JAKARTA - Masyarakat Indonesia tercatat menghabiskan sebesar Rp256 triliun untuk berbelanja produk keperluan sehari-hari atau fast moving consumer good (FMCG) hingga produk teknologi atau barang elektronik sepanjang kuartal III tahun ini.

Data tersebut berdasarkan laporan Retail Spend Barometer Indonesia yang dirilis oleh NielsenIQ (NIQ). Laporan NIQ ini memberikan gambaran menyeluruh terkait dengan belanja konsumen ritel di berbagai sektor di Indonesia.

Executive Director for Retail Vertical at NIQ in Indonesia, Wiwy Sasongko mengatakan dari total pengeluaran masyarakat Indonesia yang sebesar Rp256 triliun tersebut, produk FMCG berkontribusi sebanyak 81 persen dan produk teknolog berkontribusi sebesar 19 persen.

“Konsumen menunjukkan selera belanja yang lebih baik pada kuartal III-2024, meskipun masih lambat, baik untuk FMCG maupun consumer tech,” tutur Wiwy dalam keterangannya, Sabtu, 30 November.

Wiwy mengatakan khusus untuk FMCG, konsumen Indonesia menghabiskan sebanyak Rp208 triliun pada kuartal III-2024, naik 1,1 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Lebih lanjut, Wiwy mengatakan value pertumbuhannya juga naik dari 0,2 persen pada di kuartal II-2024 ke 1,1 persen di kuartal III-2024.

“Peningkatan pengeluaran untuk produk FMCG utamanya didorong oleh pengeluaran untuk produk beverages, seperti kopi, teh siap minum, air mineral, termasuk minuman yang perlu diseduh dulu, serta produk ambient food seperti makanan yang cukup disimpan di suhu ruangan seperti mi instan, minyak goreng, kecap, dan sebagainya,” jelasnya.

Selain itu, NIQ juga mencatat tumbuhnya pengeluaran di segmen beverages dan ambient food melebihi capaian pada kuartal II-2024. Dimana pengeluaran untuk beverages tumbuh 6 persen pada kuartal III-2024, atau naik 3,9 persen dari kuartal sebelumnya.

“Begitu juga pengeluaran untuk ambient food yang melonjak dari tumbuh 1,9 persen pada kuartal II-2024 menjadi 6,6 persen pada kuartal III-2024,” ucapnya.

Wiwy mengatakan kategori lain yang tumbuh signifikan dalam pengeluaran untuk produk-produk FMCG adalah snacking seperti biskuit, snack, dan cokelat, tumbuh dari 3,6 persen di kuartal II-2024 melonjak menjadi 9,5 persen pada kuartal III-2024.

“Sektor beverages dan ambient food adalah pendorong pertumbuhan FMCG, sementara produk IT dan telekomunikasi mendorong pertumbuhan consumer tech,” tutur Wiwy.

Secara rinci, sambung Wiwy, untuk pengeluaran konsumen pada barang-barang tech dan durables juga menunjukkan tren positif pada kuartal III-2024 dengan tumbuh 4,3 persen secara tahunan (yoy). Pertumbahan tersebut utamanya didorong oleh sektor technical consumer goods.

Berdasarkan data NIQ, pengeluaran di sektor ini menjadi yang tertinggi dengan kenaikan sebesar 6,2 persen pada kuartal III-2024 dan tumbuh 12,7 persen dari tahun lalu.

“Dan primadona di sektor ini adalah IT (PC dan tablet) dan Telco (smartphone), di mana konsumen lebih banyak membelanjakan uangnya untuk membeli produk PC atau tablet dan ponsel yang memberikan value lebih tinggi kepada mereka,” jelasnya.

Di sisi lain, kata Wiwy, pembelanjaan untuk produk-produk DIY & home improvement justru mengalami penurunan sebesar 14,8 persen, di mana belanja lampu LED menjadi kontributor terbesar yaitu turun paling tinggi sebesar 16,9 persen.

“Begitu juga pengeluaran untuk produk home appliance seperti perangkat rumah tangga meliputi mesin cuci, AC, kulkas turun 2,2 persen, dengan penurunan terbesar terjadi pada produk air conditioner -2,4 persen dan mesin cuci -5,4 persen,” katanya.

Secara keseluruhan, kata Wiwy, pertumbuhan pengeluaran untuk produk FMCG dan teknologi di kuartal III-2024 tersebut, sejalan dengan stabilitas perekonomian Indonesia, ditandai dengan inflasi yang terkendali di 1,8 persen dan pertumbuhan ekonomi 4,9 persen, dengan kenaikan 1,5 persen (qtoq) dibandingkan kuartal II-2024.

“Menjelang musim liburan akhir tahun, konsumen diperkirakan akan terus meningkatkan pengeluaran mereka sehingga menghasilkan pertumbuhan pasar yang lebih tinggi,” ucapnya.

JAKARTA - Masyarakat Indonesia tercatat menghabiskan sebesar Rp256 triliun untuk berbelanja produk keperluan sehari-hari atau fast moving consumer good (FMCG) hingga produk teknologi atau barang elektronik sepanjang kuartal III tahun ini.

Data tersebut berdasarkan laporan Retail Spend Barometer Indonesia yang dirilis oleh NielsenIQ (NIQ). Laporan NIQ ini memberikan gambaran menyeluruh terkait dengan belanja konsumen ritel di berbagai sektor di Indonesia.

Executive Director for Retail Vertical at NIQ in Indonesia, Wiwy Sasongko mengatakan dari total pengeluaran masyarakat Indonesia yang sebesar Rp256 triliun tersebut, produk FMCG berkontribusi sebanyak 81 persen dan produk teknolog berkontribusi sebesar 19 persen.

“Konsumen menunjukkan selera belanja yang lebih baik pada kuartal III-2024, meskipun masih lambat, baik untuk FMCG maupun consumer tech,” tutur Wiwy dalam keterangannya, Sabtu, 30 November.

