JAKARTA - Sarapan sering disebut sebagai waktu makan paling penting dalam sehari-hari. Namun, pilihan menu sarapan kerap jadi perdebatan, terutama bagi mereka yang sedang menjalani diet.
Salah satu pilihan cukup populer adalah putih telur, karena dikenal tinggi protein dan rendah kalori.
Putih telur memang rendah kalori, lemak, dan kolesterol, serta kaya protein. Menurut ahli diet Karen Ansel, R.D.N., putih telur memiliki sekitar 3,5 gram protein berkualitas tinggi per butir dan merupakan makanan yang baik untuk mengontrol nafsu makan dan mendukung pembentukan otot.
“Dengan protein berkualitas tinggi sebanyak tiga setengah gram per butir, putih telur adalah makanan unggulan untuk kontrol nafsu makan dan pembentukan otot,” ujar Ansel, dikutip dari laman Women's Health.
Namun setelah dua minggu menjalani kebiasaan baru ini, apa saja perubahan yang dialami?
1. Kenyang Lebih Lama dari yang Diperkirakan
Awalnya ia khawatir sarapan putih telur saja tidak cukup mengenyangkan sampai siang. Ternyata, dua sampai tiga putih telur cukup membuat perut terasa kenyang hingga waktu makan siang.
“Tidak ada bunyi perut keroncongan jam 10 pagi selama eksperimen ini berlangsung," katanya.
Ia menambahkan sayuran seperti bayam atau daun bawang dan seporsi buah agar variasi rasa tetap ada.
2. Energi untuk Olahraga Jadi Lebih Stabil
Sebelum berolahraga pagi, tubuh butuh asupan ringan yang tidak membuat perut terasa penuh dan di sinilah putih telur bekerja dengan baik. Menurutnya, dua putih telur rebus menjadi bahan bakar yang ideal untuk lari pagi atau sesi gym.
“Energi terasa lebih stabil tanpa rasa lemas mendadak seperti setelah makan pisang atau roti,” katanya.
Tidak ada rasa kembung atau rasa berat di perut yang sering muncul setelah sarapan berat.
BACA JUGA:
3. Makan Putih Telur Membosankan
Walau bermanfaat, putih telur ternyata mudah membuat bosan. Meski tampaknya bisa dipadukan dengan apa saja, ia menemukan selera makan cepat jenuh. Ia mencoba resep 'oatmeal tanpa oat', putih telur dicampur pisang, susu, dan kayu manis. Hasilnya tidak memuaskan.
“Rasanya seperti campuran putih telur orak-arik yang encer dan pisang,” katanya.
"Tekstur omelet putih telur juga sering terlalu kenyal, seperti plastik," tambahnya.
4. Kerinduan pada Kuning Telur
Selama dua minggu, ia sangat merindukan kuning telur. Tak hanya soal rasa, kuning telur juga mengandung nutrisi penting yang tidak ada di putihnya.
Ansel menjelaskan hampir semua nutrisi telur, termasuk vitamin B, E, D, zat besi, zinc, dan kolin banyak terkandung di kuning telur.
“Kuning telur memberi hampir semua nutrisi penting, seperti vitamin B, E, vitamin D, zat besi, zinc, dan kolin,”jelas Ansel.
Selain itu, lemak sehat dalam kuning telur membantu rasa kenyang bertahan lebih lama.
5. Banyak Telur yang Terbuang
Karena menggunakan telur utuh dan memisahkan putihnya sendiri, banyak kuning telur yang akhirnya terbuang, meski sudah diusahakan untuk digunakan di resep lain.
“Saya merasa sedikit bersalah karena membuang banyak kuning telur. Lain kali saya akan membeli putih telur kemasan saja agar tidak banyak terbuang.” jelasnya.