Bagikan:

JAKARTA - Harga urea menembus US$700 per ton untuk pertama kali sejak 2022 di tengah masih tertutupnya Selat Hormuz. Kenaikan ini menunjukkan konflik di kawasan mulai berdampak ke pasar pupuk global, setelah jalur pelayaran penting itu terganggu akibat konflik di kawasan.

Menurut laporan Anadolu Agency yang dikutip Rabu, 8 April, harga urea naik 2 persen pada Selasa dan tercatat US$701,25 per ton pada pukul 16.45 GMT. Sejak perang Iran dimulai, harga pupuk ini telah melonjak sekitar 50 persen. Jika dihitung sejak awal tahun, kenaikannya sudah lebih dari 70 persen.

Selat Hormuz memegang peran penting dalam rantai pasok pupuk dunia. Sekitar 44 persen sulfur, 31 persen urea, 18 persen amonia, dan 15 persen fosfat melintasi kawasan itu. Gangguan di jalur ini ikut menekan distribusi komponen utama pupuk.

Selain penting bagi pupuk, Selat Hormuz juga merupakan salah satu jalur transit energi paling vital di dunia. Sekitar 20 juta barel minyak melintasi selat itu setiap hari.

Korps Garda Revolusi Islam Iran mengumumkan penutupan selat tersebut setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari. Sejak itu, kawasan berada dalam status siaga.

Hingga kini, lebih dari 1.340 orang dilaporkan tewas, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei. Otoritas Iran belum memperbarui jumlah korban dalam beberapa hari terakhir.

Teheran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan itu menimbulkan korban jiwa, merusak infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan.

Di tengah situasi itu, Presiden AS Donald Trump menetapkan tenggat hingga Selasa pukul 20.00 ET atau Rabu pukul 00.00 GMT bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jika tidak, AS mengancam akan menyerang infrastruktur penting Iran.