JAKARTA - Bank Indonesia (BI) terus memperkuat diplomasi ekonomi dan kerja sama internasional dalam menjaga stabilitas makro dan ketahanan sistem keuangan di tengah meningkatnya risiko global. Strategi ini disebut menjadi bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta menekankan bagaimana resiliensi perekonomian Indonesia dalam mengarungi ketidakpastian global.

"Kapal besar itu adalah kita, Indonesia. Dan ombak besar yang bertubi-tubi itu adalah gelombang tekanan eksternal yang sepanjang 2025 terus menghantam perekonomian global. Namun, ketahanan kapal Indonesia tetap terjaga," kata Filianingsih, dikutip dari keterangan tertulis, Selasa, 9 Desember.

Menghadapi prospek ekonomi global 2026-2027 yang masih tertekan, Filianingsih mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 diperkirakan masih bertumbuh konsisten dalam kisaran 4,7 persen hingga 5,5 persen dan diprakirakan meningkat pada 2026-2027.

Ia menambahkan resiliensi ini ditopang konsumsi yang solid, investasi yang membaik, serta ekspor yang tetap positif. Stabilitas nilai tukar rupiah relatif terjaga, cadangan devisa tetap kuat, dan inflasi berada dalam sasaran.

"Kondisi tersebut mencerminkan upaya Bank Indonesia untuk terus membaca arah angin, mencermati dinamika global sebagaimana awak kapal memantau rasi bintang dan memastikan bahan bakar selalu cukup, sehingga Indonesia dapat terus melaju meski dikelilingi ombak ketidakpastian," ujarnya.

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) terus memperkuat diplomasi ekonomi dan kerja sama internasional dalam menjaga stabilitas makro dan ketahanan sistem keuangan di tengah meningkatnya risiko global. Strategi ini disebut menjadi bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta menekankan bagaimana resiliensi perekonomian Indonesia dalam mengarungi ketidakpastian global.

"Kapal besar itu adalah kita, Indonesia. Dan ombak besar yang bertubi-tubi itu adalah gelombang tekanan eksternal yang sepanjang 2025 terus menghantam perekonomian global. Namun, ketahanan kapal Indonesia tetap terjaga," kata Filianingsih, dikutip dari keterangan tertulis, Selasa, 9 Desember.

Menghadapi prospek ekonomi global 2026-2027 yang masih tertekan, Filianingsih mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 diperkirakan masih bertumbuh konsisten dalam kisaran 4,7 persen hingga 5,5 persen dan diprakirakan meningkat pada 2026-2027.

Ia menambahkan resiliensi ini ditopang konsumsi yang solid, investasi yang membaik, serta ekspor yang tetap positif. Stabilitas nilai tukar rupiah relatif terjaga, cadangan devisa tetap kuat, dan inflasi berada dalam sasaran.

"Kondisi tersebut mencerminkan upaya Bank Indonesia untuk terus membaca arah angin, mencermati dinamika global sebagaimana awak kapal memantau rasi bintang dan memastikan bahan bakar selalu cukup, sehingga Indonesia dapat terus melaju meski dikelilingi ombak ketidakpastian," ujarnya.

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) continues to strengthen economic diplomacy and international cooperation in maintaining macro stability and financial system resilience amid increasing global risks. This strategy is said to be an important part of efforts to strengthen national economic resilience.

BI Deputy Governor Filianingsih Hendarta emphasized how Indonesia's economic resilience in navigating global uncertainty.

"The big ship is us, Indonesia. And the big waves that are continuous are waves of external pressure that throughout 2025 continue to hit the global economy. However, the resilience of Indonesian ships is maintained," said Filianingsih, quoted from a written statement, Tuesday, December 9.

Facing the global economic outlook for 2026-2027 which is still under pressure, Filianingsih said, Indonesia's economic growth in 2025 is estimated to still grow consistently in the range of 4.7 percent to 5.5 percent and is predicted to increase in 2026-2027.

He added that this resilience was supported by solid consumption, improved investment, and positive exports. The stability of the rupiah exchange rate is relatively maintained, foreign exchange reserves remain strong, and inflation is on target.

"This condition reflects Bank Indonesia's efforts to continue to read the direction of the wind, observe global dynamics as ship crews monitor stellar constellations and ensure that fuel is always sufficient, so that Indonesia can continue to advance even though it is surrounded by waves of uncertainty," he said.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+