Bagikan:

JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong pemanfaatan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) ritel sebagai alternatif bahan bakar di tengah melimpahnya pasokan gas domestik dan tingginya ketergantungan impor LPG.

Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Komersialisasi dan Transportasi Migas, Satya Hangga Yudha Widya Putra mengatakan, Indonesia saat ini memiliki surplus produksi gas mencapai 2.500 MMCSFD yang berpotensi dimanfaatkan untuk sektor transportasi hingga logistik.

“Pemanfaatan LNG menjadi opsi transisi yang potensial untuk menggantikan BBM seperti solar dan Pertalite,” kata Hangga dilansir ANTARA, Selasa, 26 Mei.

Menurut dia, pasokan LNG nasional diproyeksikan terus meningkat seiring masuknya sejumlah proyek migas besar, mulai dari Blok Andaman-Arun, pengembangan Bontang melalui Geng North, Blok Geliga dan Gula, FLNG Genting, hingga proyek INPEX Masela.

Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi persoalan defisit LPG karena produksi dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional.

Direktur SPM Saxa Wiza Reyhan mengatakan Indonesia saat ini memproduksi LNG hingga 28,8 juta ton per tahun dengan kapasitas nasional mencapai 35,9 MTPA.

Namun, pada saat yang sama impor LPG masih mencapai 6,91 juta metrik ton.

“Optimalisasi LNG domestik bisa menjadi solusi strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional,” ujarnya.

Sebagai implementasi, Elenji memperkenalkan LNG retail non-pipeline melalui tabung vessel gas liquid (VGL) berkapasitas 175 liter untuk menggantikan LPG nonsubsidi di sektor industri dan komersial.

Menurut perusahaan, satu tabung VGL setara dua tabung LPG 50 kilogram dengan sejumlah keunggulan seperti kebutuhan ruang lebih kecil, tekanan rendah, efisiensi operasional, dan frekuensi pengisian ulang yang lebih sedikit.

Komisaris Utama SPM Marcus Daniel Lelerury mengatakan sistem LNG berbasis VGL juga lebih fleksibel karena dapat didistribusikan tanpa jaringan pipa.

“Model ini portabel, modular, scalable, dan cocok untuk distribusi antarpulau menggunakan kapal maupun truk tangki,” katanya.

SPM juga mengklaim penggunaan LNG di fasilitas SPBG Gandul, Cinere, Depok mampu menekan biaya energi industri hingga 26 persen.