Wiwy mengatakan khusus untuk FMCG, konsumen Indonesia menghabiskan sebanyak Rp208 triliun pada kuartal III-2024, naik 1,1 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Lebih lanjut, Wiwy mengatakan value pertumbuhannya juga naik dari 0,2 persen pada di kuartal II-2024 ke 1,1 persen di kuartal III-2024.

“Peningkatan pengeluaran untuk produk FMCG utamanya didorong oleh pengeluaran untuk produk beverages, seperti kopi, teh siap minum, air mineral, termasuk minuman yang perlu diseduh dulu, serta produk ambient food seperti makanan yang cukup disimpan di suhu ruangan seperti mi instan, minyak goreng, kecap, dan sebagainya,” jelasnya.

Selain itu, NIQ juga mencatat tumbuhnya pengeluaran di segmen beverages dan ambient food melebihi capaian pada kuartal II-2024. Dimana pengeluaran untuk beverages tumbuh 6 persen pada kuartal III-2024, atau naik 3,9 persen dari kuartal sebelumnya.

“Begitu juga pengeluaran untuk ambient food yang melonjak dari tumbuh 1,9 persen pada kuartal II-2024 menjadi 6,6 persen pada kuartal III-2024,” ucapnya.

Wiwy mengatakan kategori lain yang tumbuh signifikan dalam pengeluaran untuk produk-produk FMCG adalah snacking seperti biskuit, snack, dan cokelat, tumbuh dari 3,6 persen di kuartal II-2024 melonjak menjadi 9,5 persen pada kuartal III-2024.

“Sektor beverages dan ambient food adalah pendorong pertumbuhan FMCG, sementara produk IT dan telekomunikasi mendorong pertumbuhan consumer tech,” tutur Wiwy.

Secara rinci, sambung Wiwy, untuk pengeluaran konsumen pada barang-barang tech dan durables juga menunjukkan tren positif pada kuartal III-2024 dengan tumbuh 4,3 persen secara tahunan (yoy). Pertumbahan tersebut utamanya didorong oleh sektor technical consumer goods.

Berdasarkan data NIQ, pengeluaran di sektor ini menjadi yang tertinggi dengan kenaikan sebesar 6,2 persen pada kuartal III-2024 dan tumbuh 12,7 persen dari tahun lalu.

“Dan primadona di sektor ini adalah IT (PC dan tablet) dan Telco (smartphone), di mana konsumen lebih banyak membelanjakan uangnya untuk membeli produk PC atau tablet dan ponsel yang memberikan value lebih tinggi kepada mereka,” jelasnya.

Di sisi lain, kata Wiwy, pembelanjaan untuk produk-produk DIY & home improvement justru mengalami penurunan sebesar 14,8 persen, di mana belanja lampu LED menjadi kontributor terbesar yaitu turun paling tinggi sebesar 16,9 persen.

“Begitu juga pengeluaran untuk produk home appliance seperti perangkat rumah tangga meliputi mesin cuci, AC, kulkas turun 2,2 persen, dengan penurunan terbesar terjadi pada produk air conditioner -2,4 persen dan mesin cuci -5,4 persen,” katanya.

Secara keseluruhan, kata Wiwy, pertumbuhan pengeluaran untuk produk FMCG dan teknologi di kuartal III-2024 tersebut, sejalan dengan stabilitas perekonomian Indonesia, ditandai dengan inflasi yang terkendali di 1,8 persen dan pertumbuhan ekonomi 4,9 persen, dengan kenaikan 1,5 persen (qtoq) dibandingkan kuartal II-2024.

“Menjelang musim liburan akhir tahun, konsumen diperkirakan akan terus meningkatkan pengeluaran mereka sehingga menghasilkan pertumbuhan pasar yang lebih tinggi,” ucapnya.

JAKARTA - Masyarakat Indonesia tercatat menghabiskan sebesar Rp256 triliun untuk berbelanja produk keperluan sehari-hari atau fast moving consumer good (FMCG) hingga produk teknologi atau barang elektronik sepanjang kuartal III tahun ini.

Data tersebut berdasarkan laporan Retail Spend Barometer Indonesia yang dirilis oleh NielsenIQ (NIQ). Laporan NIQ ini memberikan gambaran menyeluruh terkait dengan belanja konsumen ritel di berbagai sektor di Indonesia.

Executive Director for Retail Vertical at NIQ in Indonesia, Wiwy Sasongko mengatakan dari total pengeluaran masyarakat Indonesia yang sebesar Rp256 triliun tersebut, produk FMCG berkontribusi sebanyak 81 persen dan produk teknolog berkontribusi sebesar 19 persen.

“Konsumen menunjukkan selera belanja yang lebih baik pada kuartal III-2024, meskipun masih lambat, baik untuk FMCG maupun consumer tech,” tutur Wiwy dalam keterangannya, Sabtu, 30 November.

Wiwy mengatakan khusus untuk FMCG, konsumen Indonesia menghabiskan sebanyak Rp208 triliun pada kuartal III-2024, naik 1,1 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Lebih lanjut, Wiwy mengatakan value pertumbuhannya juga naik dari 0,2 persen pada di kuartal II-2024 ke 1,1 persen di kuartal III-2024.

“Peningkatan pengeluaran untuk produk FMCG utamanya didorong oleh pengeluaran untuk produk beverages, seperti kopi, teh siap minum, air mineral, termasuk minuman yang perlu diseduh dulu, serta produk ambient food seperti makanan yang cukup disimpan di suhu ruangan seperti mi instan, minyak goreng, kecap, dan sebagainya,” jelasnya.

Selain itu, NIQ juga mencatat tumbuhnya pengeluaran di segmen beverages dan ambient food melebihi capaian pada kuartal II-2024. Dimana pengeluaran untuk beverages tumbuh 6 persen pada kuartal III-2024, atau naik 3,9 persen dari kuartal sebelumnya.

