JAKARTA – LRT Jabodebek menjadi alternatif masyarakat untuk melakukan mobilisasi di tengah gangguan operasional KRL yang terjadi di Bekasi.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatat jumlah pengguna transportasi tersebut mencapai 127.089 orang pada Selasa, 28 April, menjadi rekor tertinggi sejak mulai beroperasi.
Manager of Public Relations LRT Jabodebek, Radhitya Mardika mengatakan seiring dengan adanya penyesuaian operasional perjalanan kereta di kawasan tersebut, sebagian masyarakat beralih menggunakan LRT Jabodebek sebagai salah satu alternatif transportasi.
“Khususnya bagi pengguna dari wilayah Bekasi dan sekitarnya,” tuturnya dalam keterangan resmi, Rabu, 29 April.
Radhitya mengatakan di tengah dinamika operasional transportasi di wilayah Bekasi, manajemen LRT Jabodebek menyampaikan keprihatinan atas insiden yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur dan berharap proses penanganan berjalan optimal.
Terkait dengan peningkatan pengguna LRT Jabodebek, Radhitya bilang kemudahan akses menjadi salah satu faktor pendukung.
Jarak antara Stasiun Bekasi Timur dan Stasiun Jati Mulya yang sekitar 2,7 kilometer (km) memungkinkan masyarakat melanjutkan perjalanan secara praktis menggunakan LRT menuju Jakarta maupun kawasan lainnya.
Dia mengatakan tingginya mobilitas juga tercermin dari sejumlah stasiun dengan volume pengguna tertinggi, antara lain Stasiun Dukuh Atas dengan 18.764 pengguna, Stasiun Harjamukti 13.308 pengguna, Stasiun Kuningan 12.597 pengguna, Stasiun Jati Mulya 10.067 pengguna, serta Stasiun Cikoko 10.025 pengguna.
Tren positif tersebut berlanjut pada Rabu, 29 April hingga pukul 12.00 WIB dengan total sementara 50.735 pengguna, didominasi oleh Stasiun Harjamukti, Stasiun Jati Mulya, Stasiun Cikunir 1, Stasiun Bekasi Barat, dan Stasiun Cikoko.
Lebih lanjut, Radhitya bilang peningkatan ini menunjukkan peran LRT dalam menjaga kesinambungan mobilitas masyarakat.
“LRT Jabodebek hadir sebagai bagian dari sistem transportasi yang saling terhubung. Dalam situasi penyesuaian operasional, kami berupaya memastikan masyarakat tetap memiliki alternatif perjalanan yang selamat, nyaman, dan andal dengan waktu tempuh yang pasti,” ujarnya.
Kata Radhitya, keunggulan LRT Jabodebek juga didukung lokasi stasiun yang berada di titik strategis, seperti kawasan bisnis dan perkantoran di Pancoran, Rasuna Said, dan Setiabudi, serta kawasan dengan mobilitas tinggi seperti Ciliwung dan Taman Mini Indonesia Indah.
BACA JUGA:
Selain itu, integrasi antarmoda turut menjadi faktor penting. LRT Jabodebek terhubung dengan berbagai moda transportasi lain seperti KRL, MRT, TransJakarta, Whoosh, serta layanan angkutan lanjutan (feeder), sehingga memungkinkan perjalanan yang lebih terintegrasi tanpa ketergantungan pada kendaraan pribadi.
“Dengan berbagai keunggulan tersebut, LRT Jabodebek terus memperkuat perannya sebagai bagian dari ekosistem transportasi perkotaan yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan, sekaligus berkontribusi dalam menjaga kelancaran mobilitas masyarakat,” tuturnya.