JAKARTA - Pemenuhan nutrisi pada anak usia dini menjadi salah satu fondasi terpenting dalam menentukan kualitas tumbuh kembangnya. Pada rentang usia 1–5 tahun, anak mengalami fase pertumbuhan pesat yang menuntut asupan zat gizi makro seperti karbohidrat, protein, dan lemak, sekaligus mikronutrien seperti vitamin dan mineral dalam jumlah cukup.
Tidak hanya berpengaruh pada tinggi dan berat badan, kecukupan gizi juga berkaitan erat dengan perkembangan anak seperti daya pikir, konsentrasi, hingga ketahanan tubuh anak.
Isu tersebut menjadi sorotan dalam forum edukasi bertajuk "Gizi Lengkap, Anak Tinggi & Cepat Tanggap" yang digelar oleh Danone Specialized Nutrition Indonesia. Forum edukasi ini melihat survei yang dilakukan oleh media online (Detik) terhadap ribuan ibu yang menunjukkan adanya jarak antara harapan dan praktik pemenuhan gizi anak sehari-hari.
Mayoritas orang tua menjadikan tinggi badan, berat badan, serta kemampuan kognitif sebagai indikator utama tumbuh kembang. Sekitar 60 persen responden menilai tinggi badan dan kecerdasan sebagai tolok ukur penting.
Namun, di sisi lain, 69,76 persen mengaku belum memahami perbedaan zat gizi makro dan mikro, sementara 62,87 persen menyebut vitamin dan mineral sebagai komponen yang paling sulit dipenuhi setiap hari.
Tantangan lain yang banyak dihadapi adalah anak yang cenderung pilih-pilih makanan, sebagaimana diakui oleh 69 persen responden.
Dalam diskusi tersebut, dokter spesialis gizi, dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK menekankan, kecukupan gizi tidak cukup diukur dari rasa kenyang semata. Keseimbangan antara makronutrien dan mikronutrien menjadi aspek penting yang kerap terlewat.
"Orang tua memiliki andil besar dalam menentukan apa yang akan dimakan oleh anak, kapan anak makan, dan bagaimana anak akan makan. Namun, anak sendiri yang menentukan seberapa banyak ia akan makan. Oleh sebab itu, dalam proses pemberian makan, tidak boleh ada unsur pemaksaan,” ujar dr. Juwalita.
BACA JUGA:
Ia menjelaskan, pada periode emas usia 1–5 tahun, anak membutuhkan kombinasi zat gizi yang seimbang. Zat besi, vitamin A, vitamin D, zinc, serta DHA termasuk mikronutrien yang berperan dalam mendukung perkembangan otak dan sistem imun. Pemilihan bahan makanan pun perlu disesuaikan dengan kebutuhan spesifik sesuai tahap usia anak.
Selain asupan makanan, stimulasi juga menjadi faktor penting dalam mendukung perkembangan optimal. Aktivitas sederhana seperti mengajak anak berbicara, membacakan buku, hingga bermain bersama dapat membantu memperkuat perkembangan kognitif dan emosional. Menurut dr. Juwalita, gizi dan stimulasi merupakan dua aspek yang saling melengkapi.
Dalam kesempatan yang sama, Dr. Ray Wagiu Basrowi menambahkan tantangan pemenuhan gizi bukan hanya soal jumlah makanan, melainkan juga kualitasnya.
"Banyak orang tua merasa anak sudah cukup makan. Namun, kenyang belum tentu lengkap. Anak membutuhkan kombinasi protein berkualitas, zat besi, zinc, vitamin C, DHA, Omega-3, serta berbagai vitamin dan mineral esensial lainnya untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitifnya. Nutrisi tersebut bekerja secara sinergis, sehingga keseimbangan menjadi sangat penting,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan hasil riset internal bersama Indonesia Nutrition Association (INA) yang menunjukkan anak yang mengonsumsi susu terfortifikasi zat besi memiliki kecukupan zat besi lebih baik dibandingkan yang tidak. Meski demikian, ia menekankan sumber pangan beragam dan padat gizi tetap menjadi dasar utama dalam pola makan seimbang.
Dari sisi orang tua, Dhea Ananda membagikan pengalamannya menghadapi anak yang selektif dalam memilih makanan. Ia mengakui bahwa memahami kebutuhan gizi anak secara menyeluruh bukan hal yang sederhana.
“Sebagai orang tua, kita tentu ingin anak tumbuh tinggi, berat badannya ideal, dan kemampuan kognitifnya berkembang dengan baik. Namun, memahami kebutuhan nutrisi anak secara menyeluruh tidak sesederhana itu. Awalnya saya juga belum memahami perbedaan zat gizi makro dan mikro, padahal vitamin dan mineral memiliki peran penting dan sering kali lebih menantang untuk dipenuhi setiap hari,” tuturnya.
Menurutnya, edukasi gizi yang praktis dan mudah dipahami sangat membantu orang tua dalam membuat keputusan terkait asupan anak sehari-hari.
Melalui forum ini, para orangtua disaranakn untuk tidak hanya memastikan anak makan dalam jumlah cukup, tetapi juga memperhatikan keberagaman, keseimbangan nutrien, serta pendekatan pemberian makan yang responsif tanpa paksaan.