“Begitu juga pengeluaran untuk ambient food yang melonjak dari tumbuh 1,9 persen pada kuartal II-2024 menjadi 6,6 persen pada kuartal III-2024,” ucapnya.

Wiwy mengatakan kategori lain yang tumbuh signifikan dalam pengeluaran untuk produk-produk FMCG adalah snacking seperti biskuit, snack, dan cokelat, tumbuh dari 3,6 persen di kuartal II-2024 melonjak menjadi 9,5 persen pada kuartal III-2024.

“Sektor beverages dan ambient food adalah pendorong pertumbuhan FMCG, sementara produk IT dan telekomunikasi mendorong pertumbuhan consumer tech,” tutur Wiwy.

Secara rinci, sambung Wiwy, untuk pengeluaran konsumen pada barang-barang tech dan durables juga menunjukkan tren positif pada kuartal III-2024 dengan tumbuh 4,3 persen secara tahunan (yoy). Pertumbahan tersebut utamanya didorong oleh sektor technical consumer goods.

Berdasarkan data NIQ, pengeluaran di sektor ini menjadi yang tertinggi dengan kenaikan sebesar 6,2 persen pada kuartal III-2024 dan tumbuh 12,7 persen dari tahun lalu.

“Dan primadona di sektor ini adalah IT (PC dan tablet) dan Telco (smartphone), di mana konsumen lebih banyak membelanjakan uangnya untuk membeli produk PC atau tablet dan ponsel yang memberikan value lebih tinggi kepada mereka,” jelasnya.

Di sisi lain, kata Wiwy, pembelanjaan untuk produk-produk DIY & home improvement justru mengalami penurunan sebesar 14,8 persen, di mana belanja lampu LED menjadi kontributor terbesar yaitu turun paling tinggi sebesar 16,9 persen.

“Begitu juga pengeluaran untuk produk home appliance seperti perangkat rumah tangga meliputi mesin cuci, AC, kulkas turun 2,2 persen, dengan penurunan terbesar terjadi pada produk air conditioner -2,4 persen dan mesin cuci -5,4 persen,” katanya.

Secara keseluruhan, kata Wiwy, pertumbuhan pengeluaran untuk produk FMCG dan teknologi di kuartal III-2024 tersebut, sejalan dengan stabilitas perekonomian Indonesia, ditandai dengan inflasi yang terkendali di 1,8 persen dan pertumbuhan ekonomi 4,9 persen, dengan kenaikan 1,5 persen (qtoq) dibandingkan kuartal II-2024.

“Menjelang musim liburan akhir tahun, konsumen diperkirakan akan terus meningkatkan pengeluaran mereka sehingga menghasilkan pertumbuhan pasar yang lebih tinggi,” ucapnya.

JAKARTA - Masyarakat Indonesia tercatat menghabiskan sebesar Rp256 triliun untuk berbelanja produk keperluan sehari-hari atau fast moving consumer good (FMCG) hingga produk teknologi atau barang elektronik sepanjang kuartal III tahun ini.

Data tersebut berdasarkan laporan Retail Spend Barometer Indonesia yang dirilis oleh NielsenIQ (NIQ). Laporan NIQ ini memberikan gambaran menyeluruh terkait dengan belanja konsumen ritel di berbagai sektor di Indonesia.

Executive Director for Retail Vertical at NIQ in Indonesia, Wiwy Sasongko mengatakan dari total pengeluaran masyarakat Indonesia yang sebesar Rp256 triliun tersebut, produk FMCG berkontribusi sebanyak 81 persen dan produk teknolog berkontribusi sebesar 19 persen.

“Konsumen menunjukkan selera belanja yang lebih baik pada kuartal III-2024, meskipun masih lambat, baik untuk FMCG maupun consumer tech,” tutur Wiwy dalam keterangannya, Sabtu, 30 November.

Wiwy mengatakan khusus untuk FMCG, konsumen Indonesia menghabiskan sebanyak Rp208 triliun pada kuartal III-2024, naik 1,1 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Lebih lanjut, Wiwy mengatakan value pertumbuhannya juga naik dari 0,2 persen pada di kuartal II-2024 ke 1,1 persen di kuartal III-2024.

“Peningkatan pengeluaran untuk produk FMCG utamanya didorong oleh pengeluaran untuk produk beverages, seperti kopi, teh siap minum, air mineral, termasuk minuman yang perlu diseduh dulu, serta produk ambient food seperti makanan yang cukup disimpan di suhu ruangan seperti mi instan, minyak goreng, kecap, dan sebagainya,” jelasnya.

Selain itu, NIQ juga mencatat tumbuhnya pengeluaran di segmen beverages dan ambient food melebihi capaian pada kuartal II-2024. Dimana pengeluaran untuk beverages tumbuh 6 persen pada kuartal III-2024, atau naik 3,9 persen dari kuartal sebelumnya.

“Begitu juga pengeluaran untuk ambient food yang melonjak dari tumbuh 1,9 persen pada kuartal II-2024 menjadi 6,6 persen pada kuartal III-2024,” ucapnya.

Wiwy mengatakan kategori lain yang tumbuh signifikan dalam pengeluaran untuk produk-produk FMCG adalah snacking seperti biskuit, snack, dan cokelat, tumbuh dari 3,6 persen di kuartal II-2024 melonjak menjadi 9,5 persen pada kuartal III-2024.

“Sektor beverages dan ambient food adalah pendorong pertumbuhan FMCG, sementara produk IT dan telekomunikasi mendorong pertumbuhan consumer tech,” tutur Wiwy.

Secara rinci, sambung Wiwy, untuk pengeluaran konsumen pada barang-barang tech dan durables juga menunjukkan tren positif pada kuartal III-2024 dengan tumbuh 4,3 persen secara tahunan (yoy). Pertumbahan tersebut utamanya didorong oleh sektor technical consumer goods.

