Bagikan:

JAKARTA - Konsumsi keramik di Indonesia disebut masih rendah ketimbang negara-negara Asia Tenggara (ASEAN). Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), konsumsi keramik domestik baru menyentuh angka 2,5 meter persegi per kapita.

Hal tersebut diungkap oleh Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam sambutannya pada acara Pelantikan Dewan Pengurus Asosiasi Industri Keramik Indonesia (Asaki) Periode 2026-2029 di kantor Kemenperin, Jakarta, Senin, 3 Februari.

"Konsumsi keramik per kapita di Indonesia masih berada pada kisaran 2,5 meter persegi per kapita. Ini di bawah, sekali lagi di bawah rata-rata negara ASEAN yang telah mencapai rata-rata konsumsi keramik per kapitanya 3-3,5 meter persegi per kapita," ungkap Agus.

Agus juga bilang, konsumsi keramik di Tanah Air tertinggal jauh dari Tiongkok yang telah mencapai angka 4 meter persegi per kapita.

"Serta kami tertinggal jauh dari negara-negara produsen utama seperti Tiongkok dan Vietnam yang telah mencapai konsumsi keramik per kapitanya 4 meter persegi," kata dia.

Menurut Agus, tingkat konsumsi keramik domestik itu sama halnya dengan rasio kepemilikan kendaraan yang juga masih rendah saat ini.

"Ini juga sama dengan car ownership ratio yang mana masih sangat rendah, car ownership ratio kami masih 99 mobil per 1.000 orang, sementara negara-negara lain sudah jauh lebih tinggi," ucapnya.

Oleh karena itu, Agus berharap agar lantai-lantai yang selama ini masih menggunakan tanah untuk segera beralih ke keramik. Hal tersebut diyakini bisa mendorong konsumsi keramik dalam negeri.

"Sebagai masukan saja, upaya kami meningkatkan rasio konsumsi keramik per kapita itu pasti akan membawa dampak, multiplier effect sangat positif. Artinya, kalau kami bisa mengganti ubin-ubin menjadi keramik, ubin-ubin yang selama ini masih tanah, masih ubin-ubin dari bahan lain, kami bisa ubah menjadi keramik tentu bisa memperoleh multiplier effect dalam konteks lingkungan," terang Agus.

Mantan Menteri Sosial itu menilai, penggunaan keramik juga diharapkan bisa menciptakan lingkungan bersih yang pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas.

"Hanya mengubah dari lantai dengan tanah ke ubin keramik, tentu manusia-manusia bisa lebih sehat, mereka akan bekerja lebih produktif dan sehat. Mereka juga akan bisa mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan kesehatan karena jarang ke dokter, jarang untuk harus beli obat-obatan, jarang terkena penyakit," jelas Agus.

"Bisa kami bayangkan hanya mengubah dari ubin berbasis tanah atau berbasis lain ke keramik, multiplier effect-nya bukan hanya pertumbuhan ekonomi, tapi bagi semua sangat-sangat tinggi," imbuhnya.