JAKARTA - Studi terbaru mengungkapkan membatasi waktu makan harian dapat menjadi kunci efektif dalam menurunkan sekaligus mempertahankan berat badan. Pola yang dikenal sebagaitime-restricted eatingatau makan dalam jendela waktu tertentu ini dinilai lebih sederhana dibandingkan metode diet konvensional seperti menghitung kalori.
Penelitian yang dipresentasikan dalam European Congress on Obesity menunjukkan individu dengan kelebihan berat badan yang membatasi waktu makan mereka menjadi delapan jam per hari mampu menurunkan berat badan secara signifikan. Bahkan, hasil tersebut masih bertahan hingga satu tahun setelah intervensi dilakukan.
Penulis utama studi dari University of Granada, Dr Alba Camacho-Cardenosa menjelaskan kunci keberhasilan metode ini terletak pada durasi puasa, bukan waktu makan itu sendiri.
“Studi kami menemukan bahwa membatasi jendela makan menjadi delapan jam kapan saja dalam sehari selama tiga bulan dapat menghasilkan penurunan berat badan yang signifikan setidaknya selama satu tahun,” ujarnya, dikutip dari laman Independent.co.uk.
“Manfaat ini lebih berkaitan dengan periode puasa selama 16 jam dibandingkan dengan kapan seseorang makan," lanjutnya.
Dalam penelitian tersebut, sebanyak 99 peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok dengan pola makan berbeda. Ada yang makan selama lebih dari 12 jam, sementara lainnya membatasi makan dalam jendela delapan jam, baik dimulai pagi maupun siang hari. Semua peserta juga dibekali panduan pola makan sehat ala diet Mediterania.
BACA JUGA:
Hasilnya cukup mencolok. Kelompok yang makan lebih dari 12 jam hanya kehilangan rata-rata 1,4 kilogram. Sementara itu, kelompok dengan pembatasan waktu makan berhasil menurunkan berat badan sekitar 3 hingga 4 kilogram, disertai pengurangan lingkar pinggang dan pinggul yang lebih besar.
Koordinator penelitian, Dr Jonatan Ruiz, menilai pendekatan ini memiliki potensi besar sebagai metode diet praktis.
“Puasa intermiten seperti ini tampaknya layak diterapkan bagi orang dewasa yang kelebihan berat badan. Ini menawarkan cara yang lebih sederhana, tidak terlalu melelahkan, dan lebih efisien waktu dibandingkan menghitung kalori setiap hari,” jelasnya.
Meski demikian, para ahli mengingatkan penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan efektivitas jangka panjang dan dampaknya terhadap kesehatan metabolik.
Peneliti dari University of Cambridge, Dr Maria Chondronikola, menekankan pentingnya memahami faktor lain dalam pola makan ini.
“Kita perlu mengetahui seberapa konsisten peserta mengikuti jadwal makan, jumlah kalori yang dikonsumsi, serta bagaimana pola ini memengaruhi metabolisme terkait obesitas." katanya.
Temuan ini memberikan harapan baru bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan tanpa metode diet yang rumit. Dengan hanya mengatur waktu makan, seseorang mungkin bisa mendapatkan hasil yang signifikan selama dilakukan secara konsisten.