Berdasarkan data NIQ, pengeluaran di sektor ini menjadi yang tertinggi dengan kenaikan sebesar 6,2 persen pada kuartal III-2024 dan tumbuh 12,7 persen dari tahun lalu.

“Dan primadona di sektor ini adalah IT (PC dan tablet) dan Telco (smartphone), di mana konsumen lebih banyak membelanjakan uangnya untuk membeli produk PC atau tablet dan ponsel yang memberikan value lebih tinggi kepada mereka,” jelasnya.

Di sisi lain, kata Wiwy, pembelanjaan untuk produk-produk DIY & home improvement justru mengalami penurunan sebesar 14,8 persen, di mana belanja lampu LED menjadi kontributor terbesar yaitu turun paling tinggi sebesar 16,9 persen.

“Begitu juga pengeluaran untuk produk home appliance seperti perangkat rumah tangga meliputi mesin cuci, AC, kulkas turun 2,2 persen, dengan penurunan terbesar terjadi pada produk air conditioner -2,4 persen dan mesin cuci -5,4 persen,” katanya.

Secara keseluruhan, kata Wiwy, pertumbuhan pengeluaran untuk produk FMCG dan teknologi di kuartal III-2024 tersebut, sejalan dengan stabilitas perekonomian Indonesia, ditandai dengan inflasi yang terkendali di 1,8 persen dan pertumbuhan ekonomi 4,9 persen, dengan kenaikan 1,5 persen (qtoq) dibandingkan kuartal II-2024.

“Menjelang musim liburan akhir tahun, konsumen diperkirakan akan terus meningkatkan pengeluaran mereka sehingga menghasilkan pertumbuhan pasar yang lebih tinggi,” ucapnya.

JAKARTA - Masyarakat Indonesia tercatat menghabiskan sebesar Rp256 triliun untuk berbelanja produk keperluan sehari-hari atau fast moving consumer good (FMCG) hingga produk teknologi atau barang elektronik sepanjang kuartal III tahun ini.

Data tersebut berdasarkan laporan Retail Spend Barometer Indonesia yang dirilis oleh NielsenIQ (NIQ). Laporan NIQ ini memberikan gambaran menyeluruh terkait dengan belanja konsumen ritel di berbagai sektor di Indonesia.

Executive Director for Retail Vertical at NIQ in Indonesia, Wiwy Sasongko mengatakan dari total pengeluaran masyarakat Indonesia yang sebesar Rp256 triliun tersebut, produk FMCG berkontribusi sebanyak 81 persen dan produk teknolog berkontribusi sebesar 19 persen.

“Konsumen menunjukkan selera belanja yang lebih baik pada kuartal III-2024, meskipun masih lambat, baik untuk FMCG maupun consumer tech,” tutur Wiwy dalam keterangannya, Sabtu, 30 November.

Wiwy mengatakan khusus untuk FMCG, konsumen Indonesia menghabiskan sebanyak Rp208 triliun pada kuartal III-2024, naik 1,1 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Lebih lanjut, Wiwy mengatakan value pertumbuhannya juga naik dari 0,2 persen pada di kuartal II-2024 ke 1,1 persen di kuartal III-2024.

“Peningkatan pengeluaran untuk produk FMCG utamanya didorong oleh pengeluaran untuk produk beverages, seperti kopi, teh siap minum, air mineral, termasuk minuman yang perlu diseduh dulu, serta produk ambient food seperti makanan yang cukup disimpan di suhu ruangan seperti mi instan, minyak goreng, kecap, dan sebagainya,” jelasnya.

Selain itu, NIQ juga mencatat tumbuhnya pengeluaran di segmen beverages dan ambient food melebihi capaian pada kuartal II-2024. Dimana pengeluaran untuk beverages tumbuh 6 persen pada kuartal III-2024, atau naik 3,9 persen dari kuartal sebelumnya.

“Begitu juga pengeluaran untuk ambient food yang melonjak dari tumbuh 1,9 persen pada kuartal II-2024 menjadi 6,6 persen pada kuartal III-2024,” ucapnya.

Wiwy mengatakan kategori lain yang tumbuh signifikan dalam pengeluaran untuk produk-produk FMCG adalah snacking seperti biskuit, snack, dan cokelat, tumbuh dari 3,6 persen di kuartal II-2024 melonjak menjadi 9,5 persen pada kuartal III-2024.

“Sektor beverages dan ambient food adalah pendorong pertumbuhan FMCG, sementara produk IT dan telekomunikasi mendorong pertumbuhan consumer tech,” tutur Wiwy.

Secara rinci, sambung Wiwy, untuk pengeluaran konsumen pada barang-barang tech dan durables juga menunjukkan tren positif pada kuartal III-2024 dengan tumbuh 4,3 persen secara tahunan (yoy). Pertumbahan tersebut utamanya didorong oleh sektor technical consumer goods.

Berdasarkan data NIQ, pengeluaran di sektor ini menjadi yang tertinggi dengan kenaikan sebesar 6,2 persen pada kuartal III-2024 dan tumbuh 12,7 persen dari tahun lalu.

“Dan primadona di sektor ini adalah IT (PC dan tablet) dan Telco (smartphone), di mana konsumen lebih banyak membelanjakan uangnya untuk membeli produk PC atau tablet dan ponsel yang memberikan value lebih tinggi kepada mereka,” jelasnya.

Di sisi lain, kata Wiwy, pembelanjaan untuk produk-produk DIY & home improvement justru mengalami penurunan sebesar 14,8 persen, di mana belanja lampu LED menjadi kontributor terbesar yaitu turun paling tinggi sebesar 16,9 persen.

“Begitu juga pengeluaran untuk produk home appliance seperti perangkat rumah tangga meliputi mesin cuci, AC, kulkas turun 2,2 persen, dengan penurunan terbesar terjadi pada produk air conditioner -2,4 persen dan mesin cuci -5,4 persen,” katanya.

