Partager:

JAKARTA - Pasukan Indonesia yang akan dikirim sebagai bagian dari International Stabilization Forces (ISF) ke Jalur Gaza, Palestina, akan fokus pada humanitarian (kemanusiaan), bukan pelucutan senjata.

Pengerahan ISF seiring dengan dimulainya fase kedua perdamaian di Gaza yang diumumkan bulan lalu. Pengiriman ISF juga disebutkan dalam Poin 7 Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803, di mana ISF bertugas untuk menstabilkan keamanan, mengamankan koridor kemanusian hingga pelucutan senjata secara permanen dari kelompok bersenjata non-negara.

Juru bicara II Kementerian Luar Negeri RI Vahd Nabil A. Mulachela mengatakan, Indonesia terus melakukan proses persiapan untuk pengiriman pasukan ke wilayah kantong Palestina tersebut.

"Mengenai timeline, belum ada yang definitif, jumlah juga belum definitif, tapi prosesnya memang sedang dilakukan dan ini memang memerlukan koordinasi, bukan hanya di dalam negeri, tapi juga dengan pihak-pihak di luar negeri," jelasnya kepada media Hari Selasa (10/2).

"Mengenai mandat dan term of keterlibatan, itu hal yang perlu pembahasan dan ini masih berlangsung," lanjutnya.

"Kalau untuk keterlibatan Indonesia sudah dijelaskan, bahwa lebih fokus pada humanitarian dan tidak terlibat dalam pelucutan senjata," tandasnya.

Saat dikonfirmasi terpisah, Nabyl mengatakan pendekatan Indonesia pada aspek kemanusiaan.

"Pendekatan Indonesia akan menitikberatkan pada perlindungan warga sipil, dukungan kemanusiaan dan rekonstruksi Gaza, serta peran yang terdefinisi jelas dan bersifat non-ofensif," jelasnya dalam pesan singkat kepada VOI.id.

Sebelumnya, stasiun penyiaran publik Israel, KAN, melaporkan pada Hari Selasa bahwa: "Persiapan telah dimulai di lapangan untuk menampung tentara Indonesia di Gaza, yang akan diintegrasikan ke dalam pasukan stabilisasi internasional."

KAN mengatakan belum ada tanggal pasti untuk kedatangan pasukan tersebut, tetapi pasukan asing pertama yang diperkirakan akan mencapai Gaza adalah dari Indonesia, seperti melansir Anadolu.

KAN menyebut area di selatan Jalur Gaza, antara kota Rafah dan Khan Younis, telah disiapkan untuk menerima pasukan Indonesia.

Mengutip sumber-sumber yang tidak disebutkan namanya, stasiun penyiaran tersebut mengatakan bahwa area yang ditunjuk "sudah siap," tetapi persiapan bangunan dan perumahan di sana "akan memakan waktu beberapa minggu."

"Jumlah tentara Indonesia diperkirakan beberapa ribu, dan diskusi sudah berlangsung dengan Jakarta mengenai rencana awal untuk mengerahkan pasukan Indonesia dan bagaimana mereka akan diangkut ke Gaza," kata stasiun penyiaran tersebut.

Nabyl menekankan, kemunginan partisipasi Indonesia dalam upaya perdamaian di Gaza tetap dengan pertimbangan yang cermat.

"Fokus diskusi saat ini adalah untuk memastikan mandat yang jelas, perlindungan warga sipil, dan konsistensi dengan prinsip-prinsip penjaga perdamaian Indonesia yang telah lama ada," jelasnya.

"Pada tahap ini, belum ada keputusan akhir yang diambil, dan kami belum dapat mengkonfirmasi detail terkait jumlah, komposisi, jangka waktu, atau area operasi tertentu," tandasnya.

Terpisah, Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Donny Ermawan Taufanto mengatakan seluruh persiapan telah dilakukan dan saat ini pemerintah hanya menunggu keputusan politik serta waktu keberangkatan.

"Panglima TNI sudah menyiapkan prajurit kita untuk sewaktu-waktu diberangkatkan. Tinggal menunggu perintah dan koordinasi kapan kita berangkat. Intinya, kita sudah siap," ujar Donny di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)