Bagikan:

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, yang juga berdampak pada pelemahan mata uang di kawasan.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan data Bloomberg, per pukul 12.08 WIB, mata uang Garuda dipasar spot melemah 0,68 persen ke level Rp17.298 per dolar AS

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah masih sejalan dengan tren regional, dengan pelemahan secara year-to-date (ytd) mencapai sekitar 3,54 persen

Dalam merespons kondisi tersebut, ia menambahkan BI terus meningkatkan intensitas intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar.

Selain itu, Destry menyampaikan bank sentral juga memperkuat struktur suku bunga pada instrumen moneter berbasis pasar untuk mempertahankan daya tarik aset domestik, terutama di tengah dampak konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung.

"Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder," ujarnya dalam keterangannya, Kamis, 23 April.

Sementara itu, ia menambahkan posisi cadangan devisa tetap solid, tercatat sebesar 148,2 miliar dolar AS pada akhir Maret 2026.

Destry kembali menegaskan bahwa Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten serta terukur demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.