JAKARTA - Harga minyak turun pada Jumat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Iran telah membiarkan 10 kapal tanker minyak melintas melalui Selat Hormuz pada pekan ini sebagai “hadiah” bagi AS. Laporan CNBC pada Jumat, 27 Maret, menyebut, pernyataan itu memberi sinyal meredanya ketegangan, meski masih sementara, di salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia.
Patokan minyak mentah Brent turun 1,92 persen menjadi 105,94 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 1,76 persen ke level 92,82 dolar AS per barel.
Dalam rapat kabinet pada Kamis, Trump menyebut langkah tersebut sebagai isyarat itikad baik dari Teheran di tengah jalur diplomatik yang, menurut dia, masih berjalan. Ia mengatakan Iran semula akan meloloskan delapan kapal tanker minyak, lalu jumlahnya bertambah.
“Mereka kemudian meminta maaf atas sesuatu yang mereka katakan, lalu mengatakan, ‘Kami akan mengirim dua kapal lagi.’ Dan akhirnya menjadi 10 kapal,” kata Trump, seperti dikutip CNBC.
BACA JUGA:
Menurut laporan CNBC, pernyataan itu sekaligus menjelaskan ucapan Trump pada awal pekan ini bahwa Iran telah memberi “hadiah” terkait minyak dan gas, meski saat itu ia belum membeberkan rinciannya.
Pasar memantau ketat perkembangan di Selat Hormuz untuk melihat tanda gangguan atau penurunan eskalasi. Ketegangan antara Washington dan Teheran terus memicu gejolak harga energi. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur penting bagi arus minyak mentah dunia.
Ucapan Trump menunjukkan setidaknya sebagian pengiriman minyak masih bergerak melalui jalur tersebut. CNBC menyebut, kondisi itu berpotensi meredakan kekhawatiran pasar terhadap pasokan dalam jangka pendek.
Meski begitu, analis mengingatkan pasar minyak secara umum tetap makin rapuh walau ada pengiriman yang kembali berjalan. Kepala analis minyak Rystad Energy, Paola Rodriguez-Masiu, yang dikutip dari CNBC mengatakan pasar minyak bukan meremehkan gangguan di Selat Hormuz, melainkan sejauh ini masih mampu menyerap dampaknya.
Ia mengatakan, selama hampir empat pekan pasar bertahan karena ditopang surplus sebelum perang, minyak mentah yang masih berada di laut, serta cadangan kebijakan yang menjadi bantalan sementara dan menahan harga. Namun, fase itu dinilai mulai berakhir.
Berdasarkan perkiraan Rystad, sistem pasokan global telah bergeser dari kondisi yang masih memiliki bantalan menjadi rapuh setelah berminggu-minggu kehilangan pasokan dan penyusutan persediaan. Hampir 17,8 juta barel minyak dan bahan bakar per hari yang biasanya mengalir melalui Selat Hormuz disebut telah terganggu. Total kehilangan cairan energi sejauh ini diperkirakan mendekati 500 juta barel.