JAKARTA - Pemanasan global mulai mengubah peta pertanian Jepang. Kota Matsuyama di Prefektur Ehime, yang lama dikenal sebagai sentra jeruk, kini pelan-pelan melirik komoditas baru: alpukat.
Seperti dilaporkan Kyodo News yang dikutip Selasa, 4 Mei, perubahan itu terlihat dari langkah Fuminori Arita. Petani 67 tahun ini dulu menanam iyokan, varietas jeruk khas Jepang. Sekitar 10 tahun lalu, ia beralih ke alpukat, buah yang ia sebut “sensitif dan sulit ditanam.
Justru di situ tantangannya. “Kegembiraan saat berhasil sangat besar,” kata Arita. Ia memulai dari bibit bantuan pemerintah kota. Kini, alpukat hasil panennya dijual sekitar 5.000 yen atau 32 dolar AS per kilogram.
Matsuyama tidak sekadar ikut tren. Kota ini sedang membaca iklim yang berubah. Suhu yang makin hangat membuat sebagian wilayah kurang ideal untuk jeruk, tetapi justru lebih cocok untuk alpukat.
Produksi alpukat Matsuyama mulai tumbuh sejak 2009. Dalam satu dekade terakhir, hasil panennya melonjak lebih dari 12 kali lipat. Dari sekitar 600 kilogram pada tahun fiskal 2015 menjadi sekitar 7.300 kilogram pada tahun fiskal 2024.
BACA JUGA:
Menurut Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Nasional Jepang, wilayah cocok untuk jeruk mandarin akan bergeser ke utara secara bertahap. Sebaliknya, daerah yang terlalu hangat untuk jeruk bisa menjadi lahan baru bagi alpukat.
Proyeksi lembaga yang berafiliasi dengan Kementerian Pertanian Jepang itu menyebut area yang sesuai untuk budidaya alpukat di Jepang dapat meluas 2,5 kali lipat atau lebih pada pertengahan abad ini.
Bagi Jepang, ini bukan sekadar urusan buah. Ini cara petani bertahan saat iklim berubah. Ketika suhu naik, pilihan tanaman ikut bergeser. Jeruk yang dulu jadi kebanggaan daerah kini mulai berbagi panggung dengan alpukat, si “mentega dari hutan”.
Upaya serupa juga berlangsung di Prefektur Shizuoka, Jepang bagian tengah. Pemerintah pusat menyiapkan program subsidi mulai tahun fiskal 2026 untuk mendorong daerah menanam komoditas yang lebih cocok dengan suhu tinggi.
Perubahan juga terlihat di daerah lain. Aomori, yang dikenal sebagai penghasil apel, mulai memperluas produksi persik. Oita ingin meningkatkan produksi anggur shine muscat.
Tatsumi Shiba, pejabat lembaga lokal yang memberi bimbingan pertanian di Matsuyama, mengatakan budidaya alpukat akan lebih mudah jika suhu minimum naik. “Kami berharap dapat meningkatkan budidaya,” kata Shiba dikutip Kyodo News. Ia juga berharap Matsuyama kelak dikenal sebagai kota alpukat.