Secara keseluruhan, kata Wiwy, pertumbuhan pengeluaran untuk produk FMCG dan teknologi di kuartal III-2024 tersebut, sejalan dengan stabilitas perekonomian Indonesia, ditandai dengan inflasi yang terkendali di 1,8 persen dan pertumbuhan ekonomi 4,9 persen, dengan kenaikan 1,5 persen (qtoq) dibandingkan kuartal II-2024.

“Menjelang musim liburan akhir tahun, konsumen diperkirakan akan terus meningkatkan pengeluaran mereka sehingga menghasilkan pertumbuhan pasar yang lebih tinggi,” ucapnya.

JAKARTA - Masyarakat Indonesia tercatat menghabiskan sebesar Rp256 triliun untuk berbelanja produk keperluan sehari-hari atau fast moving consumer good (FMCG) hingga produk teknologi atau barang elektronik sepanjang kuartal III tahun ini.

Data tersebut berdasarkan laporan Retail Spend Barometer Indonesia yang dirilis oleh NielsenIQ (NIQ). Laporan NIQ ini memberikan gambaran menyeluruh terkait dengan belanja konsumen ritel di berbagai sektor di Indonesia.

Executive Director for Retail Vertical at NIQ in Indonesia, Wiwy Sasongko mengatakan dari total pengeluaran masyarakat Indonesia yang sebesar Rp256 triliun tersebut, produk FMCG berkontribusi sebanyak 81 persen dan produk teknolog berkontribusi sebesar 19 persen.

“Konsumen menunjukkan selera belanja yang lebih baik pada kuartal III-2024, meskipun masih lambat, baik untuk FMCG maupun consumer tech,” tutur Wiwy dalam keterangannya, Sabtu, 30 November.

Wiwy mengatakan khusus untuk FMCG, konsumen Indonesia menghabiskan sebanyak Rp208 triliun pada kuartal III-2024, naik 1,1 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Lebih lanjut, Wiwy mengatakan value pertumbuhannya juga naik dari 0,2 persen pada di kuartal II-2024 ke 1,1 persen di kuartal III-2024.

“Peningkatan pengeluaran untuk produk FMCG utamanya didorong oleh pengeluaran untuk produk beverages, seperti kopi, teh siap minum, air mineral, termasuk minuman yang perlu diseduh dulu, serta produk ambient food seperti makanan yang cukup disimpan di suhu ruangan seperti mi instan, minyak goreng, kecap, dan sebagainya,” jelasnya.

Selain itu, NIQ juga mencatat tumbuhnya pengeluaran di segmen beverages dan ambient food melebihi capaian pada kuartal II-2024. Dimana pengeluaran untuk beverages tumbuh 6 persen pada kuartal III-2024, atau naik 3,9 persen dari kuartal sebelumnya.

“Begitu juga pengeluaran untuk ambient food yang melonjak dari tumbuh 1,9 persen pada kuartal II-2024 menjadi 6,6 persen pada kuartal III-2024,” ucapnya.

Wiwy mengatakan kategori lain yang tumbuh signifikan dalam pengeluaran untuk produk-produk FMCG adalah snacking seperti biskuit, snack, dan cokelat, tumbuh dari 3,6 persen di kuartal II-2024 melonjak menjadi 9,5 persen pada kuartal III-2024.

“Sektor beverages dan ambient food adalah pendorong pertumbuhan FMCG, sementara produk IT dan telekomunikasi mendorong pertumbuhan consumer tech,” tutur Wiwy.

Secara rinci, sambung Wiwy, untuk pengeluaran konsumen pada barang-barang tech dan durables juga menunjukkan tren positif pada kuartal III-2024 dengan tumbuh 4,3 persen secara tahunan (yoy). Pertumbahan tersebut utamanya didorong oleh sektor technical consumer goods.

Berdasarkan data NIQ, pengeluaran di sektor ini menjadi yang tertinggi dengan kenaikan sebesar 6,2 persen pada kuartal III-2024 dan tumbuh 12,7 persen dari tahun lalu.

“Dan primadona di sektor ini adalah IT (PC dan tablet) dan Telco (smartphone), di mana konsumen lebih banyak membelanjakan uangnya untuk membeli produk PC atau tablet dan ponsel yang memberikan value lebih tinggi kepada mereka,” jelasnya.

Di sisi lain, kata Wiwy, pembelanjaan untuk produk-produk DIY & home improvement justru mengalami penurunan sebesar 14,8 persen, di mana belanja lampu LED menjadi kontributor terbesar yaitu turun paling tinggi sebesar 16,9 persen.

“Begitu juga pengeluaran untuk produk home appliance seperti perangkat rumah tangga meliputi mesin cuci, AC, kulkas turun 2,2 persen, dengan penurunan terbesar terjadi pada produk air conditioner -2,4 persen dan mesin cuci -5,4 persen,” katanya.

Secara keseluruhan, kata Wiwy, pertumbuhan pengeluaran untuk produk FMCG dan teknologi di kuartal III-2024 tersebut, sejalan dengan stabilitas perekonomian Indonesia, ditandai dengan inflasi yang terkendali di 1,8 persen dan pertumbuhan ekonomi 4,9 persen, dengan kenaikan 1,5 persen (qtoq) dibandingkan kuartal II-2024.

“Menjelang musim liburan akhir tahun, konsumen diperkirakan akan terus meningkatkan pengeluaran mereka sehingga menghasilkan pertumbuhan pasar yang lebih tinggi,” ucapnya.

JAKARTA - Masyarakat Indonesia tercatat menghabiskan sebesar Rp256 triliun untuk berbelanja produk keperluan sehari-hari atau fast moving consumer good (FMCG) hingga produk teknologi atau barang elektronik sepanjang kuartal III tahun ini.

