JAKARTA - Seorang perempuan 47 tahun yang selama lebih dari 10 tahun hidup dengan tiga penyakit autoimun berat dilaporkan membaik drastis setelah menjalani terapi sel di Jerman. Seperti dilaporkan The Guardian yang dikutip Jumat, 10 April, kondisinya bahkan disebut nyaris kembali normal setelah pengobatan itu “mengatur ulang” sistem kekebalan tubuhnya yang sebelumnya justru menyerang tubuh sendiri.
Pasien itu menjalani terapi tahun lalu di Rumah Sakit Universitas Erlangen, Jerman, setelah sembilan jenis pengobatan sebelumnya tidak memberi hasil jangka panjang. Saat itu, ia membutuhkan transfusi darah setiap hari dan obat pengencer darah permanen untuk menahan penyakitnya.
Dalam beberapa minggu setelah terapi, dokter melihat ketiga penyakitnya merespons. Selama 14 bulan terakhir, pasien itu berada dalam remisi tanpa pengobatan, artinya gejalanya mereda tanpa perlu terapi lanjutan, dan ia sebagian besar bisa kembali menjalani hidup normal.
Menurut laporan The Guardian, tim dokter yang dipimpin Prof Fabian Müller menyebut respons pasien itu sangat cepat dan dalam. “Kecepatan dan kedalaman respons pasien ini luar biasa,” kata Müller. Ia menambahkan terapi tersebut telah “secara signifikan meningkatkan kualitas hidupnya”.
BACA JUGA:
Pasien itu mengidap tiga penyakit autoimun, yakni kondisi ketika sistem imun keliru menyerang tubuh sendiri. Penyakit pertama adalah gangguan darah langka yang membuat sistem imun menghancurkan sel darah merah. Akibatnya, pasien bisa sangat lemah dan membutuhkan transfusi rutin. Penyakit kedua membuat sistem imun merusak trombosit, yaitu komponen darah yang penting untuk menghentikan perdarahan. Penyakit ketiga justru meningkatkan risiko pembekuan darah berbahaya. Meski berbeda, ketiganya dipicu oleh sel B yang bermasalah, yaitu bagian dari sistem imun yang membuat antibodi.
Karena pilihan terapi sudah habis, dokter menawarkan CAR-T, terapi yang lebih dulu dikenal sebagai terobosan untuk beberapa jenis kanker. Caranya, sel darah putih pasien diambil, lalu sel T—pasukan imun yang bertugas memburu sel bermasalah—direkayasa agar bisa mengenali dan menghancurkan sel B yang keliru. Setelah itu, sel tersebut dimasukkan kembali ke tubuh pasien.
Hasilnya cepat terlihat. Pasien menjalani transfusi darah terakhir satu pekan setelah terapi. Dua pekan kemudian, ia sudah cukup kuat untuk kembali beraktivitas sehari-hari. Beberapa bulan kemudian, saat sel B kembali muncul, dokter melihat sel-sel itu tampak sehat. Ini memberi petunjuk bahwa terapi tersebut bukan sekadar menekan penyakit, tetapi kemungkinan benar-benar “mereset” sistem imun pasien.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Med. Meski begitu, para peneliti menegaskan hasil ini masih berupa satu laporan kasus, belum bukti bahwa terapi itu pasti efektif untuk semua pasien. Müller mengatakan uji klinis tetap diperlukan untuk mengetahui berapa lama efeknya bertahan dan apakah terapi ini juga bisa bekerja pada penyakit autoimun lain.
Prof Ben Parker, ahli reumatologi dari Manchester University NHS Foundation Trust, juga menyebut hasil ini menggembirakan. “Respons berkepanjangan tanpa terapi normal menunjukkan telah terjadi pengaturan ulang sistem imun,” katanya. Namun, ia menegaskan, laporan kasus belum cukup untuk membuktikan pengobatan ini bisa dipakai secara luas.