MAKASSAR - Bank Indonesia (BI) menilai penerapan skema Local Currency Transaction (LCT) semakin relevan di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian.
Adapun, penguatan transaksi menggunakan mata uang lokal dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sekaligus meningkatkan efisiensi perdagangan internasional.
Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia Ruth A. Cussoy Intama menyampaikan bahwa kerja sama bilateral melalui skema LCT perlu terus diperluas, terutama setelah kebijakan ekonomi terbaru yang diterapkan pemerintah AS.
“Local Currency Transaction ini menurut kami merupakan salah satu inisiatif yang perlu terus dikembangkan, apalagi sejak Presiden AS menerapkan Liberation Day. Jadi sudah saatnya kita memperkuat kerja sama bilateral melalui skema LCT,” ujarnya dalam Pelatihan Wartawan, Jumat 22 Mei.
Menurut data BI per April 2026, rata-rata jumlah pelaku LCT per bulan mencapai 5.265 pelaku atau meningkat tajam dibandingkan 497 pelaku pada 2021 dan 1.741 pelaku pada 2022.
Selain itu, tren pertumbuhan terus berlanjut menjadi 2.602 pelaku pada 2023, serta 5.020 pelaku pada 2024 dan pada 2025, jumlah pelaku LCT sempat menyentuh rata-rata 9.720 pelaku per bulan.
Ruth menilai penguatan LCT menjadi langkah penting untuk memperluas penggunaan mata uang domestik dalam perdagangan antarnegara dan transaksi menggunakan mata uang lokal dapat menjadi alternatif yang lebih efisien tanpa harus selalu melalui dolar AS sebagai mata uang perantara.
Menurut Ruth, sejumlah negara mulai mempercepat kerja sama bilateral penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi melalui bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD) dan Indonesia disebut menjadi salah satu negara yang cukup agresif mendorong implementasi LCT dan mulai mendapat pengakuan dari negara-negara mitra.
"Oh udah saatnya untuk kita secara bilateral melakukan (LCT) ini, tadinya ya mungkin tar sok-tar sok, mungkin Indonesia belum dianggap satu harus dan sebagainya, dengan pertimbangan tertentu mereka pasti punya pertimbangan tertentu, seperti kita juga, tetapi akhirnya mereka menyadari, ayo deh kita segerakan," katanya
"Nah ini hal-hal seperti ini yang terasa sehingga kami melihat LCT ini syukurnya Indonesia termasuk yang cukup gigih untuk memperjuangkan dan sekarang diakui oleh negara-negara," tambahnya.
Selain peningkatan jumlah pelaku, nilai transaksi LCT juga mengalami lonjakan signifikan yaitu hingga April 2026, total transaksi tercatat sebesar 22,61 miliar dolar AS atau tumbuh 309 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 7,33 miliar dolar AS.
Adapun kenaikan tersebut menunjukkan semakin luasnya penggunaan mata uang lokal dalam transaksi ekonomi dan keuangan internasional.
Ruth menyampaikan langkah ini juga dinilai mampu mengurangi dampak gejolak global, terutama akibat fluktuasi dolar AS, terhadap sistem perdagangan dan keuangan antarnegara.
Meski demikian, Ruth menegaskan bahwa Indonesia tidak meninggalkan dolar AS sepenuhnya, karena dolar masih menjadi mata uang utama dalam transaksi global.
"Ini kita bisa lihat nih volumenya volumenya ini naik tajam ini mendorong diversifikasi mata uang bahwa gak harus semua itu lewat US dolar, bukan berarti kita menghindari dolar AS nggak, karena kita tahu global itu (transaksi masih) dolar AS," tuturnya.
"Tetapi untuk negara-negara yang memang transaksinya banyak langsung dengan bisa domestik, kenapa kita harus pakai dolar dulu karena kalau muter, namanya muter, udah pasti ada middleman, udah pasti gak efisien, mungkin itu inti dari LCT sebenarnya,” katanya.
Adapun saat ini, mitra utama Indonesia dalam implementasi LCT meliputi China, Japan, dan Malaysia yaitu kontribusi transaksi terbesar berasal dari China sebesar 89 persen, disusul Jepang 6 persen dan Malaysia 3 persen.
BACA JUGA:
Selain itu, BI juga menilai skema LCT dapat menekan biaya transaksi perdagangan bilateral, memperluas diversifikasi mata uang, memperdalam pasar keuangan regional, serta meningkatkan partisipasi pelaku usaha di kawasan.
Ruth menjelaskan implementasi LCT Indonesia dimulai sejak 2018 bersama Malaysia dan Thailand, kemudian diperluas ke Jepang, China, dan Korea Selatan.
Sementara itu, ia menambahkan bahwa kerja sama dengan Singapore dan India masih dalam tahap finalisasi pedoman operasional, serta dalam waktu dekat, BI juga berencana mengimplementasikan LCT dengan Saudi Arabia.