Data tersebut berdasarkan laporan Retail Spend Barometer Indonesia yang dirilis oleh NielsenIQ (NIQ). Laporan NIQ ini memberikan gambaran menyeluruh terkait dengan belanja konsumen ritel di berbagai sektor di Indonesia.

Executive Director for Retail Vertical at NIQ in Indonesia, Wiwy Sasongko mengatakan dari total pengeluaran masyarakat Indonesia yang sebesar Rp256 triliun tersebut, produk FMCG berkontribusi sebanyak 81 persen dan produk teknolog berkontribusi sebesar 19 persen.

“Konsumen menunjukkan selera belanja yang lebih baik pada kuartal III-2024, meskipun masih lambat, baik untuk FMCG maupun consumer tech,” tutur Wiwy dalam keterangannya, Sabtu, 30 November.

Wiwy mengatakan khusus untuk FMCG, konsumen Indonesia menghabiskan sebanyak Rp208 triliun pada kuartal III-2024, naik 1,1 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Lebih lanjut, Wiwy mengatakan value pertumbuhannya juga naik dari 0,2 persen pada di kuartal II-2024 ke 1,1 persen di kuartal III-2024.

“Peningkatan pengeluaran untuk produk FMCG utamanya didorong oleh pengeluaran untuk produk beverages, seperti kopi, teh siap minum, air mineral, termasuk minuman yang perlu diseduh dulu, serta produk ambient food seperti makanan yang cukup disimpan di suhu ruangan seperti mi instan, minyak goreng, kecap, dan sebagainya,” jelasnya.

Selain itu, NIQ juga mencatat tumbuhnya pengeluaran di segmen beverages dan ambient food melebihi capaian pada kuartal II-2024. Dimana pengeluaran untuk beverages tumbuh 6 persen pada kuartal III-2024, atau naik 3,9 persen dari kuartal sebelumnya.

“Begitu juga pengeluaran untuk ambient food yang melonjak dari tumbuh 1,9 persen pada kuartal II-2024 menjadi 6,6 persen pada kuartal III-2024,” ucapnya.

Wiwy mengatakan kategori lain yang tumbuh signifikan dalam pengeluaran untuk produk-produk FMCG adalah snacking seperti biskuit, snack, dan cokelat, tumbuh dari 3,6 persen di kuartal II-2024 melonjak menjadi 9,5 persen pada kuartal III-2024.

“Sektor beverages dan ambient food adalah pendorong pertumbuhan FMCG, sementara produk IT dan telekomunikasi mendorong pertumbuhan consumer tech,” tutur Wiwy.

Secara rinci, sambung Wiwy, untuk pengeluaran konsumen pada barang-barang tech dan durables juga menunjukkan tren positif pada kuartal III-2024 dengan tumbuh 4,3 persen secara tahunan (yoy). Pertumbahan tersebut utamanya didorong oleh sektor technical consumer goods.

Berdasarkan data NIQ, pengeluaran di sektor ini menjadi yang tertinggi dengan kenaikan sebesar 6,2 persen pada kuartal III-2024 dan tumbuh 12,7 persen dari tahun lalu.

“Dan primadona di sektor ini adalah IT (PC dan tablet) dan Telco (smartphone), di mana konsumen lebih banyak membelanjakan uangnya untuk membeli produk PC atau tablet dan ponsel yang memberikan value lebih tinggi kepada mereka,” jelasnya.

Di sisi lain, kata Wiwy, pembelanjaan untuk produk-produk DIY & home improvement justru mengalami penurunan sebesar 14,8 persen, di mana belanja lampu LED menjadi kontributor terbesar yaitu turun paling tinggi sebesar 16,9 persen.

“Begitu juga pengeluaran untuk produk home appliance seperti perangkat rumah tangga meliputi mesin cuci, AC, kulkas turun 2,2 persen, dengan penurunan terbesar terjadi pada produk air conditioner -2,4 persen dan mesin cuci -5,4 persen,” katanya.

Secara keseluruhan, kata Wiwy, pertumbuhan pengeluaran untuk produk FMCG dan teknologi di kuartal III-2024 tersebut, sejalan dengan stabilitas perekonomian Indonesia, ditandai dengan inflasi yang terkendali di 1,8 persen dan pertumbuhan ekonomi 4,9 persen, dengan kenaikan 1,5 persen (qtoq) dibandingkan kuartal II-2024.

“Menjelang musim liburan akhir tahun, konsumen diperkirakan akan terus meningkatkan pengeluaran mereka sehingga menghasilkan pertumbuhan pasar yang lebih tinggi,” ucapnya.

JAKARTA - Masyarakat Indonesia tercatat menghabiskan sebesar Rp256 triliun untuk berbelanja produk keperluan sehari-hari atau fast moving consumer good (FMCG) hingga produk teknologi atau barang elektronik sepanjang kuartal III tahun ini.

Data tersebut berdasarkan laporan Retail Spend Barometer Indonesia yang dirilis oleh NielsenIQ (NIQ). Laporan NIQ ini memberikan gambaran menyeluruh terkait dengan belanja konsumen ritel di berbagai sektor di Indonesia.

Executive Director for Retail Vertical at NIQ in Indonesia, Wiwy Sasongko mengatakan dari total pengeluaran masyarakat Indonesia yang sebesar Rp256 triliun tersebut, produk FMCG berkontribusi sebanyak 81 persen dan produk teknolog berkontribusi sebesar 19 persen.

“Konsumen menunjukkan selera belanja yang lebih baik pada kuartal III-2024, meskipun masih lambat, baik untuk FMCG maupun consumer tech,” tutur Wiwy dalam keterangannya, Sabtu, 30 November.

Wiwy mengatakan khusus untuk FMCG, konsumen Indonesia menghabiskan sebanyak Rp208 triliun pada kuartal III-2024, naik 1,1 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Lebih lanjut, Wiwy mengatakan value pertumbuhannya juga naik dari 0,2 persen pada di kuartal II-2024 ke 1,1 persen di kuartal III-2024.

