JAKARTA - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) berhasil menurunkan total utang usaha baik berbunga maupun dengan mitra kerja sebesar Rp6,26 triliun sepanjang kuartal II-2024 hingga kuartal II-2025.
Dengan pembayaran utang sebesar Rp6,26 triliun tersebut, maka total utang perseroan saat ini sebesar Rp33,6 triliun.
Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito merinci WIKA berhasil membayar pokok obligasi sukuk dan utang kreditur perbankan senilai Rp5,60 triliun sejak kuartal II-2024 hingga kuartal II-2025, dengan pendanaan yang bersumber dari kas operasional.
“Langkah ini mencerminkan pengelolaan kas operasional Perseroan yang disiplin dan mandiri, serta upaya konsisten Perseroan untuk terus menurunkan jumlah utang,” katanya dalam keterangan resmi, Rabu, 30 Juli.
Perseroan, sambung Agung, juga berhasil menurunkan utang usaha kepada mitra kerja sebesar Rp660 miliar hingga kuartal II-2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Perbaikan di sisi kas juga diperkuat dengan stream percepatan penagihan piutang bermasalah,” ujarnya.
Dengan membentuk Divisi Asset Management dan mengintensifkan proses litigasi serta mediasi, sambung Agung, WIKA berhasil menurunkan total piutang usaha sebesar Rp1,33 triliun sepanjang kuartal II-2024 hingga kuartal II-2025.
“Hal ini berkontribusi langsung terhadap likuiditas dan mengurangi ketergantungan terhadap pendanaan eksternal,” ucapnya.
Selain fokus melakukan perbaikan struktur keuangan, sejak 2023 perseroan juga telah menghentikan penggunaan fasilitas skema pinjaman talangan supplier, yang sebelumnya kerap digunakan perseroan sebagai salah satu sumber pendanaan proyek.
“Penghentian ini sejalan dengan komitmen Perseroan untuk menyelesaikan proyek dengan termin tanpa membebani neraca dengan kewajiban jangka pendek,” jelasnya.
Pada substream pemilihan proyek, sambung Agung, perseroan secara konsisten selektif melakukan project selection kontrak pekerjaan baru berbasis pembayaran bulanan atau monthly progress payment.
Saat ini kontrak berjalan perseroan berbasis pembayaran bulanan telah mencapai 96 persen dari seluruh kontrak berjalan Perseroan. Angka ini naik tajam dari posisi 35,5 persen di tahun 2019.
BACA JUGA:
“Mekanisme ini membantu menjaga arus kas Perseroan tetap sehat, sekaligus mencegah akumulasi utang kepada pemasok maupun pihak ketiga,” katanya.
Dari sisi keberlanjutan bisnis, peningkatan tata kelola dan efisiensi menyeluruh juga terus dijalankan melalui stream penurunan operating expense, antara lain melalui penerapan ERP, lean construction, digitalisasi proses bisnis dan kebijakan Negative Employee Growth yang berhasil menurunkan beban biaya operational expense hingga mencapai Rp18 miliar per bulan.
“Penerapan delapan substream ini menjadi bagian penting dari transformasi yang dilakukan WIKA. Penurunan utang usaha dan utang berbunga, pengelolaan kas secara tepat, peningkatan tata kelola dan penurunan opex melalui penerapan lean construction menjadi prioritas utama Perseroan dalam memastikan keberlanjutan bisnis yang lebih sehat dan kuat,” tuturnya.