Bagikan:

JAKARTA - Memilih susu untuk anak ternyata bukan sekadar soal rasa yang disukai si kecil atau kemasan yang menarik perhatian di rak supermarket.

Apalagi saat ini sudah banyak pilihan susu pertumbuhan yang beredar saat ini, orang tua seolah dituntut untuk lebih teliti memahami kandungan nutrisi yang benar-benar dibutuhkan anak selama masa tumbuh kembang.

Apalagi di usia emas pertumbuhan, kebutuhan nutrisi anak tidak hanya berkaitan dengan tinggi dan berat badan, tetapi juga perkembangan otak, kebiasaan makan, hingga pola konsumsi jangka panjang. Karena itu, memahami label gizi dan komposisi susu menjadi hal penting yang sering kali masih terlewatkan.

Nutrition Partnership and Research Manager AceKid Indonesia, Ratri Aryanti, S.Tr.Gz., menjelaskan salah satu hal mendasar yang perlu dipahami orang tua adalah perbedaan antara susu pertumbuhan dengan susu UHT atau pasteurisasi.

Menurut Ratri, susu pertumbuhan umumnya memiliki tambahan nutrisi tertentu yang memang diformulasikan untuk mendukung tumbuh kembang anak, seperti DHA dan AA.

"Kalau susu UHT atau pasteurisasi memang tetap mengandung susu full cream, tetapi biasanya tidak ditambahkan DHA dan AA yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak," jelas Ratri dalam Media Gathering Acekid di Jakarta, Senin, 25 Mei.

Media Gathering Acekid
Narasumber yang hadir di Media Gathering Acekid, di Jakarta, Senin, 25 Mei. (Dinno/VOI)

Ia menambahkan, kandungan DHA dan AA tidak hanya penting hadir dalam susu, tetapi juga perlu memiliki rasio yang seimbang. Selain dua kandungan itu, Ratri menilai orang tua juga perlu memerhatikan nutrisi makro dalam susu, seperti kalori, protein, karbohidrat, dan lemak.

Susu pertumbuhan umumnya juga diperkaya dengan vitamin dan nutrisi tambahan lain seperti vitamin D3 dan omega-6 yang mungkin tidak selalu didapatkan anak dari makanan sehari-hari.

"Yang paling utama tetap kebutuhan dasar seperti kalori, protein, karbohidrat, dan lemak. Setelah itu baru kita lihat fortifikasi tambahan seperti DHA, AA, atau vitamin lainnya," ujarnya.

Tak kalah penting, orang tua juga disarankan untuk lebih teliti membaca komposisi bahan pada kemasan, bukan hanya melihat label gizi. Beberapa bahan tambahan seperti maltodextrin atau sirup jagung sering kali tidak terlihat pada tabel nilai gizi, melainkan tercantum di daftar komposisi produk.

“Sekarang banyak orang tua mulai mencari susu tanpa maltodextrin. Nah, itu tidak terlihat di label gizi, tetapi harus dicek di bagian komposisi,” jelasnya.

Kandungan gula dan perisa tambahan juga perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi preferensi rasa anak di kemudian hari. Terlebih anak-anak saat ini sangat mudah terpapar makanan manis.

Jika selera atau lidahnya sudah terbiasa dengan rasa itu, maka di kemudian hari, mereka akan mencari atau menyukai rasa yang serupa.

Melihat akan hal itu, Ratri menyarankan orang tua untuk mulai lebih cermat membaca kandungan susu anak secara menyeluruh, mulai dari nutrisi utama, kadar gula, hingga bahan tambahan lain yang digunakan dalam produk.

"Jadi bukan hanya melihat iklan atau klaim di kemasan, tetapi benar-benar memahami kandungan yang ada di dalam susu tersebut," tutupnya.