JAKARTA - PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) mengakui, tengah menghadapi gangguan ketersediaan pasokan bahan baku petrokimia seperti nafta dan elpiji imbas konflik di Timur Tengah.
Direktur Management Support PT Lotte Chemical Indonesia Cho Jin-Woo mengatakan, perusahaan saat ini juga tengah melakukan penyesuaian operasional untuk menjaga keberlanjutan produksi.
"LCI hingga saat ini masih beroperasi, namun dengan menurunkan tingkat produksinya dikarenakan rute pengadaan bahan baku telah diubah akibat hambatan logistik yang ada,", ujar dia dikutip dari keterangan tertulis, Kamis, 9 April.
Dengan kondisi tersebut, Cho menyoroti dan meminta sejumlah dukungan strategis dari pemerintah guna menjaga keberlangsungan pasokan bahan baku.
Dukungan tersebut meliputi penyederhanaan regulasi untuk mempercepat proses impor bahan baku dan penerapan bea masuk nol persen untuk elpiji sebagai bahan baku.
Kemudian, kata dia, perusahaan juga turut meminta bantuan fiskal sementara untuk mengimbangi lonjakan eksponensial dalam krisis rantai pasokan global.
"Kami berharap, pemerintah dapat membantu memastikan ketersediaan energi dan dukungan kebijakan tepat sasaran agar aktivitas produksi kami tetap berlanjut dan memberikan dampak positif bagi program hilirisasi," katanya.
Terlebih, lanjut dia, perusahaan juga memastikan distribusi pasokan diutamakan untuk memenuhi kebutuhan industri hilir nasional sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas.
Dukungan tersebut akan memberikan keamanan sangat penting, tidak hanya situasi saat ini, tetapi juga untuk industri domestik lebih luas pada masa depan.
"Dalam situasi penuh ketidakpastian ini, prioritas utama kami adalah menjaga keberlangsungan pasokan bagi industri dalam negeri. LCI terus mengoptimalkan seluruh sumber daya tersedia untuk meminimalkan dampak gangguan terhadap pelanggan sekaligus mendukung stabilitas sektor manufaktur nasional," terangnya.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian (,Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, peresmian pabrik baru Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Cilegon, Banten, merupakan bukti Indonesia masih menjadi tujuan utama investasi global.
Fasilitas baru yang diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto itu menandai realisasi komitmen investasi jangka panjang dari Lotte Group dan menjadi bukti kuatnya kepercayaan investor terhadap iklim industri di Indonesia, khususnya pada sektor kimia dasar.
"Pembangunan pabrik ini menunjukkan Indonesia masih menjadi destinasi utama investasi global di sektor manufaktur, terutama industri kimia dasar," ujar Agus dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 7 November.
Agus menjelaskan, keberadaan pabrik baru itu diharapkan semakin memperkuat sektor industri kimia, terutama petrokimia hulu yang menjadi tulang punggung bagi berbagai industri hilir, seperti farmasi, makanan dan minuman, elektronik hingga otomotif.
Proyek besutan perusahaan asal Korea Selatan tersebut memiliki nilai investasi sekitar 3,9 miliar dolar AS.
Pabrik tersebut mampu mengolah bahan baku naphta sebesar 3.200 kiloton per tahun (kTA), disertai tambahan gas minyak cair atau elpiji sebesar 0–50 persen sebagai bahan pendukung.
BACA JUGA:
Dari bahan baku tersebut, naphta diolah menjadi produk hulu antara lain; ethylene sebesar 1.000 kTA, propylene sebesar 520 kTA, mixed C4 sebesar 320 kTA, pyrolysis gasoline sebesar 675 kTA, pyrolysis fuel oil sebesar 26 kTA dan hidrogen sebesar 45 kTA.
Sementara itu, produk hilirnya terdiri atas; high density polyethylene (HDPE) sebanyak 250 kTA, linear low density polyethylene (LLDPE) sebanyak 200 kTA, polypropylene (PP) sebanyak 350 kTA, butadiene sebanyak 140 kTA, raffinate sebanyak 180 kTA serta benzene, toluene dan xylene (BTX) dengan total kapasitas 400 kTA.