Selain itu, untuk mencegah penularan, masyarakat diimbau menghindari kontak langsung dengan lepuhan penderita. Jika harus menangani pakaian pasien, sebaiknya menggunakan sarung tangan dan mencucinya dengan air panas serta deterjen agar virus dapat mati.