Bagikan:

JAKARTA - Holding BUMN aviasi dan pariwisata, PT Aviasi Pariwisata Indonesia atau InJourney menargetkan mampu menekan jejak karbon hingga 4.000 ton CO2 ekuivalen tahun ini melalui program transisi energi dan efisiensi lingkungan di seluruh ekosistem bisnisnya.

Direktur Utama InJourney, Maya Watono mengatakan skala bisnis holding yang terus meluas membuat kebutuhan pengelolaan emisi semakin mendesak. Dia bilang ada 37 bandara yang dikelola dengan kunjungan 157 juta orang lalu lalang.

Kemudian, sambung Maya, akan ada 106 hotel yang dikelola oleh InJourney Hospitality tahun ini dari 39 hotel saat ini.

“Jadi carbon footprint yang dihasilkan juga sangat banyak, tapi kami berusaha agar carbon footprint ini juga berkurang. Karena itu hari ini kami mem-pledge untuk mengurangi carbon emission 4.000 ton CO2, dan ini akan kami komitmen ini akan kami laksanakan di tahun ini,” kata Maya di Kantor InJourney, Sarinah, Jakarta, Senin, 19 Januari.

Maya memaparkan langkah pengurangan emisi tak dilakukan sepotong, tetapi menyeluruh lintas usaha dari udara hingga darat, dari terminal bandara hingga ruang hotel.

“Kita melaksanakannya dari berbagai sektor. Dari airport dengan solar panel, kita akan mengurangi listrik di airport. Lalu juga dari hotel waste management, semua destinasi kami akan kami ubah menjadi EV,” jelasnya.

Lebih lanjut, Maya mengatakan program reforestasi menjadi elemen kunci tambahan untuk absorpsi karbon.

“Lalu juga penanaman pohon, kami ada mangrove di Mandalika, ada berbagai penanaman pohon di berbagai aset. Jadi memang ini adalah suatu action yang tangible yang akan kami lakukan,” kata Maya.

Kata Maya, InJourney juga sudah memasuki tahun keempat sejak resmi berdiri pada 13 Januari 2022. Holding ini menjadi yang pertama diresmikan langsung Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai entitas multisektor yang menyatukan aviasi dan pariwisata negara.

“Waktu itu diresmikan oleh Pak Presiden Jokowi di Mandalika, satu-satunya holding BUMN yang diresmikan oleh Presiden, karena ini adalah satu-satunya holding yang dibentuk multisektor,” kata Maya.

Maya bilang InJourney membawahi deretan perusahaan pelat merah lintas industri, mulai dari InJourney Hospitality (HIN), InJourney Tourism Development Corporation (ITDC), InJourney Destination Management, hingga InJourney Airports yang merupakan hasil konsolidasi Angkasa Pura I dan II. Kemudian, Sarinah yang bergerak di sektor ritel, sebagai etalase produk UMKM terkurasi nasional.

“Pertama kalinya di Indonesia ada holding aviasi dan pariwisata dari hulu ke hilir. Biasanya holding BUMN itu pertambangan, perkebunan, single sector, tapi ini pertama kalinya dari hulu ke hilir,” ujarnya.