JAKARTA - Selama ini banyak orang yang menganggap bahwa rokok dapat membantu meredakan stres. Namun, hal tersebut ternyata salah, karena sejumlah penelitian menyatakan yang sebaliknya.
Orang yang merokok ternyata lebih mudah mengalami gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan, depresi, bahkan gangguan tidur dibanding mereka yang tidak merokok.
“Meskipun bahaya fisik dari merokok sudah diketahui dengan baik, penelitian ini menunjukkan risiko kesehatan mental dari penggunaan tembakau,” kata ahli dalam kecanduan dan kesehatan mental di Universitas York, Dr. Ian Hamilton, dikutip dari The Guardian, pada Senin, 3 November 2025.
Kandungan nikotin yang ada di dalam rokok memberikan efek ‘tenang’ sementara. Di balik sensasi tersebut, terdapat reaksi kimia yang justru membuat otak semakin merasa ketergantungan.
Saat kadar nikotin menurun, maka perasaan cemas dan gelisah dapat muncul kembali. Kadar nikotin yang menurun akan membuta kadar dopamin (hormon kebahagiaan) ikut menurun, yang membuat suasana hati jadi buruk dan muncul dorongan untuk merokok kembali.
Pada akhirnya, otak akan berhenti memproduksi dopamin secara alami tanpa bantuan nikotin. Ini mengakibatkan perokok sulit merasa bahagia atau tenang, hingga cenderung lebih rentan stres jika tidak merokok.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa merokok tidak mengatasi stres, hanya menundanya. Saat efek nikotin menghilang stres yang sempat ditekan akan muncul kembali, bahkan berefek lebih kuat dari yang sebelumnya.
BACA JUGA:
Bagi mereka yang sudah mengalami gangguan kesehatan mental sebelumnya, seperti depresi atau skizofrenia, merokok bisa memperburuk kondisi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perokok dengan gangguan mental lebih sulit pulih dan memiliki harapan hidup lebih pendek dibanding yang tidak merokok.
Oleh karena itu, menurut Dokter Ian, edukasi kepada masyarakat terkait dampak rokok tak hanya untuk fisik, tetapi juga mental ini harus semakin diperluas. Terutama pada kalangan anak-anak yang menjadi generasi penerus di masa depan.
“Risikio ini harus dikomunikasikan secara luas, tetapi terutama kepada anak-anak usia sekolah yang mungkin tergoda untuk mencoba merokok,” pungkas Dokter Ian.