JAKARTA - Arab Saudi mempercepat pengalihan ekspor minyak ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah setelah Selat Hormuz praktis tertutup sejak akhir Februari. Arab News, dikutip Kamis, 26 Maret melaporkan, Riyadh kini mendekati target pengiriman 5 juta barel per hari dari jalur Laut Merah untuk menjaga pasokan ke pasar global.
Gangguan di Hormuz menghentikan sekitar 15 juta barel per hari pengiriman minyak mentah yang biasanya keluar dari Teluk Arab. Akibatnya, harga minyak melonjak, kilang berebut pasokan, dan sejumlah bahan bakar mulai langka.
Arab Saudi menjadi satu dari hanya dua negara di kawasan yang mampu mengalihkan volume besar minyak tanpa melewati Hormuz. Jalur ini ditopang pipa Timur-Barat yang menghubungkan pusat pengolahan Abqaiq dengan Yanbu. Kapasitas nominal pipa ini 7 juta barel per hari, tetapi sekitar 2 juta barel dibutuhkan untuk memasok kilang di Riyadh, Yanbu, dan Jazan, serta pembangkit listrik dan fasilitas pengolahan air laut.
Data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg menunjukkan pengiriman ekspor dari terminal Yanbu South dan Yanbu North rata-rata mencapai 4,4 juta barel per hari dalam lima hari hingga 24 Maret. Arus minyak lewat Yanbu terus naik setelah Saudi mempercepat pengaliran pasokan ke Laut Merah.
BACA JUGA:
Namun jalur ini belum bisa menutup seluruh kehilangan. Seperti dilaporkan Arab News, dalam dua minggu lebih, ekspor dari Yanbu sudah naik lebih dari dua kali lipat. Meski begitu, pengalihan ini baru menutup sekitar separuh volume yang hilang dari Teluk Arab bulan ini. Bahkan jika target 5 juta barel per hari tercapai, total ekspor minyak Saudi masih sekitar 2 juta barel per hari di bawah tingkat sebelum perang.
Sekitar 56 juta barel minyak mentah Saudi juga masih tertahan di kapal tanker di kawasan Teluk. Muatan itu dimuat pada akhir Februari dan awal Maret, tetapi belum bisa melintasi Hormuz menuju perairan internasional.
Di dekat Yanbu, sedikitnya 40 kapal tanker menunggu giliran memuat minyak. Sebagian besar adalah kapal tanker sangat besar yang mampu mengangkut sekitar 2 juta barel per kapal. Sejumlah kapal juga mematikan sinyal sistem pelacakan kapal saat bergerak menuju pelabuhan Saudi, sehingga angka ekspor masih bisa berubah.
Sebagian besar pengiriman dari Yanbu kini bergerak ke Asia, terutama China dan India. Pasokan juga mengalir ke Korea Selatan, Pakistan, dan Thailand. Sementara pelanggan Jepang dipasok dari stok di Okinawa, tempat Saudi Aramco menyewa tangki berkapasitas 8,2 juta barel. Pada awal konflik, sebagian pengiriman dari Yanbu juga dialihkan ke utara menuju pipa Sumed di Mesir untuk melayani pasar Eropa dan pesisir timur Amerika Utara.