JAKARTA - Siapa yang menyangka, aktivitas yang dulu identik dengan hobi nenek-nenek kini kembali jadi tren? Merajut yang dulu dianggap kuno, belakangan justru populer di kalangan anak muda.
Data dari Eventbrite menunjukkan minat Generasi Z pada kegiatan grannycore, seperti komunitas merajut dan kelas kerajinan, meningkat pesat dalam beberapa bulan terakhir.
Alasannya banyak anak muda merasa jenuh dengan dunia digital dan mencari aktivitas yang menenangkan. Tapi ternyata, manfaat merajut jauh melampaui sekadar nostalgia.
Sejumlah penelitian terbaru mengungkap aktivitas ini bisa membantu menjaga kesehatan otak, memperkuat memori, mengatur emosi hingga menurunkan stres.
Aktivitas ini menggabungkan koordinasi motorik halus, kreativitas, serta gerakan ritmis dengan kedua tangan. Kombinasi tersebut membuat otak bekerja lebih luas.
“Bentuk kreativitas apa pun itu bermanfaat,” kata Emily Sharp, terapis seni di NY Art Therapy, dikutip dari laman National Geographic.
Ia menjelaskan gerakan berulang dengan kedua tangan menciptakan stimulasi bilateral yang mirip dengan terapi EMDR. Efeknya bisa menurunkan kadar kortisol (hormon stres) sekaligus meningkatkan serotonin dan dopamin yang berhubungan dengan rasa senang.
Alvaro Pascual-Leone, profesor neurologi di Harvard Medical School menambahkan aktivitas seperti merajut juga melibatkan sistem dopamin otak.
"Aktivitas ini bisa meningkatkan fokus dan berpotensi menunda penurunan fungsi kognitif akibat penuaan,” jelasnya.
Menariknya dopamin yang dihasilkan dari merajut berbeda dengan dopamin instan dari media sosial atau gula.
"Tidak baik kalau terlalu banyak dopamin, tidak baik juga kalau terlalu sedikit. Fungsi otak yang stabil dan menyenangkan lebih baik daripada ledakan bahan kimia,” tambah Pascual-Leone.
Bagi yang sudah jago merajut, manfaat kognitifnya mungkin berkurang. Menurut Pascual-Leone, rahasia manfaat terbesar bukan terletak pada hobinya, melainkan pada proses belajar hal baru.
“Kalau Anda belum pernah merajut, maka merajut itu terasa sempurna. Tapi kalau sudah profesional, tidak merasakannya. Memang masih memberi rasa pencapaian, tapi tujuan utamanya adalah membuat otak menghadapi tantangan yang belum pernah dilakukan,” ujarnya.
Hal baru memaksa otak menyalakan jalur saraf yang berbeda. Saat terbiasa, aktivitas itu justru bisa menjadi meditasi yang menenangkan. Proses dari tantangan hingga mahir inilah yang menjaga fungsi otak.
Penurunan fungsi otak sebenarnya sudah mulai jauh sebelum gejalanya muncul. Karena itu, melatih otak lewat hobi kreatif bisa menjadi investasi penting bagi kesehatan jangka panjang.
“Hobi yang menantang otak akan sangat bermanfaat untuk kesehatan otak dalam jangka panjang,” kata Lakelyn Eichenberger, seorang gerontolog dari Home Instead.
Menurutnya kegiatan kreatif berbasis tangan membantu memperkuat koneksi otak, sesuatu yang sangat dibutuhkan saat proses penuaan membuat neuron berkurang secara alami.
Aktivitas seperti quilting, sulam, mengukir, membuat tembikar, hingga menjilid buku juga memberikan manfaat serupa.
Lebih dari sekadar latihan otak, kegiatan seperti merajut juga memberikan efek sosial dan emosional. Bergabung dalam kelompok merajut atau kelas kerajinan bisa membantu mengurangi rasa kesepian, terutama saat seseorang memasuki masa pensiun.
"Orang yang terlibat dalam aktivitas ini sering merasa lebih bahagia, lebih sehat, dan lebih puas dengan hidup mereka.” tambah Eichenberger.
BACA JUGA:
Penelitian dalam BMC Public Health pun mendukung hal ini. Hobi dari kreativitas tangan meningkatkan kesejahteraan psikologis. Penelitian pada penderita Parkinson menemukan terapi seni kreatif bisa membantu memperbaiki memori, ketangkasan motorik dan ketahanan emosional.