Bagikan:

TOKYO — Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan komitmen investasi dari Jepang ke Indonesia dalam rangkaian kunjungan kerja di Tokyo mencapai sekitar US$23,3 miliar. Nilai itu dinilai menjadi penanda bahwa kepercayaan Pemerintah Jepang dan pelaku usaha Jepang terhadap Indonesia masih kuat di tengah tekanan geopolitik dan geoekonomi global.

“Kepercayaan internasional dalam hal ini Pemerintah Jepang maupun para pengusaha Jepang terhadap Indonesia itu tetap besar, tetap komit,” kata Rosan di Jepang, Senin, 30 Maret.

Menurut Rosan, yang juga Ketua BPI Danantara ini, porsi terbesar berasal dari proyek bersama Pertamina dengan nilai sekitar US$20,9 miliar. Detail proyek itu, kata Rosan, akan dijelaskan lebih lanjut oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia karena mayoritas terkait proyek berdampak besar dengan Pertamina.

Selain itu, Rosan menyebut Danantara yang ia pimpin juga menandatangani kerja sama investasi dengan SMBC Aviation Leasing senilai sekitar US$800 juta. Pegadaian juga memperoleh pendanaan dari SMBC Bank sekitar Rp5 triliun atau sekitar US$300 juta.

Di sektor lain, ada pula investasi perusahaan estetika Two-Way dengan mitra Indonesia senilai US$500 juta. Sementara di sektor plasma darah, nilai investasi mencapai US$1 miliar. Rosan menyebut investasi ini menjadi yang kedua setelah investasi serupa dari SK Plasma, Korea Selatan.

“Kalau kita lihat dari total ini semua membuktikan bahwa Jepang tetap menjadi salah satu investor utama Indonesia,” ujarnya.

Rosan menambahkan, masih ada investasi lain yang ikut disepakati, termasuk ekspansi proyek panas bumi antara PT Supreme dan perusahaan Jepang, yang menurut Rosan melibatkan Sumitomo. Ia juga menyinggung financial closing proyek geothermal di Muara Laboh senilai sekitar US$900 juta, meski proyek itu tidak masuk dalam paket penandatanganan kali ini karena prosesnya sudah lebih dulu selesai.

Ia menegaskan, minat investor Jepang pada sektor energi baru terbarukan sangat besar. Karena itu, pemerintah berharap arus investasi dari Jepang tidak berhenti pada penandatanganan, tetapi berlanjut ke realisasi proyek.

Di tengah situasi global yang tidak stabil, angka ini menjadi pesan yang lebih penting dari sekadar seremoni bisnis: Jepang belum mundur dari Indonesia, dan sektor energi kini menjadi medan utama pertaruhannya.