JAKARTA - Produsen mobil listrik Vietnam, VinFast, sedang mencoba meringankan beban utangnya yang besar. Caranya, VinFast memilih menjual bisnis manufakturnya sambil memindahkan utang sekitar US$7 miliar ke pihak lain. Dengan asumsi kurs sekitar Rp17.700 per dolar AS, nilai US$7 miliar itu setara kira-kira Rp124 triliun.
Dilaporkan Kyodo News yang mengutip Reuters, Jumat, 22 Mei, langkah ini memicu pertanyaan soal tata kelola bisnis di konglomerasi Vingroup milik miliarder Vietnam, Pham Nhat Vuong.
Dalam kesepakatan yang diumumkan pekan lalu, VinFast akan menjual bisnis manufakturnya di Vietnam senilai 13,3 triliun dong atau sekitar US$506 juta. Investor pembeli juga akan mengambil alih utang sekitar US$6,9 miliar.
Lewat skema itu, VinFast ingin berubah menjadi perusahaan dengan model “asset-light”. Artinya, perusahaan lebih fokus pada riset dan pengembangan kendaraan listrik, sementara urusan produksi dilepas ke pihak lain.
Dengan unit manufaktur keluar dari pembukuan, VinFast disebut akan menjadi perusahaan yang nyaris bebas utang.
Namun, struktur transaksi ini dinilai rumit. “Dari sisi strategi dan finansial, langkah ini masuk akal. Namun dari sisi tata kelola, ada sejumlah tanda bahaya dan pertanyaan,” kata analis industri otomotif dari YCP Singapura, Mehdi Jaouadi.
BACA JUGA:
VinFast selama ini agresif berekspansi. Namun, perusahaan itu juga terus membakar uang. Tahun lalu, kerugiannya mencapai US$3,9 miliar atau sekitar Rp69 triliun. Sejak berdiri pada 2017, VinFast belum pernah mencetak laba.
Salah satu yang disorot analis adalah keterlibatan pengusaha properti Nguyen Hoai Nam. Bulan ini, Nam mengambil alih perusahaan yang akan membeli lebih dari 95 persen bisnis manufaktur VinFast.
Beberapa hari sebelum transaksi diumumkan, Nam juga menguasai perusahaan bernama Future Investment and Trading Development atau FIRD. Perusahaan ini sebelumnya terkait dengan Vingroup dan Vuong.
FIRD memegang paten kendaraan listrik generasi awal VinFast dan memiliki modal terdaftar sekitar US$4,6 miliar. Hampir 92 persen modal itu berasal dari Nam.
“Tidak jelas mengapa FIRD begitu cepat menjadi pembeli utama setelah perubahan kepemilikan ini,” kata Jaouadi.
Struktur transaksi juga berlapis. Bisnis manufaktur VinFast akan lebih dulu diambil alih oleh Vuong, FIRD, dan perusahaan lain bernama Ngoc Quy Investment and Trading Development sebelum kepemilikannya kembali diubah.
Saat transaksi selesai pada September, hanya FIRD dan Vuong yang tersisa sebagai pemilik. FIRD akan memegang 95,5 persen, sementara Vuong mempertahankan kurang dari 5 persen.
Vuong berada di dua sisi sekaligus dalam transaksi ini: sebagai penjual dan pembeli.
Meski melepas bisnis manufaktur di Vietnam, VinFast tetap mempertahankan pabrik perakitannya di Indonesia dan India, termasuk paten kendaraan listrik generasi terbaru mereka.
Saham VinFast turun sekitar 12 persen sejak rencana transaksi diumumkan pada 12 Mei.
Di sisi lain, ada juga yang melihat langkah ini sebagai cara memangkas biaya produksi kendaraan listrik yang mahal.
Analis otomotif Felipe Munoz mengatakan produsen mobil listrik kecil seperti VinFast bisa lebih fokus mengembangkan perangkat lunak dan teknologi jika proses manufaktur dialihdayakan.
Kesepakatan ini juga memunculkan kembali nama Foxconn, produsen kontrak asal Taiwan yang dikenal sebagai perakit iPhone. Pada 2021, Foxconn sempat mendekati Vingroup terkait lini produksi VinFast, tetapi tidak ada kesepakatan yang tercapai.
“Kami tidak memiliki rencana menjual fasilitas manufaktur VinFast di Vietnam kepada Foxconn atau produsen lain,” kata Vingroup dikutip Kyodo dari Reuter. Hingga laporan itu dimuat, Foxconn belum memberikan komentar.