Umat Kristen Bangladesh Khawatir Hadapi 3 Teror Bom Melanda Gereja-Sekolah Katolik
JAKARTA - Kekhawatiran muncul dari minoritas Kristen di Bangladesh setelah tiga serangan bom brutal terhadap gereja dan sebuah sekolah Katolik di negara Asia Selatan tersebut.
Mengutip Straitstimes, Senin 10 November, serangan teror bom terjadi lebih dari sekali di Bangladesh dalam beberapa waktu terakhir.
Pada Jumat 7 November malam, gereja Katolik di Katedral St. Mary di Dhaka, dihantam bom rakitan yang meledak di luar gereja. Sekolah dan Kolese St. Joseph, sekitar lima kilometer jauhnya, juga diserang dengan bom.
Dua serangan bom itu tidak menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.
Katedral, yang menyelenggarakan Misa harian pukul 06.30, tetap dihadiri sekitar 500 umat yang menghadiri ibadah Sabtu pagi sebagai bagian juga dari menentang ancaman serangan teroris tersebut.
Pada hari Minggu waktu setempat, kepolisian menyatakan serangan bom itu dipastikan dirancang untuk menebar teror.
Hingga saat ini tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas insiden tersebut atau menjelaskan mengapa komunitas Kristen, yang berjumlah sekitar 500.000 orang dari 170 juta penduduk Bangladesh, menjadi sasaran.
"Kami sedang mencoba untuk memastikan apakah insiden-insiden ini saling terkait atau terisolasi — insiden-insiden ini jelas ditujukan untuk menakut-nakuti orang," kata juru bicara kepolisian Dhaka, Muhammad Talebur Rahman, kepada AFP.
Seorang jemaat gereja mengatakan pada hari Minggu bahwa ada "perasaan mencekam" di dalam komunitas tersebut saat melakukan ibadah.
"Kecemasan mencengkeram banyak dari kita saat pergi ke gereja," kata lulusan universitas berusia 25 tahun itu, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.
Sebelumnya, teror bom melanda Bangladesh pada 8 Oktober 2025. Kala itu, sebuah bom rakitan dilemparkan ke gereja tertua di ibu kota Bangladesh, Gereja Katolik Rosario Suci, yang didirikan oleh Portugis pada abad ke-17.
Situasi dan kondisi politik di Bangladesh tidak menentu sejak pemberontakan mematikan menggulingkan pemerintahan otokratis Sheikh Hasina lebih dari setahun yang lalu.
Polisi Bangladesh bulan ini juga menawarkan hadiah uang tunai bagi mereka yang sukarela menyerahkan lebih dari 1.300 senapan mesin, senapan, dan pistol yang dijarah selama pemberontakan tersebut.