JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa nilai ekspor Indonesia pada Februari 2026 mencapai 22,17 miliar dolar AS atau meningkat sebesar 1,01 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) jika dibandingkan dengan Februari 2025 yang sebesar 21,94 miliar dolar AS.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa kenaikan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan ekspor non minyak dan gas (non migas), khususnya dari beberapa komoditas unggulan.
Di sisi lain, nilai ekspor migas tercatat sebesar 1,08 miliar dolar AS atau mengalami penurunan 4,25 persen dibandingkan Februari 2025 yang mencapai 1,13 miliar dolar AS.
Sementara itu, ekspor nonmigas mengalami peningkatan sebesar 1,3 persen (yoy) menjadi 21,09 miliar dolar AS, dari sebelumnya 20,82 miliar dolar AS pada Februari 2025.
"Peningkatan nilai ekspor Februari 2026 yoy itu didorong oleh kenaikan nilai ekspor nonmigas, yaitu pada beberapa komoditas, yakni komoditas terutama lemak dan minyak hewan/nabati naik cukup tinggi 16,19 persen. Ini memberikan andil terhadap peningkatan total ekspor sebesar 2,17 persen terhadap peningkatan total ekspor,” ucapnya dalam Konferensi Pers Neraca Dagang, Rabu, 1 April.
Selain itu, komoditas nikel dan barang daripadanya mencatat lonjakan sebesar 74,84 persen dengan kontribusi 1,84 persen. Adapun mesin, perlengkapan elektrik, dan bagiannya juga meningkat sebesar 28,43 persen dengan andil 1,21 persen.
BACA JUGA:
Secara kumulatif, nilai ekspor pada Januari hingga Februari 2026 mencapai 44,32 miliar dolar AS atau tumbuh 2,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 43,37 miliar dolar AS.
Untuk ekspor migas tercatat senilai 1,97 miliar dolar AS atau turun 9,75 persen (yoy) jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025 sebesar 2,18 miliar dolar AS.
Sementara itu, ekspor nonmigas mencapai 42,35 miliar dolar AS, naik 2,82 persen (yoy) dengan periode yang sama pada tahun 2025 sebesar 41,19 miliar dolar AS.