JAKARTA - Piala Dunia 2026 mulai jadi panggung besar bagi merek-merek China. Bukan hanya untuk memasang logo di stadion, tetapi juga untuk memperkenalkan teknologi, merebut perhatian penonton digital, dan memperkuat posisi di pasar global.
Mengutip laporan China Daily, Kamis, 28 Mei, turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada 12 Juni hingga 20 Juli 2026 itu diperkirakan menarik lebih dari 6 miliar penonton di seluruh dunia.
Paparan Piala Dunia 2026 juga diproyeksikan naik 20 persen dibanding edisi sebelumnya, menurut survei perusahaan teknologi periklanan global The Trade Desk.
Bagi perusahaan China, Piala Dunia kini lebih dari sekadar etalase iklan. Ajang ini menjadi jalan untuk memperkuat pengenalan merek lewat teknologi, platform streaming, media sosial, dan iklan digital yang lebih terarah.
“Ajang olahraga papan atas membantu merek China memasuki tahap globalisasi yang lebih maju,” kata Wang Xueli, Direktur Pusat Pengembangan Industri Olahraga Universitas Tsinghua.
Menurut Wang, perusahaan China dulu banyak memakai ajang besar untuk membangun kesadaran merek dasar. Kini, targetnya naik kelas: memperkuat posisi di pasar menengah hingga atas dan menunjukkan kemampuan teknologi.
BACA JUGA:
Perubahan cara menonton ikut membuka peluang baru. Survei The Trade Desk menemukan setidaknya sepertiga penonton akan mengikuti pertandingan lewat banyak kanal, dari televisi, aplikasi olahraga, TV terhubung, platform streaming, sampai video pendek.
Di Amerika Utara, 45 persen responden Amerika Serikat dan 47 persen responden Kanada menyatakan akan memakai aplikasi olahraga untuk mengikuti Piala Dunia. Lebih dari 40 persen responden di kedua negara juga berencana menonton lewat TV terhubung dan platform streaming.
Ashley Wu, Direktur Senior Pengembangan Bisnis The Trade Desk China, mengatakan Piala Dunia tidak lagi hanya hidup selama 90 menit pertandingan.
Menurut Ashley Wu, turnamen itu kini menjadi ekosistem konten panjang, mulai dari pemanasan sebelum laga, interaksi langsung, hingga percakapan setelah pertandingan.
Perubahan ini membuat merek kecil ikut punya ruang. Dulu, Piala Dunia lebih banyak dikuasai sponsor multinasional dengan dana besar untuk papan iklan stadion dan hak penamaan.
Kini, iklan berbasis AI, platform streaming, dan media sosial memungkinkan perusahaan dengan anggaran lebih kecil menjangkau konsumen secara lebih spesifik.
“Pemasaran olahraga tidak lagi hanya soal mensponsori tim atau membeli ruang papan iklan,” kata Wu. “Bahkan merek tanpa anggaran besar kini dapat menjangkau audiens yang sangat spesifik melalui kampanye multikanal.”
Platform seperti TikTok dan Instagram juga memperluas jangkauan konten sepak bola. Penontonnya tidak lagi hanya penggemar inti sepak bola, tetapi juga anak muda dan perempuan.
Survei The Trade Desk mencatat perempuan kini menyumbang hampir separuh penonton di sejumlah pasar Eropa. Sementara itu, audiens Gen Z di Spanyol dan Italia menunjukkan tingkat keterlibatan di atas 90 persen.
Merek besar China juga masuk lebih dalam ke operasi turnamen. Hisense menjadi mitra resmi teknologi layar untuk sistem asisten wasit video atau VAR. Perusahaan itu akan memasok layar RGB Mini LED untuk pusat VAR FIFA.
Lenovo juga menyiapkan lebih dari 10.000 perangkat dan lebih dari 200 insinyur di seluruh 16 lokasi pertandingan. Perusahaan itu membawa teknologi digital twin berbasis AI, yakni teknologi yang bisa membuat replika virtual 3D pemain dan situasi pertandingan.
Menurut China Daily, pola ini menunjukkan perubahan cara perusahaan China masuk ke ajang olahraga dunia. Mereka tidak lagi sekadar membeli ruang iklan di pinggir lapangan.
“Perusahaan China tidak lagi sekadar membeli papan iklan di sekitar stadion,” kata Wang. “Mereka menjadi bagian dari infrastruktur teknologi di balik ajang olahraga internasional besar.”
Di tengah tarif, ketegangan geopolitik, dan ekonomi dunia yang tidak menentu, olahraga tetap menjadi ruang yang relatif aman untuk membangun citra global.
Wu mengatakan olahraga masih menjadi salah satu topik global yang positif dan punya ikatan emosional kuat.
Bagi merek China, Piala Dunia 2026 bukan hanya soal dilihat miliaran penonton. Ajang ini juga menjadi cara untuk menunjukkan bahwa mereka mulai masuk ke bagian penting di balik penyelenggaraan turnamen, terutama lewat teknologi dan layanan digital.