“Peningkatan pengeluaran untuk produk FMCG utamanya didorong oleh pengeluaran untuk produk beverages, seperti kopi, teh siap minum, air mineral, termasuk minuman yang perlu diseduh dulu, serta produk ambient food seperti makanan yang cukup disimpan di suhu ruangan seperti mi instan, minyak goreng, kecap, dan sebagainya,” jelasnya.

Selain itu, NIQ juga mencatat tumbuhnya pengeluaran di segmen beverages dan ambient food melebihi capaian pada kuartal II-2024. Dimana pengeluaran untuk beverages tumbuh 6 persen pada kuartal III-2024, atau naik 3,9 persen dari kuartal sebelumnya.

“Begitu juga pengeluaran untuk ambient food yang melonjak dari tumbuh 1,9 persen pada kuartal II-2024 menjadi 6,6 persen pada kuartal III-2024,” ucapnya.

Wiwy mengatakan kategori lain yang tumbuh signifikan dalam pengeluaran untuk produk-produk FMCG adalah snacking seperti biskuit, snack, dan cokelat, tumbuh dari 3,6 persen di kuartal II-2024 melonjak menjadi 9,5 persen pada kuartal III-2024.

“Sektor beverages dan ambient food adalah pendorong pertumbuhan FMCG, sementara produk IT dan telekomunikasi mendorong pertumbuhan consumer tech,” tutur Wiwy.

Secara rinci, sambung Wiwy, untuk pengeluaran konsumen pada barang-barang tech dan durables juga menunjukkan tren positif pada kuartal III-2024 dengan tumbuh 4,3 persen secara tahunan (yoy). Pertumbahan tersebut utamanya didorong oleh sektor technical consumer goods.

Berdasarkan data NIQ, pengeluaran di sektor ini menjadi yang tertinggi dengan kenaikan sebesar 6,2 persen pada kuartal III-2024 dan tumbuh 12,7 persen dari tahun lalu.

“Dan primadona di sektor ini adalah IT (PC dan tablet) dan Telco (smartphone), di mana konsumen lebih banyak membelanjakan uangnya untuk membeli produk PC atau tablet dan ponsel yang memberikan value lebih tinggi kepada mereka,” jelasnya.

Di sisi lain, kata Wiwy, pembelanjaan untuk produk-produk DIY & home improvement justru mengalami penurunan sebesar 14,8 persen, di mana belanja lampu LED menjadi kontributor terbesar yaitu turun paling tinggi sebesar 16,9 persen.

“Begitu juga pengeluaran untuk produk home appliance seperti perangkat rumah tangga meliputi mesin cuci, AC, kulkas turun 2,2 persen, dengan penurunan terbesar terjadi pada produk air conditioner -2,4 persen dan mesin cuci -5,4 persen,” katanya.

Secara keseluruhan, kata Wiwy, pertumbuhan pengeluaran untuk produk FMCG dan teknologi di kuartal III-2024 tersebut, sejalan dengan stabilitas perekonomian Indonesia, ditandai dengan inflasi yang terkendali di 1,8 persen dan pertumbuhan ekonomi 4,9 persen, dengan kenaikan 1,5 persen (qtoq) dibandingkan kuartal II-2024.

“Menjelang musim liburan akhir tahun, konsumen diperkirakan akan terus meningkatkan pengeluaran mereka sehingga menghasilkan pertumbuhan pasar yang lebih tinggi,” ucapnya.

JAKARTA - Masyarakat Indonesia tercatat menghabiskan sebesar Rp256 triliun untuk berbelanja produk keperluan sehari-hari atau fast moving consumer good (FMCG) hingga produk teknologi atau barang elektronik sepanjang kuartal III tahun ini.

Data tersebut berdasarkan laporan Retail Spend Barometer Indonesia yang dirilis oleh NielsenIQ (NIQ). Laporan NIQ ini memberikan gambaran menyeluruh terkait dengan belanja konsumen ritel di berbagai sektor di Indonesia.

Executive Director for Retail Vertical at NIQ in Indonesia, Wiwy Sasongko mengatakan dari total pengeluaran masyarakat Indonesia yang sebesar Rp256 triliun tersebut, produk FMCG berkontribusi sebanyak 81 persen dan produk teknolog berkontribusi sebesar 19 persen.

“Konsumen menunjukkan selera belanja yang lebih baik pada kuartal III-2024, meskipun masih lambat, baik untuk FMCG maupun consumer tech,” tutur Wiwy dalam keterangannya, Sabtu, 30 November.

Wiwy mengatakan khusus untuk FMCG, konsumen Indonesia menghabiskan sebanyak Rp208 triliun pada kuartal III-2024, naik 1,1 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Lebih lanjut, Wiwy mengatakan value pertumbuhannya juga naik dari 0,2 persen pada di kuartal II-2024 ke 1,1 persen di kuartal III-2024.

“Peningkatan pengeluaran untuk produk FMCG utamanya didorong oleh pengeluaran untuk produk beverages, seperti kopi, teh siap minum, air mineral, termasuk minuman yang perlu diseduh dulu, serta produk ambient food seperti makanan yang cukup disimpan di suhu ruangan seperti mi instan, minyak goreng, kecap, dan sebagainya,” jelasnya.

Selain itu, NIQ juga mencatat tumbuhnya pengeluaran di segmen beverages dan ambient food melebihi capaian pada kuartal II-2024. Dimana pengeluaran untuk beverages tumbuh 6 persen pada kuartal III-2024, atau naik 3,9 persen dari kuartal sebelumnya.

“Begitu juga pengeluaran untuk ambient food yang melonjak dari tumbuh 1,9 persen pada kuartal II-2024 menjadi 6,6 persen pada kuartal III-2024,” ucapnya.

