Bagikan:

JAKARTA - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) membukukan nilai kontrak baru sebesar Rp2,53 triliun pada kuartal I-2026.

Komposisi kontrak baru WIKA pada periode tersebut didominasi oleh sektor industri penunjang konstruksi, khususnya precast industry sebesar Rp909,26 miliar.

Kemudian, diikuti sektor infrastruktur dan gedung, serta kontribusi dari sektor manufaktur, properti dan investasi. Perolehan kontrak baru tersebut berasal dari proyek pemerintah (APBN) dan swasta.

Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito mengatakan, perolehan kontrak baru tersebut menunjukkan kepercayaan yang terus terjaga terhadap WIKA dalam mengerjakan proyek-proyek strategis.

"Kami akan terus fokus pada proyek berkualitas dan memberikan nilai tambah sekaligus mendukung pencapaian Astacita pemerintah bagi masyarakat," ujar dia dikutip dari keterangan tertulis, Selasa, 5 Mei.

Dalam kontrak baru kuartal I-2026 tersebut, WIKA juga dipercaya untuk mengerjakan proyek Jalan Nasional Sibolga–Padang Sidempuan senilai Rp205,69 miliar.

Proyek itu bertujuan meningkatkan kualitas jaringan jalan nasional serta memperlancar mobilitas barang dan orang di wilayah Sumatera.

Hingga saat ini, progres penanganan darurat ruas tersebut telah mencapai sekitar 7 persen, dengan fokus utama pada pemulihan akses agar lalu lintas dapat kembali dilewati secara aman.

"Target penyelesaian penanganan darurat direncanakan pada Desember 2026, dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan stabilitas lereng di lokasi," katanya.

Lingkup pekerjaan utama WIKA dalam proyek tersebut meliputi beberapa pekerjaan krusial. Di antaranya, penggantian Jembatan Garoga 2, penanganan lereng atas di Goa Jepang serta penanganan Box Garoga 3.

Sementara itu, pekerjaan yang telah dilaksanakan meliputi pembersihan material longsor, perbaikan dan perkuatan lereng di beberapa titik, timbunan dan penguatan badan jalan, pemasangan rambu darurat hingga perbaikan drainase sementara.

"Saat ini pekerjaan yang sedang berlangsung mencakup stabilisasi lereng dengan metode soil nailing, pembangunan jalur sementara (detour), persiapan pemasangan jembatan bailey serta normalisasi saluran drainase," terang Agung.

Dalam pelaksanaannya, proyek tersebut menghadapi sejumlah tantangan, seperti curah hujan tinggi berpotensi memicu longsor susulan, keterbatasan akses mobilisasi akibat kondisi medan serta keterbatasan sumber material dan anggaran.

Untuk mengatasi hal tersebut, perseroan menerapkan metode percepatan, seperti quick response, perkuatan lereng (bronjong, DPT, soil nailing dan shotcrete), penggunaan material granular untuk stabilitas cepat serta pemanfaatan jembatan rangka baja guna mempercepat pemulihan akses di titik kritis.

Selain itu, pada Maret 2026, WIKA juga dipercaya untuk mengerjakan proyek rehabilitasi Sungai Tukka senilai Rp109,46 miliar dengan masa kontrak hingga 31 Desember 2026.

Pekerjaannya mencakup pengendalian prasarana Sungai Tukka, pembangunan sabodam serta pengendalian sedimen anak Sungai Tukka (Sungai Sigala-Gala).

Agung menyebut, pembangunan sabodam difungsikan sebagai penahan dan pengendali sedimen dan debris serta dilengkapi pembangunan retaining wall untuk melindungi bantaran sungai dari gerusan aliran air.

"Ke depan, kami akan terus mengembangkan portofolio proyek selektif, memperkuat sinergi antar lini bisnis serta mendorong inovasi guna menjaga pertumbuhan berkelanjutan dan berdaya saing tinggi," pungkasnya.