JAKARTA - Harga minyak dunia masih bertahan di atas 105 dolar AS per barel setelah Selat Hormuz tetap tertutup. Jalur penting minyak global itu kini menjadi sumber masalah baru dalam konflik Amerika Serikat dan Iran.
Disadur dari The Independent, Jumat, 24 April, Brent naik 0,63 persen menjadi 105,73 dolar AS per barel pada Jumat. Minyak West Texas Intermediate atau WTI juga naik 0,32 persen menjadi 96,17 dolar AS.
Kenaikan itu terjadi saat AS dan Iran sama-sama menyita kapal. Iran menyita dua kapal kargo di Selat Hormuz pada Rabu dan menuntut kapal yang melintas mendapat izin Teheran. AS, di sisi lain, mencegat sejumlah tanker minyak Iran dan memblokade pelabuhan Iran sejak 13 April.
Gencatan senjata AS-Iran memang masih bertahan. Namun, di laut, ketegangan belum reda. Konflik bergeser menjadi adu blokade untuk menekan lawan di meja perundingan.
BACA JUGA:
Selat Hormuz bukan jalur biasa. Sebelum perang, sekitar 20 juta barel minyak dan produk minyak bumi lewat di sana setiap hari. Kepala Badan Energi Internasional Fatih Birol menyebut dunia kini menghadapi “ancaman keamanan energi terbesar dalam sejarah”.
“Hari ini, kita kehilangan 13 juta barel minyak per hari dan ada gangguan besar pada komoditas vital,” kata Birol kepada CNBC.
Commonwealth Bank of Australia menilai makin lama selat itu tertutup, makin besar ongkos ekonominya. Bank itu memperkirakan tekanan politik dan ekonomi bisa memaksa salah satu pihak mundur, meski risiko eskalasi militer tetap besar.
Pasar saham Asia bergerak campur aduk. Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik 0,3 persen, dan Nikkei Jepang menguat 0,45 persen. Namun, saham di Korea Selatan, China, dan Hong Kong melemah.
Di pasar berjangka, Nasdaq naik 0,6 persen dan S&P 500 naik 0,1 persen. Kontrak berjangka Eropa mengarah ke pembukaan yang lebih lemah.
Pasar uang relatif tenang. Euro turun ke 1,1684 dolar AS dan berpotensi melemah hampir 0,7 persen dalam sepekan. Pound sterling bertahan di 1,3469 dolar AS. Yen Jepang bergerak ke 159,78 per dolar AS, mendekati level 160 yang kerap dipandang rawan intervensi.
Investor kini menunggu keputusan bank sentral utama, termasuk Federal Reserve, Bank Sentral Eropa, dan Bank of England. Fokusnya jelas: bagaimana mereka menghadapi inflasi yang kembali ditekan harga energi.
Sementara, harga emas relatif stabil di 4.691,60 dolar AS per ons.