Bagikan:

YOGYAKARTA - Cacar api atau herpes zoster kerap dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang orang lanjut usia. Padahal, risikonya bisa mulai muncul ketika daya tahan tubuh menurun, seringnya tanpa kita sadari. Karena itu, vaksin penting dilakukan sebagai langkah pencegahan.

Namun sayangnya, banyak yang masih bingung kapan harus vaksin cacar api dan siapa saja yang membutuhkannya. Sebagian mengira vaksin hanya diperlukan jika sudah pernah terkena cacar api sebelumnya. Padahal, rekomendasi medis justru menekankan tindakan pencegahan. Lantas kapan dan siapa yang harus mendapatkan vaksin? Berikut pembahasannya.

Apa Itu Vaksin Cacar Api?

Dilansir dari Cleveland Clinic, vaksin cacar api adalah vaksin yang diberikan untuk mengurangi risiko terkena cacar api. Cacar api adalah ruam yang terasa nyeri yang dapat muncul beberapa dekade setelah terkena cacar air. Vaksin ini juga dapat mengurangi risiko neuralgia pascaherpetik (PHN), nyeri kronis setelah infeksi cacar api.

Saat ini, vaksin cacar api yang direkomendasikan adalah Shingrix. Vaksin ini diberikan dalam dua dosis dan terbukti memberikan perlindungan yang lebih kuat dibandingkan vaksin generasi sebelumnya. Karena efektivitasnya, Shingrix menjadi standar utama pencegahan cacar api.

Kapan Harus Vaksin Cacar Api?

Menurut rekomendasi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Amerika Serikat, vaksin cacar api dianjurkan untuk orang dewasa usia 50 tahun ke atas. Vaksin diberikan dalam dua dosis dengan jarak dua hingga enam bulan. Jadwal ini diatur untuk memberikan perlindungan optimal dalam jangka panjang.

Selain itu, vaksin cacar api juga direkomendasikan untuk orang berusia 19 tahun ke atas dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Kondisi ini termasuk penderita penyakit tertentu atau mereka yang menjalani terapi yang menurunkan imunitas.

Penting untuk diketahui bahwa Anda tetap disarankan vaksin meskipun pernah menderita cacar api. Vaksin membantu menurunkan kemungkinan kambuh kembali di kemudian hari. Namun, pastikan ruam sudah sembuh sepenuhnya sebelum menerima suntikan pertama.

Anda juga tetap perlu vaksin jika sebelumnya pernah menerima vaksin cacar api lama, yaitu Zostavax. Vaksin Shingrix tetap dianjurkan karena memberikan perlindungan yang lebih kuat dan tahan lama. Hal ini penting untuk mengurangi risiko komplikasi di usia lanjut.

Bagi Anda yang tidak yakin pernah menderita cacar air, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis. Dokter dapat menyarankan tes titer, tes darah yang mengukur keberadaan dan jumlah antibodi tertentu yang Anda miliki. Hasil tes ini membantu menentukan apakah Anda pernah menderita cacar air sebelumnya.

Namun, vaksin cacar api tidak dianjurkan bagi orang yang pernah mengalami reaksi alergi parah terhadap vaksin ini. Selain itu, jika hasil tes menunjukkan Anda belum pernah terpapar virus cacar air, vaksin cacar air menjadi pilihan yang lebih tepat. Keputusan vaksinasi sebaiknya selalu berdasarkan rekomendasi medis.

Efek Samping dan Prosedur Vaksin Cacar Api

Vaksin cacar api diberikan melalui suntikan di lengan atas oleh tenaga kesehatan. Dosis kedua biasanya diberikan dua hingga enam bulan setelah dosis pertama. Setelah dua dosis lengkap, perlindungan dapat bertahan setidaknya selama tujuh tahun.

Efek samping biasanya bersifat ringan dan sementara. Beberapa di antaranya adalah nyeri di tempat suntikan, kemerahan, kelelahan, sakit kepala, demam, atau mual. Gejala ini umumnya akan hilang dalam beberapa hari tanpa perawatan khusus.

Reaksi alergi berat sangat jarang terjadi, tetapi tetap perlu diwaspadai. Jika muncul ruam gatal, pembengkakan wajah dan tenggorokan, sesak napas, pusing berat, atau detak jantung cepat, segera cari pertolongan medis.

Selain pembahasan di atas, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di VOI.ID. Agar tidak ketinggalan kabar terupdate follow dan pantau terus akun sosial media kami!

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+