Bagikan:

JAKARTA - Di media sosial, batas antara ruang privat dan ruang publik semakin tipis. Banyak orang merasa perlu membagikan momen, curahan hati, bahkan konflik pribadi secara real time.

Tanpa disadari, kebiasaan ini bisa berubah menjadi oversharing yakni membagikan informasi secara berlebihan hingga melampaui batas kenyamanan diri sendiri maupun orang lain.

Psikolog Ayu S. Sadewo S.Psi, Psikolog, menilai perilaku oversharing kerap terjadi tanpa disadari oleh pelakunya. Dorongan emosi yang sedang memuncak sering kali membuat seseorang bertindak impulsif, termasuk ketika hendak mengunggah sesuatu di media sosial.

"Saat emosi sedang intens, orang jadi cenderung lebih impulsif hingga kurang memikirkan dampak dari unggahannya bahwa bisa saja hal yang dia unggah sudah berlebihan," ujar Ayu, seperti dikutip ANTARA.

Lulusan Profesi Psikolog Universitas Indonesia itu menjelaskan oversharing ditandai dengan kebiasaan membagikan informasi secara berlebihan, khususnya di ruang digital. Konten yang terlalu personal atau seharusnya menjadi ranah privat, namun dipublikasikan secara terbuka, termasuk salah satu bentuknya.

Selain itu, menceritakan pengalaman yang melibatkan orang lain tanpa persetujuan juga dapat masuk kategori oversharing. Hal ini sering kali luput dari perhatian karena dianggap sebagai bagian dari kebebasan berekspresi.

"Konten yang sangat ‘emosional’ atau dilakukan saat intensitas emosi sedang tinggi, terlalu senang, terlalu sedih atau terlalu marah, atau emosi lain yang berlebihan,” imbuh dia.

Ayu menekankan pentingnya kesadaran diri sebelum membagikan sesuatu di media sosial. Salah satu strategi sederhana yang dapat dilakukan untuk mencegah perilaku impulsif adalah menerapkan teknik “pause” atau mengambil jeda sejenak sebelum menekan tombol unggah.

Dengan memberi jarak, pikiran memiliki kesempatan untuk kembali bekerja secara rasional. Emosi yang sebelumnya mendominasi bisa mereda, sehingga keputusan yang diambil menjadi lebih matang.

"Supaya ngga impulsif, take a ‘pause’ dulu. Sebelum unggah, ambil waktu sejenak, bisa sambil tarik nafas buang nafas beberapa kali, supaya proses berpikir kembali on,” tutur dia.

Melalui langkah sederhana tersebut, individu diharapkan lebih bijak dalam membagikan cerita di ruang digital menjaga keseimbangan antara kebutuhan berekspresi dan batasan privasi.