Wiwy mengatakan kategori lain yang tumbuh signifikan dalam pengeluaran untuk produk-produk FMCG adalah snacking seperti biskuit, snack, dan cokelat, tumbuh dari 3,6 persen di kuartal II-2024 melonjak menjadi 9,5 persen pada kuartal III-2024.

“Sektor beverages dan ambient food adalah pendorong pertumbuhan FMCG, sementara produk IT dan telekomunikasi mendorong pertumbuhan consumer tech,” tutur Wiwy.

Secara rinci, sambung Wiwy, untuk pengeluaran konsumen pada barang-barang tech dan durables juga menunjukkan tren positif pada kuartal III-2024 dengan tumbuh 4,3 persen secara tahunan (yoy). Pertumbahan tersebut utamanya didorong oleh sektor technical consumer goods.

Berdasarkan data NIQ, pengeluaran di sektor ini menjadi yang tertinggi dengan kenaikan sebesar 6,2 persen pada kuartal III-2024 dan tumbuh 12,7 persen dari tahun lalu.

“Dan primadona di sektor ini adalah IT (PC dan tablet) dan Telco (smartphone), di mana konsumen lebih banyak membelanjakan uangnya untuk membeli produk PC atau tablet dan ponsel yang memberikan value lebih tinggi kepada mereka,” jelasnya.

Di sisi lain, kata Wiwy, pembelanjaan untuk produk-produk DIY & home improvement justru mengalami penurunan sebesar 14,8 persen, di mana belanja lampu LED menjadi kontributor terbesar yaitu turun paling tinggi sebesar 16,9 persen.

“Begitu juga pengeluaran untuk produk home appliance seperti perangkat rumah tangga meliputi mesin cuci, AC, kulkas turun 2,2 persen, dengan penurunan terbesar terjadi pada produk air conditioner -2,4 persen dan mesin cuci -5,4 persen,” katanya.

Secara keseluruhan, kata Wiwy, pertumbuhan pengeluaran untuk produk FMCG dan teknologi di kuartal III-2024 tersebut, sejalan dengan stabilitas perekonomian Indonesia, ditandai dengan inflasi yang terkendali di 1,8 persen dan pertumbuhan ekonomi 4,9 persen, dengan kenaikan 1,5 persen (qtoq) dibandingkan kuartal II-2024.

“Menjelang musim liburan akhir tahun, konsumen diperkirakan akan terus meningkatkan pengeluaran mereka sehingga menghasilkan pertumbuhan pasar yang lebih tinggi,” ucapnya.

JAKARTA - The Indonesian people are recorded to have spent Rp256 trillion to shop for daily necessities or fast moving consumer good (FMCG) to technology or electronic products throughout the third quarter of this year.

The data is based on a Retailend Barometer Indonesia report released by NielsenIQ (NIQ). This NIQ report provides a comprehensive picture of retail consumer spending in various sectors in Indonesia.

Executive Director for Retail Vertical at NIQ in Indonesia, Wiwy Sasongko said that of the total expenditure of the Indonesian people of Rp256 trillion, FMCG products contributed 81 percent and technologist products contributed 19 percent.

"Consumers show a better spending appetite in the third quarter of 2024, although it is still slow, both for FMCG and consumer tech," Wiwy said in his statement, Saturday, November 30.

Wiwy said specifically for FMCG, Indonesian consumers spent as much as IDR 208 trillion in the third quarter of 2024, up 1.1 percent compared to the same period last year.

Furthermore, Wiwy said the growth value also rose from 0.2 percent in the second quarter of 2024 to 1.1 percent in the third quarter of 2024.

The increase in spending on FMCG products is mainly driven by spending on beverage products, such as coffee, ready-to- drink tea, mineral water, including drinks that need to be brewed first, as well as ambient food products such as foods that are sufficiently stored at room temperatures such as instant noodles, cooking oil, soy sauce, and so on, "he explained.

In addition, NIQ also noted that the growth in spending in the beverage and ambient food segments exceeded the achievement in the second quarter of 2024. Where spending on beverages grew 6 percent in the third quarter of 2024, or an increase of 3.9 percent from the previous quarter.

"Likewise, spending on ambient food has soared from growing 1.9 percent in the second quarter of 2024 to 6.6 percent in the third quarter of 2024," he said.

Wiwy said another category that grew significantly in spending on FMCG products was snacks such as biscuits, snacks, and chocolate, growing from 3.6 percent in the second quarter of 2024 to 9.5 percent in the third quarter of 2024.

"The beverages and ambient food sectors are FMCG growth drivers, while IT and telecommunication products encourage consumer tech growth," said Wiwy.

In detail, continued Wiwy, consumer spending on tech and durables also showed a positive trend in the third quarter of 2024 with an annual growth of 4.3 percent (yoy). This growth was mainly driven by the technical consumer goods sector.

Based on NIQ data, spending in this sector was the highest with an increase of 6.2 percent in the third quarter of 2024 and grew 12.7 percent from last year.

"And the prima donnas in this sector are IT (PC and tablets) and Telco (smartphones), where consumers spend more on buying PC or tablet and cellphone products that provide higher value to them," he explained.

On the other hand, said Wiwy, spending on DIY & home improvement products actually decreased by 14.8 percent, where LED light spending became the largest contributor, down the highest by 16.9 percent.

"Likewise, spending on home appliance products such as household appliances include washing machines, air conditioning, down refrigerators 2.2 percent, with the largest decline occurring in water conditioner products -2.4 percent and washing machines -5.4 percent," he said.

Overall, said Wiwy, the growth in spending on FMCG products and technology in the third quarter of 2024 was in line with Indonesia's economic stability, marked by controlled inflation at 1.8 percent and 4.9 percent economic growth, with an increase of 1.5 percent (qtoq) compared to the second quarter of 2024.

Towards the year-end holiday season, consumers are expected to continue to increase their spending so as to generate higher market growth," he said.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+