JAKARTA - Banyak orang percaya ramuan herbal, terutama air rebusan daun, dapat menjadi solusi alami untuk membersihkan ginjal. Namun, keyakinan ini justru bisa menyesatkan.
Menurut para ahli, penggunaan bahan herbal tanpa takaran dan penelitian yang tepat justru berpotensi merusak ginjal karena bisa mengandung senyawa nefrotoksik—zat yang meracuni ginjal.
Dokter spesialis urologi, dr. Sigit Sholichin, Sp.U, FICRS, mengingatkan minuman herbal yang diklaim dapat "membersihkan" ginjal bisa menimbulkan efek sebaliknya.
Dalam sebuah diskusi tentang transplantasi ginjal di Jakarta, ia menegaskan bahwa bahan alami seperti daun-daunan yang direbus tanpa standar dosis yang jelas berpotensi merusak organ ginjal.
"Justru bisa berbahaya. Ramuan dari daun yang direbus dan diminum itu bisa saja mengandung komponen yang toksik bagi ginjal, terutama kalau tanpa dosis atau takaran yang tepat,” ujar dr. Sigit, seperti dikutip ANTARA.
Ia menjelaskan pengobatan herbal tanpa pengawasan medis bisa membawa risiko besar, sebab tak ada standar baku terkait jumlah daun, banyaknya air, dan lama perebusan. Semua itu mempengaruhi konsentrasi zat aktif di dalam ramuan, yang apabila berlebihan bisa menyebabkan kerusakan ginjal.
Selain penggunaan herbal tanpa pengawasan, dr. Sigit juga menyoroti bahaya konsumsi obat pereda nyeri secara berlebihan. Ia menyampaikan bahwa salah satu penyebab umum dari gagal ginjal adalah konsumsi jangka panjang obat-obatan seperti analgesik, terutama tanpa resep atau kontrol dokter.
BACA JUGA:
Ia mencontohkan kasus seorang pasien berusia 28 tahun yang mengalami gagal ginjal akibat mengonsumsi obat sakit kepala dalam jangka waktu lama.
"Pasien tersebut mengalami nyeri kepala kronik dan sering minum obat pereda nyeri. Tanpa disadari, itu menyebabkan kerusakan permanen pada ginjalnya,” kata dia.
Obat pereda nyeri, menurutnya, seharusnya tidak dikonsumsi terus-menerus lebih dari dua minggu. Jika nyeri tak kunjung hilang, penting untuk melakukan pemeriksaan medis menyeluruh guna mengetahui penyebab yang sebenarnya.
Dr. Sigit juga mengingatkan pentingnya mengenali tanda-tanda gagal ginjal sejak dini. Salah satu indikasinya adalah produksi urine yang menurun drastis. Gejala lanjutan bisa berupa pembengkakan tubuh dan mual akibat peningkatan kadar urea dalam darah (uremia).
"Kalau kencing sudah mulai sedikit, badan terasa bengkak, dan muncul mual-mual, bisa jadi itu gejala gagal ginjal stadium lanjut,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa penyebab gagal ginjal yang paling umum adalah komplikasi dari penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes. Namun, faktor gaya hidup, termasuk konsumsi obat berlebihan dan penggunaan herbal tanpa pengawasan, juga memainkan peran besar.