Bagikan:

JAKARTA - Kerupuk adalah salah satu makanan pendamping yang sangat lekat dengan kebiasaan makan orang Indonesia. Hampir di setiap meja makan, kerupuk hadir sebagai pelengkap yang membuat sajian terasa lebih gurih dan nikmat.

Teksturnya yang renyah serta rasanya yang ringan membuat banyak orang sulit berhenti ketika sudah mulai mengunyah.

Namun di balik kenikmatan tersebut, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam mengonsumsi kerupuk. Melalui program Budi Gemar Sharing (BGS) yang diunggah di akun Instagram resminya, ia menuturkan bahwa kerupuk memang enak, bahkan dirinya sebagai orang Sunda juga sangat menggemarinya. 

"Saya suka makan kerupuk. Hal-hal kecil tapi nyebelin dari kerupuk. Emang enak banget, renyah apalagi dikecapin, enak banget. Orang Sunda suka banget makan kerupuk," ujar Menkes, dikutip dari akun Instagram @bgsadikin.

Meski begitu, Budi menegaskan masyarakat perlu memahami kandungan kalori di balik camilan sederhana tersebut. Ia memaparkan, satu buah kerupuk bisa mengandung sekitar 65 kalori. Jika dalam sehari seseorang menghabiskan satu renteng berisi 10 kerupuk, artinya sudah ada 650 kalori yang masuk ke tubuh.

"Bayangin hobinya ngemilin kerupuk, enggak terasa satu renteng sehari habis, berarti kita sudah memasukkan 10 dikali 65 kalori yang hasilnya 650 kalori. Pastinya ini tidak membuat kita kenyang," bebernya.

Budi kemudian memberikan gambaran perbandingan. Jumlah kalori dari 10 kerupuk ternyata hampir sama dengan satu porsi nasi putih lengkap dengan lauk pauk, seperti ayam bakar, tahu, dan tempe. Bedanya, sepiring nasi dengan lauk tentu jauh lebih bernutrisi dan memberikan rasa kenyang.

“Kalori 10 kerupuk itu mirip dengan sepiring nasi lengkap. Bedanya, nasi dan lauk pauk memberi energi, protein, serta zat gizi lain yang lebih dibutuhkan tubuh. Selain itu, tentu lebih mengenyangkan,” katanya.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi (Foto: Instagram/@bgsadikin)
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi (Foto: Instagram/@bgsadikin)

Menurut Menkes, kerupuk tetap bisa dinikmati, namun sebaiknya hanya sesekali dan dalam jumlah kecil. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan kerupuk sebagai camilan rutin dalam jumlah besar, terutama bagi mereka yang sedang menjaga berat badan atau mengatur pola makan sehat.

“Itu versi sehatnya, tapi kalau mau makan sekali-kali dan sedikit-sedikit enggak apa-apa, enak kok kerupuk,” tambahnya.

Pesan dari Menkes ini mengingatkan banyak makanan sehari-hari yang terlihat ringan ternyata menyimpan kalori cukup tinggi. Jika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik dan pola makan seimbang, kalori berlebih dapat menumpuk dan berisiko menimbulkan masalah kesehatan, seperti berat badan naik hingga penyakit metabolik.

Dengan memahami kandungan gizi dari makanan, masyarakat diharapkan bisa lebih bijak dalam memilih apa yang masuk ke tubuh. Kerupuk boleh saja hadir sebagai pelengkap rasa, tetapi jangan sampai menggeser makanan utama yang lebih bergizi.